Akar Permasalahan Hutang (Part 1)

0
363
Menyelesaikan masalah dengan memahami akar Permasalahan

Masalah hutang bukan semata-mata karena faktor ekonomi tapi juga karena faktor mentalitas (karakter). Mentalitas ini mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam mendapatkan, mengelola, dan menumbuhkan uang. Lebih utama dari pada kedua faktor itu, menurut saya adalah faktor komitmen kepada sang Pencipta, Pemilik Rezeki.

Faktor Ekonomi

Pada dasarnya, semua yang dilahirkan di dunia ini telah dicukupi rezekinya oleh Allah SWT. Tanpa hutang pun, harusnya rezeki sudah cukup! Sesungguhnya secara ekonomi, kebutuhan manusia sudah dicukupkan sang Pemilik Rezeki. Perhatikan ayat-ayat Quran yang terkait soal ini.

“Dan tidak satu binatang melata yang bergerak di muka bumi, kecuali Allah telah menjamin rezekinya.” QS. Huud: 6

 “Kami memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka anak keturunanmu.” QS. Al-An’am: 151

Faktor ekonomi suatu negara seringkali dikaitkan dengan ekonomi keluarga dan perusahaan. Betul, kondisi ekonomi negara bisa berpengaruh, tapi menurut saya tidak signifikan terhadap ekonomi keluarga. Ambil contoh saat krisis ekonomi tahun 1997-1998 yang popular disebut Krismon (krisis moneter). Saat itu ekonomi negara dalam kondisi sulit, akibat nilai tukar rupiah terpuruk terhadap US dollar. Nilai rupiah yang semula Rp2.200 – 2,400 per 1 USD, mendadak menjadi hampir Rp16.000. Akibatnya barang-barang menjadi mahal.

Bagi orang berpenghasilan tetap, kebutuhan bulanan bisa terganggu. Inilah yang menentukan apakah keluarga itu selamat atau akan terlilit hutang. Ada pilihan untuk berhemat atau tetap mengkonsumsi sebagaimana biasanya. Bagi yang berhemat bisa selamat dari lilitan hutang. Dengan berhemat pasti menuntut perubahan kebiasaan hidup, dan perubahan gaya hidup. Kuncinya tidak gengsi!

Tapi sebaliknya, bagi yang tetap berperilaku normal, tentu defisit keuangannya. Bukan hanya faktor ekonominya, tapi sikap dan perilaku terhadap uang itu yang menentukan. Cara pandang dan perlakuan seseorang terhadap uang sangat menentukan apakah orang itu akan sejahtera, kaya atau selamat dari lilitan hutang.

Terkait dengan sikap dan perilaku, berikut ini saya berikan ilustrasi Hedonic Treadmil, sebuah tulisan yang saya terima dari sbuah group what’s up.

Hedonic Treadmill

Kenapa makin tinggi income seseorang, ternyata makin menurunkan peran uang dalam membentuk kebahagiaan? Kajian-kajian dalam ilmu financial psychology menemukan jawabannya, yang kemudian dikenal dengan nama: “hedonic treadmill”.

Gampangnya, hedonic treadmill  adalah seperti ini : saat gaji anda Rp5 juta, semuanya habis. Saat gaji anda naik 30 juta per bulan, eh semua habis juga. Kenapa begitu? Karena ekspektasi dan gaya hidup anda pasti ikut naik, sejalan dengan kenaikan penghasilan. Dengan kata lain, nafsu anda untuk membeli materi/barang mewah akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan income anda. Itulah kenapa disebut hedonic treadmill, seperti berjalan diatas treadmill, kebahagiaanmu tidak maju-maju!

Nafsu materi tidak akan pernah terpuaskan. Saat income Rp10 juta per bulan, mau naik mobil sedan. Saat income Rp50 juta per bulan pingin naik Alphard. Itu salah satu contoh sempurna tentang jebakan hedonic  treadmill. Hedonic treadmill membuat  ekspektasi anda  akan materi terus meningkat. Itulah kenapa kebahagiaan anda stagnan, meski income makin tinggi.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here