Akar Permasalahan Hutang (Part 3)

0
147

Faktor Komitmen Kepada sang Pencipta, Pemilik Rezeki.

Seberapa besar komitmen kita kepada sang Pencipta?. Komitmen inilah yang harus dijaga. Komitmen adalah janji yang apabila kita melanggarnya berarti merendahkan kehormatan diri sendiri. Yang paling pokok, komitmen itu kita buat sebelum dilahirkan. Saat di dalam kandungan kita telah membuat janji dan persaksian dihadapan Allah, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-A’raf : 172,

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Sekali lagi perhatikan, bahwa kita telah menyaksikan Allah itu sebagai Tuhan kita. Tidak ada Tuhan-Tuhan selain daripadaNya. Tapi apa yang kita lakukan saat ini? Kita lupa dengan janji itu. Sadar atau tidak sadar kita telah mengingkari janji itu dengan menjadikan ‘Tuhan-Tuhan’ lain berupa harta, kerja keras, ilmu dan lainnya. Kita menjadikan pikiran dan otak kita untuk membuat aturan sendiri dan mengabaikan aturanNya. Kita menciderai komitmen itu dengan melanggar apa yang dilarang dan mengabaikan apa yang diperintahkan. Inilah yang menjadikan kualitas hubungan dengan Allah menjadi tidak harmonis.

Inilah sesungguhnya akar dari segala permasalahan hidup termasuk hutang. Semua masalah tidak akan terjadi tanpa seizin Allah. Baik atau buruk yang kita alami pasti karena perbuatan dan kualitas kita dengan Allah SWT. Kalau kita selalu menjaga komitmen (bertaqwa) kepada Allah, maka Allah menjaga dari hal-hal buruk. Sebaliknya, kalau kita mengingkari komitmen maka Allah membiarkan kita mau berbuat apa saja (yang berakibat baik-buruk), terserah!

Ini kisah nyata bagaimana hubungan baik dengan sang Pencipta itu perlu dijaga.

Jadikan Akhirat Tujuan, Dunia Pasti Ngikut

Oktober 2014 lalu, teman saya, Ir. Latuharheri, MM yang sudah resign dari Manager CSR di bank BUMN cerita kepada saya, bahwa kehidupannya sekarang ini lebih banyak waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Shalat jamaahnya bisa ke masjid setiap waktu, ekonominya serba cukup. Serba pas katanya. Saat pingin ganti mobil baru, pas ada yang kasih diskon gede. Pas pingin beli tanah, pas juga ada rejekinya. Hal ini tentu sangat berbeda saat dia masih bekerja di bank. Saat itu seolah-olah tiap hari dikejar-kejar pekerjaan, kejar-kejar target. Meski gaji lumayan besar dengan pangkat setingkat manajer, tapi dia merasa masih saja kurang. Hutang ada segunung!

Setelah direnungkan, (menurutnya) karena selama ini dia selalu mendahulukan dunia (pekerjaan, bos/atasan) daripada Allah. Contoh kecil, saat jam istirahat makan siang, yang jadi sasaran pertama adalah makan rame-rame dengan teman sekantor, cewek cowok (bukan mahram), haha hihiketawa- ketiwi… hingga jam setengah 2 balik kantor. Nyampe di kantor, ‘pura-pura’ duduk di depan komputer, terus satu jam kemudian (jam setengah tiga) baru ‘menghadap’ kepada Nya. Padahal panggilan dari Maha Pencipta, sudah dia dengar sejak pukul 12.00. Demikian juga saat shalat Ashar, sudah mendekati maghrib. Shalat maghrib ‘dijamak’ di rumah, karena alasan kemacetan. Begitu rutinitas selama hampir 13 tahun ia jalani.

Tapi setelah dia pergi haji, dia balik rutinitas itu dengan mendahulukan Allah daripada yang lain. Maka jadilah kehidupannya sekarang serasa tenang, rejeki selalu cukup, dan yang lebih penting, dia merasa pekerjaan menjadi ringan. Tidak ada lagi kejar-kejaran dengan waktu, kejar-kejaran dengan target.  Kayaknya semua dibantu oleh Allah SWT. Bahkan, dia merasa kelebihan waktu, padahal penghasilan yang dia terima tidak kurang dari gajinya dulu, dengan berangkat pagi pulang petang.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here