Akar Permasalahan Hutang (Part 4)

0
157

Mendengar cerita itu, saya teringat hadis nabi. “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan akhir (yang utama), niscaya Allah akan menyibukkan dia dengan (urusan dunia itu), Allah pun akan membuatnya miskin seketika, dan ia akan tercatat (ditakdirkan) merana di dunia ini. Namun, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan akhirnya, Allah akan mengumpulkan teman-teman untuknya, Allah akan membuat hatinya kaya, dan dunia akan takluk serta menyerah kepadanya. (HR Ibnu Majah dan Turmudzi).

Wallahu a’lam…

Manusia memang aneh. Meski dia tahu yang menciptakan alam semesta termasuk dirinya adalah Allah SWT, tapi ia tidak menggunakan manual book (Quran – Hadist) sebagai panduan hidupnya. Manusia malah menjauhi aturanNya, mengacuhkan Allah, yang seharusnya lebih mendekat dan ‘mencari muka’ dihadapanNya. Mereka malah cari muka kepada atasan, kepada orang yang lebih sukses, lebih kaya, atau lebih berkuasa.

Aturan #2

Masalah kita sebenarnya bukan hanya masalah ekonomi. Bukan!.

Masalah kita, termasuk masalah keuangan (hutang)

adalah karena kita pada munafik dan fasik.

 

Kita sendiri yang membuat masalah karena menjauhkan diri dari Allah SWT. Kita sendiri yang merusak hubungan kita dengan Allah SWT.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit”. Q.S.Thaha : 120

Secara sederhana, semua masalah termasuk masalah hutang terjadi karena kita meninggalkan apa yang diperintahkan dan melakukan larangNya. Kita tidak shalat berjamaah di masjid, tidak sholat tahajud & witir, makan riba, mengutamakan pekerjaan daripada ibadah dan sebagainya. Saat adzan berkumandang, kita asyik dengan pekerjaan, asyik bermain, asyik nonton TV. Asyik main bola dan sebagainya. Padahal Allah memanggil hayya ‘alassholaah, hayya ‘alal falaah (mari sholat, mari menggapai kemenangan) bersama Allah. Kita malah mencari kemenangan dengan caranya sendiri. Kita menganggap panggilan adzan biasa saja. Seolah panggilan adzan tidak lebih penting dari kegiatan lain. Inilah yang merusak hubungan kita dengan Allah.

Demikian juga saat Allah mengajak memperbanyak rezeki dengan cara berinfaq dan sedekah, kita malah asyik mencari jalan riba. Astaghfirullah. Padahal, jelas sekali bahwa sedekah menyuburkan rezeki (ekonomi), sedangkan riba membawa kehancuran. Jelas sekali….

Perhatikan Q.S Al-Baqarah 275-279. “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here