Akar Permasalahan Hutang (Part 5)

0
87

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”

Jadi, seberapa besar komitmen kita untuk patuh kepadaNya? Kalau tidak berkomitmen kepadaNya, kepada siapa lagi kita berkomitmen? Adakah Tuhan selain Dia? Diantara komitmen yang harus dipegang teguh adalah meninggalkan riba. Sebab, Allah minta manusia meninggalkan riba. Jika tidak, Allah dan RasulNya akan memerangi. Serem kan? Sudah banyak manusia terpuruk akibat riba. Asal anda tahu, soal riba, bukan hanya Islam yang mengharamkan. Dalam literature agama samawi seperti Nasrani dan Yahudi, haramnya riba jelas dalam Injil dan Talmud. Dalam Quran, Allah memperingatkan kaum Yahudi untuk meninggalkan riba.

 “Karena kezaliman orang-orang yahudi, Kami haramkan bagi mereka makanan yang baik-baik yang (dahulu) pernah dihalalkan; dan karena mereka sering menghalangi (orang lain) dari jalan Allah. Dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir di antara mereka azab yang pedih”. (QS. An-Nisa’ : 160-161).

Seberapa besar komitmen kita untuk meninggalkan riba? Allah akan melihat keseriusan itu. Bila kita serius meninggalkan riba, InsyaAllah rezeki kita akan di jamin Allah. Allah akan bantu masalah keuangan, termasuk membantu keluar dari jerat hutang riba. Mari segera tinggalkan riba, sebab salah satu hilangnya keberkahan rezeki, penyebab masalah keuangan (hutang bermasalah) adalah riba.

Seringkali, sadar nggak sadar, kita lebih percaya (iman) kepada kemampuan, kecerdasan, dan kehebatan diri sendiri. Makanya hidup jadi berantakan. Sehebat-hebat manusia tetap saja otaknya cuman sebesar tempurung kelapa. Ia tetaplah sangat terbatas. Oleh karena itu geser fokus kepada Kekuasaan Allah. Serahkanlah kepadaNya sesuatu yang terlihat mata, pikiran dan otak sebagai sesuatu yang mustahil, supaya menjadi mungkin. Libatkan Allah sekecil apapun pekerjaan kita, supaya sesuatu yang kelihatan mustahil itu menjadi mudah. Apa-apa yang tidak mungkin, tiba-tiba  menjadi mungkin.

Serahkan mekanisme, desain, dan cara-cara hanya kepada kekuasaanNya. Sesuaikan frekuensi pikiran dan tindakan dengan ‘frekuensi’ yang dimau Allah. Ikuti perintahNya, jauhi laranganNya. Ikuti cara-cara salafus shalih dalam menyamakan frekuensi dengan Allah, yakni melalui shalat tepat waktu berjamaah di masjid, tahajud, sedekah dan lainnya. Jika sudah satu frekuensi dengan jalan Allah maka masalah apapun akan terurai, semustahil apapun menurut otak kita. Karena Allah turut campur membantu permasalahan kita. Kalau Allah sudah ‘turun tangan’, apa sih yang sulit? Tidak ada!. Sekali lagi, tidak ada yang sulit. Bagi Allah semua serba amat sangat sangat mudah.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here