Banyak Hutang Banyak Dusta

0
312

Dalam satu hadis diriwayatkan bahwa Baginda Rasulullah SAW kerap mengajarkan kepada umatnya agar berdoa dilepaskan dari hutang: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu daripada dosa dan hutang” Lalu baginda ditanya: “Mengapa engkau sering meminta perlindungan daripada hutang, wahai Rasulullah?” Baginda menjawab: “Jika seseorang berhutang, apabila berbicara dia dusta, apabila berjanji dia mengingkari.” (Hadis Riwayat Al-Bukhari, 1/214).

Kalau urusan bohong-berbohong dalam berhutang kayaknya sudah menjadi ‘kebiasaan’ bagi calon debitur maupun debitur. Bahkan bagi petugas banknya. Tentu, tidak semua calon debitur dan debitur suka berbohong. Namun sebagian besar mereka berbohong demi mendapatkan kreditnya. Misalnya kalau gaji tidak cukup untuk mendapatkan kredit Rp200 juta, dia melakukan pemalsuan slip gaji. Kalau dia baru bekerja setahun, dia berbohong sudah bekerja 3 tahun, sebagai syarat minimal mendapatkan kredit. Kalau mutasi transaksi rekeningnya tidak sesuai dengan laporan omset yang dilaporkan ke bank, mereka ‘menggoreng’ transaksi rekening. ‘Mengggoreng’ rekening dengan cara tarik setor, keluar masuk uang rekening, sehingga dalam sebulan, total transaksi dapat mencapai jumlah tertentu (sesuai omset penjualan dalam laporan keuangan).

Setelah menjadi debitur, saat tidak memiliki uang untuk mengangsur, dia berbohong terjadi begini-begitu sehingga belum ada uang angsuran. Padahal yang terjadi sesungguhnya karena kesalahan dia dalam mengelola keuangan. Bisa jadi karena kebanyakan hutang, bisa juga karena secara hitung-hitungan gaji atau penghasilan bisnisnya tidak cukup untuk mendapatkan kredit. Begitulah…., kebohongan-kebohongan menjadi teman setiap saat.

Tidak hanya debitur atau orang yang berhutang melakukan kebohongan-kebohongan. Petugas bank pun tidak kalah dalam hal berbohong. Lho kok bisa? Begini ceritanya. Bagi analis kredit maupun unit-unit yang menangani kredit di sebuah bank selalu diberikan target penyaluran kredit. Sementara, bank juga memberikan rambu-rambu pengaman yang sangat ketat. Tujuannya sangat jelas. Kredit tersalurkan dengan baik, sementara keamanan bank tetap terjaga. Kredit tersalurkan dengan kualitas baik, tidak ada yang macet.

Maka muncul gab antara keinginan bank menyalurkan sesuai target, sementara ketentuan rigid (sangat ketat) tidak mudah dipenuhi oleh petugas bank. Misalnya, seringkali perusahaan yang memiliki catatan dan kondisi keuangan baik, secara rumus hitung-hitungan bank justru tidak layak mendapatkan kredit modal kerja. Secara hitungan malah dianggap kelebihan modal kerja. Padahal secara keuangan diyakini mampu membayar kembali hutangnya. Karena itu, kalau petugas bank kaku menggunakan rumusan bank, maka permohonan kredit pasti ditolak. Karena itulah petugas bank ‘merekayasa’ agar secara hitung-hitungan keuangan bisa diterima bank. Laporan keuangan di otak-atik disesuaikan aturan bank. Jadinya dusta alias bohong….. (meski sebenarnya petugas bank tidak berniat jelek). Kalau cerita yang seperti ini masih ‘mending’ karena secara faktual calon debitur memang layak diberi kredit. Yang banyak terjadi justru banyak calon debitur tidak layak mendapatkan kredit tapi petugas bank memaksakan untuk menyetujuinya. Bisa jadi karena alasan kejar target, bisa juga ada udang dibalik batu atas keputusannya. Jadi, bohong lagi!

@safakmuhammad

fb@bebashutangtaiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here