Beli Barang Konsumtif: Kredit vs Tunai = Cerdas vs Jahil

0
192

Mana yang lebih bagus, membeli secara kredit atau tunai? Kalau menurut perencana keuangan, membeli barang secara kredit atau tunai tergantung dari barang apa yang akan dibeli. Kalau barang produktif dan properti ‘boleh’ dengan kredit. Tapi kalau membeli barang konsumtif seperti HP, kulkas, mobil dan sejenisnya sebaiknya dengan tunai. Saat ini, akibat gempuran iklan konsumtif dan lemahnya pertahanan syahwat manusia akhir zaman, maka apa pun belinya, bayarnya pakai kredit. Bahkan sampai urusan haji dan umrah pun ada yang pakai kredit.

Kalau saya menyarankan, apa pun keperluannya belilah tunai, kecuali untuk membeli rumah pertama (bila terpaksa boleh deh, pakai KPR syariah). Atau bisa juga dengan cara cash bertahap tanpa bunga (riba).

Gencarnya pemasaran kredit perbankan menawarkan kemudahan berhutang, mulai dari kredit tanpa DP, dan diskon besar-besaran, membuat semakin banyak masyarakat tergoda memanfaatkan fasilitas kredit untuk berbagai keperluan. Meski pada akhirnya penghasilan mereka terkuras setiap bulannya.

Kembali pada pertanyaan, untung mana membeli dengan kredit atau tunai? Berikut ini saya berikan ilustrasinya. Pak Rudi, seorang karyawan dengan gaji Rp5 juta sebulan. Istrinya tidak bekerja. Ia memiliki sepeda motor tahun 2009 masih layak pakai, tapi modelnya terlihat jadul, sehingga dia ingin motor baru. Ia menjual motornya dengan harga pasaran Rp4 juta. Ia memutuskan membeli motor X dengan harga on the road  Rp14,50 juta. Hasil penjualan motornya, untuk membayar DP Rp4 jutaan sehingga kreditnya Rp10,5 juta dengan jangka waktu 34 bulan.

Perhitungan pembelian kredit motor Rudi menjadi sbb:

Uang Muka (Dp)                     =  Rp4.200.000

Angsuran per bulan                = Rp510.000 x 34 = Rp17.340.000,-

Total pembayaran                  = Rp21.540.000 (harga motor Rp14.500.000)

Pada tahun ke-3  saat motor lunas, harga pasaran motor Rp8 jutaan. Jadi, pak Rudi mengalami potensial rugi sbb:

Bunga + asuransi selama 3 tahun Rp21.540.000,- dikurangi Rp14.500.000,- = Rp7.040.000,-

Penyusutan nilai motor 3 tahun Rp14.500.000,-  dikurangi Rp8.000.000,- = Rp6.500.000,-

Total penurunan nilai + bunga + asuransi = Rp13.540.000,-

Jadi, untuk beli motor baru Rudi harus merelakan uangnya ‘menguap’ Rp13.540.000,- dalam waktu 3 tahun atau Rp398 ribu perbulan. Ini berarti, kurang lebih 8% uang Rudi dikeluarkan untuk hal kurang efektif setiap bulannya.  Bayangkan, untuk membeli gengsi motor baru, Rudi harus merogoh kocek Rp13.540.000,- selama 3 tahun. Seandainya Rudi mampu menahan syahwatnya untuk tidak membeli motor baru, maka uang itu cukup untuk membeli barang atau investasi lain. Ini masih soal pembelian motor. Kalau barang lain seperti mobil, kulkas, HP, TV, furnitur, laptop/komputer juga dibeli dengan kredit, maka berapa juta tiap tahun uang yang hilang sia-sia? Banyak sekali…..

Baik, biar anda lebih ‘melek’ finansial, saya berikan lagi satu ilustrasi betapa besarnya kerugian, bila anda beli barang dan jasa dengan kartu kredit. Kartu kredit, kartu yang membuat anda merasa kaya, dengan bunga 3 – 4% perbulan atau setara 36-48% pertahun. Gila! Belum lagi, denda telatnya selangit, Rp75 – 150 ribu, ditambah lagi biaya admin bulanan. Bunga kartu kredit, bunga berbunga! Maksudnya? Jika kamu pakai hutang Rp5 juta, maka hitungannya seperti ini.

Rp5 juta + (4% x Rp5 juta) = Rp5,2 juta. Bisa dibayar minimum 10% atau Rp520 ribu.

Jika dibayar minimum Rp520 ribu, apakah sisa hutang anda bulan ke-2 adalah = Rp5.200.000 – 520.000 = Rp4.680.000,-? Tentu tidak. Tagihan bulan berikutnya adalah Rp4.680.000 + (Rp4.680.000 x 4% ) = Rp4.867.200,- Jika dibayar minimum Rp486.720,- maka sisa hutang anda saat itu Rp4.380.480,- dan seterusnya, nggak lunas-lunas.

Kapan akan lunas?  Jika anda berhutang Rp5 juta pakai kartu kredit, dan anda bayar minimum payment 10% tiap bulan, maka butuh waktu kurang lebih 5 tahun untuk bener-bener lunas! Tunggu dulu, itu dengan asumsi anda tidak nambah lagi hutang tiap bulannya. Hitungan itu belum termasuk biaya lain-lain seperti,

  1. Membership fee tahunan Rp300.000,-
  2. Denda keterlambatan Rp75.000 s/d 150.000
  3. Asuransi bulanan Rp50.000,-
  4. Materai Rp6.000

Jadi berapa lama? Silahkan hitung sendiriJ Yang jelas, gesek kartu kredit untuk membeli barang konsumtif adalah tindakan bodoh. Maaf, bahasanya agak kasar, tapi menurut saya itulah bahasa yang pantas untuk perilaku tersebut.

Cara pembelian kredit sudah menjadi hal yang biasa bagi sebagian besar masyarakat, mulai dari kelas bawah hingga kelas menengah atas. Hal ini yang membuat orang terjerat hutang seumur hidup. Bahkan saat pensiun pun, ada PNS menggadaikan SK pensiun untuk mendapatkan kredit. Karena itu, untuk keperluan konsumtif, paling bijaksana adalah tidak memaksakan diri membeli secara kredit. Barang konsumtif dibeli tunai. Bila belum mampu, tunda sementara waktu untuk membeli barang. Prinsip buy now pay later (beli sekarang bayar kemudian) harus dibuang jauh-jauh, karena prinsip ini menyusahkan dikemudian hari.

 

Sekali lagi, masalah beli secara tunai atau kredit, selama ini banyak dipengaruhi oleh syahwat konsumtif atau demi gengsi. Sehingga pembelian sesuatu barang sudah tidak obyektif lagi.

Mau ‘cerdas’ kelola uang dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

@bebashutangtaiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here