Berani Gagal (Part 2) : Selalu Ada Kemudahan Di Balik Kegagalan.

0
572

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Ada sebuah alkisah, konon di jaman sahabat Nabi ada seorang yang sedang bepergian ke pasar dan melewati bukit dengan menaiki seekor keledai bersama seorang anaknya. Di tengah perjalanan, ia mendapatkan kritik dari orang yang ditemui. Orang bilang bapak dan anak itu tidak memiliki rasa ‘perikehewanan’ karena menaiki keledai berdua. Maka turunlah bapak itu dan hanya anaknya saja yang naik. Tidak lama kemudian diperjalanan, mereka menemukan kembali orang dan mengatakan anak itu tidak memiliki sopan – santun karena membiarkan bapaknya berjalan kaki sementara ia naik keledai. Maka turunlah anak itu sehingga keduanya hanya menggandeng keledai tanpa menaiki.Begitulah kehidupan ini. Kita tidak perlu memperhatikan apa omongan orang, yang penting kita melakukan menurut keyakinan dan hati nurani.

Kegagalan mengandung hikmah. Jika kemarin kita gagal, hari ini kita mengambil pelajaran yang berharga, dan jika hari ini gagal maka besok kita harus bangkit kembali. Kegagalan tidak selamanya begitu juga kesuksesan tidak akan terjadi terus menerus, karena hidup selalu berputar bagai roda.

“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Q.S 94 : 6

Sejarah telah mencatat bahwa Nabi Muhammad Rasulullah SAW, sekalipun beliau seorang yang ma’shum, pernah mengalami kegagalan dalam perang Uhud. Namun Rasul menyikapi kegagalan (kekalahan) itu dengan benar, dengan mengambil hikmahnya. Dalam perang Uhud itu, hikmah yang dapat diambil adalah adanya proses seleksi antara kaum mukmin dan munafik.

Hikmah lain dari kegagalan adalah karena kegagalan itu merupakan suatu ujian dari Tuhan. Seberapa kesabaran dan keteguhan hati kita untuk tetap melangkah. Kita juga diingatkan bahwa sekeras apapun usaha, masih ada Allah, sebagai penentu atas segala kehidupan, sehingga kita harus selalu mendekatkan diri kepada – Nya. Pepatah mengatakan, “Ora et Labora” (Bekerja dan berdoa).

Sukses dan gagal sama – sama memiliki hikmah atau manfaat, apabila kita dapat menyikapinya secara benar dan bijak. Salah satu contoh, dalam sebuah audisi American Idol tayangan televisi FOX (27 Januari 2004), dimana salah satu pesertanya yang bernama William Hung, mahasiswa Teknik Sipil UC Berkeley. Karena penampilannya yang jelek dan suaranya fals saat membawakan lagu Ricky Martin, She Bangs, Hung yang kelahiran Hongkong itu hanya bisa tampil 90 detik dan menjadi tertawaan penonton. Salah seorang juri, Simon Cowell bahkan memberikan komentar telak, “Kamu tidak bisa bernyanyi, tidak becus menari. Lalu saya mesti bilang apa lagi?”. Namun dengan senyum dan penuh rasa percaya diri, Hung menjawab, “I’ve already gave my best, and I have no regrets at all (Saya telah memberikan yang terbaik dan saya tidak menyesal sama sekali)”

Kenyataan berbicara lain. Suara dan gaya Hung dalam American Idol itu justru menyentuh hati publik, bahkan melalui situs internet yang dibukanya, ia kebanjiran hampir empat juta tamu hanya dalam sepekan pertama. Hung kemudian muncul dalam wawancara di televisi Fox News, New York Daily News, dan CNN. Majalah seperti US, People, dan The National Enquirer juga menampilkan profil Hung. Bahkan Koch Records mengontrak  Hung untuk pembuatan album yang diberi judul Inspiration dan membawakan lagu-lagu Ricky Martin, Elton John, dan James Ingram. Mengenai fenomena ini, produser eksekutif American Idol, Nigel Lythgoe dalam sebuah wawancara pada acara televisi Entertainment Tonight berujar, ”Bagi saya, itu benar- benar fantastis karena tidak setiap orang dalam hidup ini bisa menjadi pahlawan. Merayakan seorang yang kalah itu luar biasa”.

Terlepas dari sikap saya yang tidak sependapat dengan acara – acara yang menonjolkan aurat dan kurang mendidik seperti American Idol atau sejenisnya, saya menyampaikan cerita ini hanya untuk menunjukkan bahwa kalah atau menang, sukses atau gagal seharusnya dimaknai dengan benar, sebagai suatu proses perjuangan hidup.

Kompas, 2 Mei 2004

Kegagalan merupakan ujian. Bila kita menyakini bahwa kegagalan merupakan suatu ujian dari Allah, kita akan menghadapi kegagalan itu dengan tabah, sabar dan tawakkal. Kesabaran dalam menghadapi kegagalan akan melahirkan sikap dan mentalitas positif karena kita akan selalu berusaha terus dan instropeksi diri. Gagal atau sukses bukan hal penting,  tetapi semuanya itu merupakan suatu proses dalam hidup yang harus dijalani.

Sikap dan reaksi seseorang terhadap kegagalan bermacam-macam dan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu, pertama, berusaha keras menghindari  kegagalan,  sehingga tidak melakukan apapun. Akibatnya kita takut gagal, sehingga hanya bermain  dengan begitu amannya, tidak mau mengambil risiko sedikitpun; kedua, pasrah, membiarkan kegagalan mengalahkan diri kita. Kita menjadi frustasi, jengkel, murung, kecewa, dan sikap negatif lainnya. Kita sudah tidak mau bangkit lagi untuk mencari jalan menuju kesuksesan; ketiga, merasa tertantang untuk terus melakukan hal yang dapat mengeluarkan kita dari kegagalan, mengambil hikmah dan inspropeksi diri.

Sikap itulah yang kemudian membedakan antara orang sukses dan orang gagal. Perbedaan mereka karena orang sukses selalu kelebihan satu cara, sementara orang gagal kelebihan satu alasan. Orang sukses tidak akan kehabisan cara untuk mencapai tujuan. Bila satu cara gagal, maka mereka selalu menemukan cara lain. Berbeda dengan orang gagal, mereka menyerah setelah cara yang dipakai tidak berhasil. Bagi orang bermental gagal, mereka berpikir bahwa kegagalan disebabkan orang lain dan berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, tanpa mau berinstropeksi diri.

Tidak ada permasalahan di dunia ini yang tidak ada solusinya, dan tidak ada masalah yang lebih besar dari kemampuan manusia untuk mengatasinya. Semua hanyalah masalah waktu dan ketidaktahuan kita, karena jawaban atas semua masalah di dunia ini sebenarnya sudah ada, baik melalui orang lain, pengalaman atau melalui buku-buku dan lainnya. Jawaban atas semua permasalahan itulah yang harus kita temukan dengan proses belajar secara terus menerus, seumur hidup kita. Allah juga tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, karena Dia lebih tahu bagaimana memperlakukan makhluk ciptaan- Nya.

Mengenai hal ini saya dapat memberikan ilustrasi seperti siswa yang mengikuti ujian di sekolah. Dulu ketika kita sekolah atau siswa / mahasiswa yang saat ini masih sekolah / kuliah, pasti pernah merasakan atau melihat teman yang wajahnya terlihat ‘sumringah’ dan senang sekali ketika keluar dari ruang ujian, karena mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan baik. Mereka bisa karena sudah belajar dan paham betul soal yang diujikan. Tetapi bagi yang tidak siap maka semudah apa pun soal ujian itu, sulit untuk dikerjakan. Jadi kunci untuk berhasil adalah mengetahui cara mengatasi masalah yang ada.

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa kegagalan itu bisa menimpa siapapun, baik dalam hal-hal yang kecil maupun besar yang sangat mempengaruhi hidup kita. Saya pun pernah mengalami beberapa kali kegagalan baik saat melamar pekerjaan maupun berbisnis. Bahkan akibat kegagalan dalam bisnis, kerugian yang harus saya bayar sangat besar, hampir menghabiskan seluruh uang tabungan yang saya kumpulkan selama lebih dari enam tahun, selama saya bekerja. Saya juga pernah gagal dalam perdagangan saham, usaha warung bakso dan gagal dalam bisnis es bubble tea. Namun demikian, saya menyikapi semua itu sebagai hal yang biasa saja dan terus menerus instropeksi diri untuk menemukan cara-cara baru. Alhamdulillah, saya tidak putus asa. Pernyataan Walt Disney, “Agar sukses di bisnis, setidaknya anda membutuhkan satu kegagalan yang hebat”, justru memberikan motivasi.

Lalu bagaimana sikap yang harus kita kembangkan ketika menghadapi kegagalan? Pertama,sikap memandang kedalam diri kita sendiri. Kita harus selalu melakukan instropeksi diri dan menentukan langkah berikutnya yang harus dilakukan; kedua, sikap memandang keluar, dengan cara menyadari bahwa orang memiliki kelebihan dan kelemahan, sehingga bila ada orang lain sukses sementara kita gagal, kita akan tidak merasa iri, dengki;

Ketiga sikap memandang kedepan, kita masih memiliki optimisme karena masih ada hari esok. Kegagalan hari ini bukan berarti dunia ini akan kiamat sehingga tidak ada lagi peluang untuk sukses; keempat, sikap memandang kebawah, sehingga kita bisa bersyukur bahwa kita masih dapat melakukan proses perjuangan itu, sementara orang lain mungkin tidak memiliki kesempatan seperti kita; kelima, sikap memandang keatas, karena diluar kemampuan kita, masih ada Tuhan yang menentukan segalanya, sehingga kita harus melakukan  pendekatan kepada Nya, dengan cara berdo’a.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here