Berani Kaya

0
241

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Banyak orang keliru mempersepsikan kekayaan, akibatnya banyak pula yang menjauhi kegiatan bisnis untuk mendapatkan kekayaan. Dengan alasan sufi, para agamawan berusaha menjauhi kekayaan dunia, padahal pengertian sufi (zuhud) tidak demikian adanya. Harta kekayaan bagi sufi sebenarnya hanya sebagai pelengkap dunia, tetapi tidak sampai dimasukkan ke dalam hatinya, menjadi hubbuddun – yaa (cinta dunia) yang berlebihan.

Menurut KH.Abdullah Gymnastiar dalam buku Etika Bisnis MQ, urusan bisnis bukanlah urusan duniawi semata, tetapi dapat menjadi ladang jihad bila niat dan caranya benar. Kriteria bisnis sebagai ladang jihad adalah pelurusan akan pemahaman makna jihad itu sendiri, yang tidak harus identik dengan pertempuran dan bersimbah darah, tetapi upaya memperbaiki titik lemah ummat, salah satunya dalam bidang perekonomian.

Agama tidak melarang umatnya hidup berlimpah kekayaan. Agama hanya melarang penyalah- gunaan atas harta kekayaan dan cara memperoleh kekayaan yang tidak benar. Agama justru mengajarkan umatnya untuk berbuat sebanyak – banyaknya untuk dunia seakan – akan hidup selamanya, tapi tidak melupakan tujuan yang abadi, yaitu akhirat sehingga ketika kita akan beribadah atau beramal sebanyak-banyaknya seakan – akan akan mati esok pagi.

Beberapa faktor yang menyebabkan orang ‘tidak mau’ memiliki kekayaan diantaranya karena persepi atau alasan bahwa kekayaan tidak dibawa mati, tidak dapat membeli kebahagiaan, tidak dapat membeli cinta, dapat menjauhkan diri dari Tuhan, menimbulkan keserakahan, sudah takdir miskin dan lainnya. Kekayaan memang tidak dibawah mati pemiliknya. Tetapi bukankah kekayaan bisa dinikmati di alam kubur sampai akhirat karena kita telah membelanjakannya ke jalan Allah? Berapa harta yang kita amalkan atau dibelanjakan dijalan Allah, itulah harta kita, karena harta sesungguhnya bukan dari jumlah yang kita makan atau simpan didunia. Bila demikian, maka orang kaya memiliki peluang untuk membelanjakan sebanyak – banyaknya harta yang dimilikinya, dibandingkan dengan mereka yang miskin.

10+ Model Pos Satpam Besi Portable dan Harganya

Bila ada yang berpendapat kekayaan tidak dapat membeli cinta, maka pendapat itu tidak seratus persen benar karena bukankah kekayaan kita dapat meningkatkan cinta kasih sayang baik dengan anak, istri, suami, orang tua dan lainnya daripada kemiskinan? Bukankah cinta kasih sayang juga membutuhkan uang untuk sarana dan ‘bumbu-bumbu’ cinta agar semakin indah dan bermakna, misalnya berlibur, bulan madu dan sebagainya?. Ketika sepasang anak manusia sedang kasmaran atau menjalin cinta bisa saja mengatakan “Tahi kucing terasa coklat”. Tetapi apakah cinta atau bahtera rumah tangga mereka tetap berjalan mulus saat perut mereka keroncongan? Mereka pasti akan mengatakan,”Coklat pun akan terasa seperti tahi kucing”. Sebab dari data yang ada, salah satu penyebab terbesar dalam perceraian perkawinan adalah faktor ekonomi yang ‘tidak cukup’ atau tidak dapat dipenuhi oleh mereka. Itulah faktanya !.

Tidak berusaha memiliki kekayaan bisa juga karena orang selalu menerima pernyataan provokatif yang kurang benar dalam penerapannya, misalnya, “Kekayaan pangkal dari segala kejahatan”. Padahal pernyataan ini tidak seluruhnya benar, juga tidak seluruhnya salah. Menurut saya justru tidak adil apabila pernyataan ini tidak dilanjutkan dengan pernyataan “Tidak memiliki kekayaan (miskin) juga akar kejahatan”. Dalam bahasa agama dikatakan kefakiran (kemiskinan) mendekati kekufuran. Anda tidak percaya? Simak saja media cetak maupun elektronik yang memuat berita kriminal, seperti tentang orang nekat membunuh sesamanya hanya karena alasan sesuap nasi. Kasus yang masih segar dalam ingatan saya saat menulis buku ini adalah terbunuhnya seorang sopir mikrolet M-01 di Pasar Senen – Jakarta, karena menolak memberikan uang ‘jago’ sebesar Rp.500,- kepada calo penumpang. Masih banyak kasus tindak kejahatan sejenis yang berakar dari kemiskinan alias tidak memiliki kekayaan, yang membuat kita ngilu saat mendengar atau melihatnya.

“Bila kita kaya, mudah bagi kita untuk mempunyai prinsip. Yang tersulit adalah punya prinsip dalam keadaan miskin”

Ray Kroc, pendiri Mc Donald

Selain itu agamawan juga sering mengingatkan umat akan efek negatif harta kekayaan yang tidak dikelola dengan benar, misalnya akan menjauhkan untuk beribadah kepada Tuhan. Akan tetapi bukankah kemiskinan juga bisa menyebabkan kita menjauhi Tuhan? Berapa banyak pemulung, pengemis di jalanan, dan pekerja kasar lainnya yang kurang  memperhatikan ibadah dengan alasan kesibukan, sama seperti alasan orang kaya yang tidak taat ibadah meskipun sudah memiliki kekayaan berlimpah?. Kasus seorang sahabat, Tsa’labah sering menjadi acuan mengenai hal ini. Ketika Tsa’labah miskin, ia sangat taat beribadah dan digambarkan dalam kisah itu bahwa begitu miskinnya, sampai baju untuk sholat harus bergantian dengan istrinya, sehingga ia harus buru-buru pulang saat sholat berjamaah selesai. Namun ketika diberikan ujian berupa kekayaan berlimpah, membuatnya ingkar dan mulai meninggalkan sembahyang serta tidak membayar zakat.

Kaya atau miskin memiliki potensi sama dalam masalah ini. Akan tetapi kekayaan sebenarnya lebih memberikan peluang untuk memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan karena kekayaan kita sudah cukup memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bekerja keras siang – malam, dibandingkan dengan orang miskin, yang masih harus berjuang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kisah tauladan mengenai hal ini adalah sahabat Abu Bakar RA, yang sangat dermawan dan sangat dekat dengan Allah.

Kekayaan memang ibarat dua mata pisau tajam. Satu sisi memberikan kenikmatan bagi si empunya, sisi lain dapat menimbulkan kesengsaraan. Tidak heran bila dalam buku The Bridge Across Forever, Richard Bach mengatakan : “Bila anda mampu mengendalikan uang berarti anda juga mampu mengendalikan sebilah pedang yang bermata tajam. Peganglah dengan hati-hati, sambil berpikir untuk apa pedang ini ?” Kalau demikian, apakah uang (kekayaan) itu baik atau buruk? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan uang. Tidak ada yang salah dengan menginginkan uang dan tidak ada yang salah dengan memiliki uang, sekalipun dalam jumlah yang berlimpah-limpah. Kuncinya adalah bagaimana kita mendapatkan uang dan apa yang akan kita lakukan dengan uang itu.

Menurut Charles Albert Poissant dkk dalam buku How To Think Like A Millionaire, uang yang diraih secara jujur hanyalah pengakuan atas jasa-jasa yang diberikan. Jadi, seorang kaya adalah seseorang yang telah memberikan jasa – jasanya kepada banyak orang dan telah diimbali secara adil karenanya. Inilah yang dilupakan kebanyakan orang yang mengutuk uang itu. Jadi saya yakin selama uang diperoleh sesuai dengan kaidah moral yang berlaku dan dibelanjakan dengan benar, uang akan menjadi sumber kebaikan serta memberikan manfaat yang luar biasa pada pemiliknya, orang lain maupun masyarakat luas. Kekayaan juga dapat meningkatkan ibadah kita dan bisa menjadi ‘budak’ untuk menghasilkan kekayaan yang lebih banyak. Tetapi sebaliknya, kita dapat di “perbudak” oleh kekayaan, bila salah memperlakukannya. Lalu bagaimana konsep ini bisa dilaksanakan dengan baik? Tentu ada cara – cara yang harus dilaksanakan secara konsisten dan disiplin.

Terakhir, sebagian orang yang tidak ‘berminat’ meraih kekayaan karena memang ‘sok’ tidak mau, padahal yang sebenarnya mereka tidak tahu atau tidak mau tahu caranya. Kalaupun tahu, mereka justru merasa tidak mampu melaksanakan, KO sebelum mencoba karena takut gagal atau takut mengambil risiko. Pada orang tipe ini, sering muncul pernyataan seperti, “sudahlah, gaji kita kan sudah cukup, mau apalagi?”,“Matre’ amat kamu, yang dipikirin uang melulu. Memang penghasilan kamu yang ‘besar’ itu tidak cukup, sehingga ingin lebih besar lagi?” dan sebagainya.

Ungkapan atau komentar seperti itu menunjukkan bahwa memang ada orang yang sengaja membatasi diri untuk tidak memperoleh uang atau kekayaan lebih besar. Akibatnya, uang juga akan membatasi diri untuk tidak berpihak pada kita. Jadi hambatan terbesar mengapa seseorang tidak bisa kaya adalah karena dirinya sendiri. Hambatan itu semakin terlihat ketika orang merasa ‘tidak bisa’ kaya serta menganggap kemiskinan sebagai takdir (nasib) yang harus diterima. Orang type ini lupa bahwa Tuhan telah mengatakan tidak akan merubah nasib hambanya kecuali hambanya sendiri yang berusaha merubahnya.

“Uang akan muncul ditempat orang – orang yang mencarinya”

Rupert Murdoch, Pemimpin News Corporation

 

Uang atau kekayaan dapat ditemukan oleh siapapun dari latar belakang manapun. Tidak benar jika cara untuk meraih ‘pohon uang’ itu sangat rahasia dan tidak dapat dipelajari semua orang atau hanya oleh orang-orang pilihan. Sama halnya dengan kebahagiaan, uang juga timbul dari dalam diri kita sendiri. Uang hanyalah perwujudan lahiriah dari fokus bathiniah dan pemikiran -pemikiran yang diarahkan kepada target yang spesifik, sehingga kaya itu sebenarnya dari pikiran kita. Oleh karena itu kita harus mulai kaya dalam pikiran sebelum kita bisa kaya dalam kehidupan. Agar kekayaan dapat terealisasi, menurut Charles Albert Poissant dkk (2004), paling tidak ada tiga persyaratan awal yang harus dipenuhi yaitu

  • percaya bahwa kita akan kaya (2) sadar bahwa situasi kita tidak akan otomatis berubah kalau kita tidak berbuat apa-apa tentang itu (3) dengan penuh gairah menghasratkan peningkatan dalam kehidupan

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Baca juga :

Jasa Pembuatan Tiang Bendera Stainless Harga Murah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here