Berani Mimpi. Tidak Semua Orang Berani Mimpi Lho…

0
258

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Chester Carlson adalah seorang anak yang tidak banyak menikmati kesenangan. Ayahnya pincang akibat radang sendi dan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga untuk menopang keluarga hingga meninggal akibat TBC saat Carlson berusia 17 tahun. Saat berumur 12 tahun, Carlson berkata pada sepupunya Roy, “Suatu saat nanti saya akan membuat penemuan besar”. Berbekal tekad kuat dan mimpi itu, Carlson berhasil menciptakan mesin foto copy. Ia membutuhkan waktu selama 21 tahun untuk membuat desain dasar sebagai sebuah mesin copy yang berguna hingga saat ini. Itulah sebuah contoh pentingnya mimpi bagi setiap orang.

“Berpikirlah besar, maka anda akan menjadi besar”

Ray Kroc, pendiri Mc Donald

Mimpi bagi sebagian orang dianggap sebagai suatu perbuatan sia-sia, sehingga tidak semua orang memiliki mimpi untuk hidupnya di masa depan. Mereka menjalani hidup bagaikan air mengalir, begitulah orang sering mengatakan. Mereka hidup hanya menjalankan apa yang ada di depannya saja, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas dan terarah. Falsafah hidup bagaikan air mengalir, menurut saya kurang relevan lagi. Selama air itu menemukan dataran yang rendah, maka ia akan mengalir meskipun tanpa tujuan yang jelas. Bagaimana  bila air tidak menemukan lagi dataran rendah, maka kemana lagi air akan mengalir? Akan kah hidup ini akan mandek bila telah menemukan hambatan? Akan kah hidup ini dibiarkan hanya berjalan ke depan tapi tidak memiliki arah yang jelas? Terlalu naif apabila kehidupan ini berjalan begitu saja.

Baca juga :

Jasa Pembuatan Saung Bambu dan Gazebo Beserta Harganya.

Mimpi penting bagi setiap orang terutama bagi entrepreneur dan harus ada kekuatan untuk mewujudkan. Tanpa kemauan kuat dan tindakan nyata, maka kita hanya akan menjadi pemimpi (panjang angan-angan). Ada tiga hal yang mempengaruhi seseorang dalam mewujudkan mimpinya, yakni akal (pikiran), hati, dan nafsu (emosi). Akal dan hati dapat diwujudkan dengan sikap diam, sedangkan nafsu atau emosi merupakan usaha yang harus dijalankan. Karena itu, ketiga faktor ini harus seimbang. Impian tidak harus berbentuk secara phisik, tapi bisa pula berbentuk kepuasan dalam hidup karena hidup terus berubah.

Banyak orang tidak memiliki mimpi karena takut tidak dapat meraihnya alias gagal. Tidak memiliki mimpi bisa juga karena pengalaman kegagalan masa lalu dalam menggapai mimpi. Memiliki mimpi berarti memiliki tujuan dalam hidup. Akan kemana hidup ini diarahkan, itulah mimpi kita. Biasanya mimpi berkaitan dengan tujuan hidup jangka panjang.

Awalnya harus berupa keinginan memiliki sesuatu atau menjadi sesuatu yang spesifik yang saat ini belum ada pada kita. Tidak boleh misalnya kita ingin kaya raya, sukses, bahagia, terkenal dan lainnya. Mimpi harus spesifik. Misalnya pada 10 tahun kedepan kita ingin menjadi pengusaha sukses dengan total kekayaan 5 miliar, menjadi menteri, dan sebagainya.

“Masa depan adalah milik mereka yang percaya pada indahnya mimpi-mimpi mereka”.

Eleanor Roosevelt

Bagaimana caranya mewujudkan mimpi? Pertama, mimpi harus dirubah menjadi cita- cita. Mimpi dan cita-cita memiliki perbedaan, karena cita-cita merupakan impian dengan batas waktu tertentu dan lebih spesifik. Cita-cita juga harus didasarkan dengan niat baik, semuanya untuk ibadah kepada Allah. Kita juga harus memahami antara cita-cita dan harapan. Menurut Frank D.McKinney (2002), harapan adalah impian samar – samar yang kita harapkan terjadi pada kita. Sedangkan cita-cita adalah gambaran jelas yang menjadi prestasi karena kita membuat itu terjadi. Cita-cita merupakan blue print bagi kehidupan kita mendatang.

Sebagai satu ilustrasi, Dwiwanto Hadiprandojo, pemegang waralaba kafe roti Daily Bread Bakery Cafe (DBBC) ini memiliki impian keluar dari pekerjaan pada usia 40 tahun untuk menggeluti bisnis sendiri. Mantan Asisten General Manager Siemens Jakarta ini mendirikan usaha pertama di Tunjungan Plasa IV – Surabaya, pada usia 42 tahun. Memang impiannya itu tidak persis terealisasi tepat usia 40 tahun, tetapi dengan keinginan kuat itulah mimpinya dapat terwujud. Dalam waktu kurang dari satu tahun, ia sudah memiliki dua cabang. Dalam menentukan cita – cita atau tujuan harus memperhatikan kaidah SMART (Spesific, Measurable, Antusiasm, Realistic, Time Line). Cita-cita harus spesifik, terukur, dan dapat dilakukan dengan antusias. Cita-cita juga harus realistik menurut ukuran diri sendiri, bukan diukur dari diri orang lain. Meskipun bagi orang lain tidak realistik tapi jika bagi kita sangat realistik, tidak masalah. Selain itu, hal yang sangat penting dalam menentukan cita-cita adalah kita harus membuatnya kesimbangan antara dunia dan akhirat, karena itulah hakikat hidup.

Agar cita-cita tidak hanya menjadi angan – angan, maka kita harus melakukan hal-hal berikut : (a) menuliskan secara jelas dan spesifik (b) memberi batas waktu (c) membuat rencana untuk mencapainya; langkah-langkah apa yang diperlukan, rintangan yang harus dihadapi, apa yang perlu kita pelajari, siapa yang dapat membantu kita dan sebagainya. Kedua, memiliki alasan yang kuat untuk meraih mimpi dan cita-cita. Carilah alasan-alasan yang kuat mengapa kita harus meraih cita-cita itu. Ruginya apa bila kita tidak meraihnya dan untungnya apa bila kita dapat meraihnya; ketiga, segera memulai, bertindak sekarang juga. Setelah memiliki alasan yang kuat, kita harus segera melakukan tindakan untuk mewujudkannya. Inilah yang membedakan antara orang yang berhasil mewujudkan impiannya dengan orang yang gagal.

Banyak orang sudah memiliki cita-cita dan alasan kuat tetapi tidak melakukan tindakan apa pun, karena tidak tahu bagaimana memulainya atau masih ragu-ragu. Mereka masih terus berputar-putar dan berfikir untung rugi, terus-menerus mencari berbagai pertimbangan, tanpa tindakan nyata. Agar kita dapat memulai tindakan, kita harus mulai dari hal yang terkecil. Ibarat kita disuruh memakan gajah, tentu tidak langsung semuanya kita makan. Bagi orang yang tidak tahu, pasti bingung. Tapi bagi yang sudah tahu, maka ia akan memotong kecil-kecil dan memakannya sedikit demi sedikit. Demikian juga dalam melakukan tindakan, sedikit demi sedikit dan konsisten;

Keempat, evaluasi. Lakukan evaluasi (monitoring) secara rutin, apakah bulanan, tahunan, atau lima tahunan. Terserah kita. Tetapi lebih baik dilakukan evaluasi tahunan dan setiap bulannya dievaluasi cara-cara yang telah kita gunakan dan perkembangan hasilnya. Bila tidak dilakukan evaluasi, maka bahayanya adalah kita tidak akan pernah tahu sampai dimana perkembangan cita-cita yang kita inginkan. Mendadak kita kehabisan waktu atau umur kita semakin tua sementara kita belum dapat mencapainya.

Kelima, fleksibel dalam cara meraihnya, bukan mimpi atau cita-cita yang dibuat fleksibel atau mudah berubah-ubah. Apabila cara yang digunakan belum mengarah pada cita- cita kita, maka harus dicari cara baru atau menyempurnakan cara yang sudah ada. Salah besar apabila kita sudah menyakini bahwa cara kita salah namun tetap menggunakannya; keenam, berdo’a. Setelah kita melakukan segala daya dan upaya, maka berdo’a kepada Tuhan harus dilakukan karena apa pun yang kita lakukan tidak akan artinya jika Tuhan tidak memberikan kemudahan dan ridho-Nya.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here