Berani Tidak Menjadi Pegawai

0
297

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Banyak orang yang mengeluh dan menggerutu sehingga ingin meletakkan jabatan dan memulai usaha sendiri, tetapi di saat yang sama mereka takut kehilangan pekerjaan yang sudah ‘mantap dan nyaman’. Demikianlah lingkaran setan berlanjut”.

Billi PS Lim, penulis buku Dare to Fail

 ‘Kenyamanan dan kemapanan’ di tempat kerja belum menjamin untuk mendapatkan seperti yang kita inginkan, misalnya secara materi dan karir. Mayoritas yang bertahan di tempat kerja, meskipun sering mengeluh dan menggerutu karena kurang puas dengan penghasilan ataupun karir, kurang memiliki keberanian untuk keluar dan memulai bisnis sendiri karena selama ini sudah dininibobokan dengan kebiasaan hidup yang berjalan kurang kreatif. Hidup terpola serba teratur bagai robot, dengan rutinitas kerja spesialisasi, berangkat ke kantor pagi – pulang malam hari. Setelah di kantor, kita sudah terlihat ‘sibuk’ dengan pekerjaan, sehingga tidak sempat menambah wawasan dan pengetahuan. Sesampai di rumah kecapaian dan tidur, sampai esok hari harus berangkat lagi.

Begitulah rutinitas selama bertahun – tahun. Bekerja dianggap hanya sebagai  kewajiban bekerja, bukan sebagai proses pembelajaran. Akibatnya, kita hanya merasa dapat melakukan apa yang dikerjakan saat ini saja, seolah – olah di dunia ini tidak ada pilihan lain. Dunia terasa begitu gelap dan pengap. Ibarat orang mau berjalan ketempat yang lebih jauh, kita sudah merasa tidak bisa melihat lagi dalam kegelapan dan terpaksa hanya duduk  ditempat. Pasrah menerima keadaan. Inilah faktor pertama yang menyebabkan kita begitu takut kehilangan pekerjaan.

Kedua, kita takut kehilangan pekerjaan karena kita merasa telah menghabiskan rupiah sekian ratus ribu bahkan jutaan rupiah untuk bersekolah yang sejak awal diniatkan untuk mendapatkan pekerjaan. Jadi apapun pekerjaan yang diperoleh setelah bersusah payah bersekolah bukan masalah, meskipun kadang kita tidak menyukai pekerjaan tersebut. Fokus kita adalah PEKERJAAN, PEKERJAAN dan PEKERJAAN. Barang kali tidak ada kosa kata lain dalam pikiran kita selain kata PEKERJAAN pada saat itu. Oleh karena itu, sekiranya otak kita dapat secara berangsur-angsur membuang kosa kata PEKERJAAN, maka sebenarnya kita sudah dapat mulai mengalihkan kepada alternatif lain, bahwa hidup ini tidak cukup hanya menjadi pegawai, tetapi dapat bekerja dimanapun, yang penting menghasilkan uang halal dan menyenangkan. Menjadi pegawai bukan berarti sebagai ‘kesalahan besar’, tetapi alangkah bermaknanya hidup ini jika kita dapat memanfaatkan potensi yang ada dalam diri kita dengan cara menciptakan pekerjaan dan memberikan peluang rejeki bagi orang lain.

Ketiga, takut kehilangan pekerjaan bisa juga karena ‘trauma’. Mungkin kita telah mengalami ‘kesulitan luar biasa’ atau sekedar mengetahui dan mendengar ‘kesulitan luar biasa’ dari para angkatan kerja yang sedang sibuk mencari kerja. Kita berpikir mengapa harus mengambil risiko yang begitu ‘besar’ dengan meninggalkan pekerjaan yang ada, sementara didepan mata terlihat jelas realitas sulitnya mencari kerja, apalagi harus memulai usaha baru. Bahkan akibat sulitnya mencari kerja dan menguatnya mentalitas pegawai, banyak sarjana yang rela (maaf) menjadi satpam di sebuah perusahaan. Satpam bukanlah pekerjaan tercela, tetapi kalau susah – payah kuliah dan pada akhirnya ‘hanya’ menjadi satpam, patut disayangkan. Pekerjaan sebagai satpam, bisa dikerjakan oleh orang lulusan SD, SMP dan SMA. Bahkan tidak sekolah pun bisa menjadi satpam yang baik. Kenapa tidak memulai bisnis kecil – kecilan yang mungkin kelihatan ‘remeh’ tetapi lebih memiliki prospek dan membutuhkan kemampuan serta dapat lebih memuliakan diri sendiri?

Keempat, takut kehilangan pekerjaan bisa juga disebabkan karena telah banyak mengeluarkan uang atau ‘biaya’ pelicin saat masuk kerja, terutama yang masuk sebagai pegawai negeri, BUMN dan mungkin di tempat lain. Mengeluarkan ‘biaya pelicin’ ini sudah menjadi rahasia umum. Banyak para calon pegawai rela mengeluarkan uang puluhan juta meskipun dengan risiko uang hilang karena tertipu oleh calo tenaga kerja yang katanya sanggup membantu mencarikan pekerjaan. Ketika sudah bekerja, ‘sikut’ kanan-kiri, jilat atas injak bawah dan ‘tender’ jabatan kerap kali harus dilakukan untuk mendapatkan jabatan lebih tinggi. Lalu kenapa ada yang mau melakukan hal ini, tidak lain karena mengharap ‘uang komisi, fee’ dan lainnya yang bakal mengikuti jabatannya. Akibatnya sering terjadi penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan untuk memperkaya diri dan keluarga maupun kelompoknya.

Orang mungkin lupa bahwa dalam teori manajemen perusahaan, kata efisiensi merupakan sebuah kata yang ‘mengerikan’ bagi pegawai. Perusahaan yang dalam usahanya mengalami kerugian atau hanya memperoleh keuntungan relatif ‘kecil’, akan melakukan evaluasi kinerjanya. Ujung-ujungnya berusaha menekan biaya dan meningkatkan tingkat produktifitas pegawainya. Bila hal ini masih belum memberikan hasil yang baik, maka perampingan pegawai merupakan cara mujarab untuk efisiensi. Dengan demikian sebenarnya perusahaan dapat melakukan PHK sewaktu-waktu atas pegawainya.

Ironisnya, bagi perusahaan publik perampingan pegawai dengan tujuan efisiensi biasanya ditanggapi positif oleh investor di pasar modal. Berita terbaru dari likuidasi Bank Asiatic dan Bank Dagang Bali juga menunjukkan kondisi dimana pasar menanggapi positif (tidak mempengaruhi tingkat kepercayaan terhadap bank), sementara para pegawainya stress menunggu di PHK. Bila demikian kenapa masih takut kehilangan pekerjaan, sementara pekerjaan sewaktu – waktu mengancam kita? Sekiranya kita masih ragu jika kehilangan pekerjaan yang kita rasakan begitu ‘dahsyat’ untuk memulai usaha sendiri, bukankah ketika belum memiliki pekerjaan kita tidak mati kelaparan tanpa pekerjaan?

Mengapa kita selalu menggunakan kaca mata kuda dalam menilai pekerjaan sehingga menganggap pekerjaan sebagai garansi sementara pekerjaan tidak menggaransi kita? Bukankah masalah rejeki, jodoh dan mati hanya Allah yang mengetahui sehingga kita tidak boleh menggantungkan rejeki hanya pada pekerjaan tertentu? Maka janganlah kita menganggap pekerjaan sebagai garansi. Kita harus ingat dan yakin bahwa kecuali dengan Tuhan, tidak ada hubungan abadi!. Teman, pengagum, rekan, kerabat, teman sekolah dan kuliah, pelanggan, tetangga, penasihat, bahkan keluarga dan anak-anak kita, dapat memecat kita.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here