Berhenti Hobi Kredit, Biar Hidup Berkah

0
2643

Ini hanya sekedar share saja, dan semoga bermanfaat tentang pengalaman saya dan beberapa rekan saya, yang sama-sama masih belajar bisnis. 😉

Beberapa bulan yang lalu, saya terlibat obrolan asyik dengan seorang kawan lama. Dia sebuah rumah barunya, di daerah Tonatan. Dia bercerita tentang banyaknya kawan-kawan kami, terutama yang pernah ikut Entrepreneur University (kita sebut EU), terjebak dalam lilitan hutang.

EU sendiri adalah semacam Primagama, lembaga bimbingan belajar tapi khusus belajar tentang bisnis, wirausaha, termasuk menu utama-nya, bagaimana cara cepat menjadi “bankable”. Orang yang dipercayai Bank.

EU ini emang dimiliki oleh bos primagama sehingga banyak cabangnya di kota-kota seluruh Indonesia.

Back to topic.

Naghh, setelah bankable, bank mengucurkan kredit/pinjaman/hutang … boleh dikata semau kita, bahkan lebih besar dari nilai jaminan. Tapi tetap saja, cara jelek, hasilnya juga jelek.

Si Teman, bercerita, bahkan pemegang lisensi EU-Ponorogo pun sekarang gulung tikar, bangkrut, rugi dan pindah ke luar daerah. Memulai usaha dari nol, dengan niat yg kuat … tak mau ngutang lagii.

 

 

Si Teman juga bercerita, bahwa dia baru saja mondok selama sebulan di Jogja. Bersama rekan-rekan yang sedang terlilit utang, membersihkan hati dari niat ngutang, dan menghapus utang … wis pokoke do alergi hutang.

Tanpa beliau cerita siapa si pengusaha Jogja itu, saya sudah bisa menebak, karena memang dulu beliau adalah mentor saya.

Memakan Hutang adalah sama dengan Memakan Riba?

Di akhir obrolan, saya teringat ayat al-Qur’an yang mengatakan. Bahwa perumpaan orang yang memakan riba adalah sama seperti orang yang kerasukan setan, yang tidak bisa berjalan tegak, terhuyung-huyung.

Selama ini riba di identikkan dengan bunga deposito atau bunga tabungan pada bank. Padahal membayar bunga dan menikmati fasilitas pinjaman dari bank, itu juga sama dengan riba.

Dan orang-orang yang terlena dengan pinjaman/kredit dari bank ini. Ya seperti itu tadi, seperti orang yang kerasukan. Tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak nyata. Mana kebutuhan dan mana keinginan. Mana yang asli uang dia dan mana yang uang pinjaman.

Walhasil, fatamorgana. Secara otak-atik angka dari pendapatan/gaji. Cukup untuk membayar cicilan ini/itu. Bisa kredit ini/itu, gesek sana-sini. Tidak rugi, lha wong bisa kebayar … padahal faktanya, pendapatan berkurang seiring banyak-nya cicilan.

Ketika ada kebutuhan mendesak mendadak, lalu disaat bersamaan datanglah tanggal jatuh tempo. Mummet wis.

Hidup Berkah lebih berarti dari Hidup Mewah.

Hidup yang berkah, itu bahagia, sejahtera, nyaman, aman, tentrem. Bila ada rezeki yang sedikit aja, sudah “turah-turah”. Apalagi ketika ber-rezeki banyak.

Di satu sisi, kehidupan mewah tidak menjamin suasana di atas. Lihatlah orang-orang yang belibur pada musim panas. Mereka pergi ke Hawai, pengen tentrem, ternyata belum tentrem juga, mengambil segelas whisky sampai mabuk, masih belum tentrem juga.

Padahal disekelilingnya gadis-gadis berbikini, belum tentrem juga. Lalu ngemplok ekstasi, belum tentrem juga. Kokain, sabu, mariyuana lalu dioplos. Alhamdulillah, tentrem juga selamanya. Nggak bangun lagi dan nggak harus mencari-cari lagi, cukup diam dalam tidur panjang di bawah tanah. 😉

Soo, mari kita jauhi budaya ngutang, terutama dalam aspek konsumtif. Ekonomi Amerika saat ini diambang kehancuran juga karena hutang. Teringat pesan Kiai saya dulu.

Sederhana, bukan berarti miskin, tapi sesuai kebutuhan, bukan berdasarkan nafsu keinginan.

Sumber : www.roda2blog.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here