Bila Terpaksa Hutang, Perhatikan Saran Ini (Part 1)

0
145
  • Hutang Sesuai Aturan

Aturan pertama, bukan hutang riba. Masih berani makan riba? Allah dan Rasul-Nya nantangi perang lho, bagi orang yang tidak meninggalkan riba. Makanya tinggalin! Karena pasti anda tidak akan pernah menang melawan Allah.

“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika Kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” Al Baqarah : 279

Aturan kedua, hutang bukan untuk konsumtif tapi produktif. Hutang bukan untuk memenuhi nafsu syawat konsumerisme.

  • Kemampuan Membayar

Tidak ada aturan pasti berapa persen dari penghasilan yang boleh digunakan untuk membayar hutang. Sebagian pakar keuangan menyarankan maksimal 30 persen. Misalnya penghasilan anda Rp5.000.000,- per bulan, maka maksimal Rp1.500.000,- yang dapat digunakan untuk mengangsur. Saya pribadi, menyarankan angsuran maksimal 20 persen dari penghasilan. Kalau sudah mencapai 20 persen, kemudian masih butuh uang? Stop! Jangan ditambah lagi hutangnya. Sekali lagi, stop! Kalau ada di black list sama BI? Tidak masalah. Sekalian macetin saja, daripada gali lubang tutup lubang. (Pembahasan detailnya di bab selanjutnya).

Bila tidak memperhatikan kemampuan membayar, anda bisa terpuruk bahkan terjebak seumur hidup membayar hutang.

Kemampuan yang paling baik dalam membayar hutang adalah ketika bisnis bisa membayar hutangnya sendiri (bagi pengusaha). Bagi karyawan, profesional? Ya, sebenarnya tidak pantas berhutangJ, kalau mereka berhutang untuk konsumtif. Untuk konsumtif sebaiknya tunai. Kecuali, kalau penghasilanya lebih besar dari pengeluaran. Kelebihan itulah yang bisa dipakai untuk tabungan (saving), investasi atau membayar angsuran. Tapi yang terjadi selama ini kebalikannya. Penghasilan pas-pasan, atau sama antara penghasilan dan pengeluaran. Kemudian berhutang atau mengangsur dengan mengurangi jatah kebutuhan hidupnya. Ini yang menjadi masalah. Kebutuhan tidak bisa diturunkan, sementara beban pengeluaran bertambah. Akibatnya? Hutang bermasalah, cepat atau lambat.

Kesalahan lain, saking semangatnya berhutang–meski sudah tidak memiliki kemampuan membayar-, berharap ada rejeki dikemudian hari. Sebagai contoh, banyak karyawan tidak sabar membelanjakan bonus yang akan diterima. Mereka membeli barang konsumtif dengan cara kredit dan akan dibayar saat bonus diterima. Padahal bonus itu tidak pasti, tergantung kinerja perusahaan. Bila perusahaan untung, bonus dibayarkan. Tetapi bila tidak memenuhi target atau rugi maka bonus tidak dibayarkan.

  • Jujur Berhutang

Jujur, apakah anda butuh hutang atau tidak? Hutang untuk apa? Untuk keperluan mendesak atau masih bisa ditunda kebutuhannya. Lebih baik menunda keinginan daripada memaksakan hutang.

Selain itu, tidak melakukan ‘goreng-menggoreng’ data keuangan. Misalnya yang biasa terjadi adalah dengan melakukan transaksi fiktif, keluar masuk uang melalui rekening. Seolah-olah mutasi transaksinya besar. Kalau besar, bank percaya ini orang/perusahaan bonafid. Seolah-oleh ini orang/perusahaan omsetnya bagus.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here