Dibayar Cash Oleh Allah SWT

0
1492

Posted on

Minggu pagi, 29 Juni 2008, tidak seperti biasanya saya mau diajak anak dan istri saya untuk jalan-jalan pagi di sekitar kampus STEKPI Kalibata. Selama ini saya memang agak malas untuk berolahraga pagi. Dan pagi itu pun sebenarnya saya juga malas. Tapi karena mereka sangat mengharapkan acara jalan pagi bersama, maka saya pun bersedia. Lagi pula, minggu – minggu ini adalah masa liburan sekolah anak. Jadi apa salahanya kalau saya juga ikut ‘libur’ dan berbagi kebahagiaan liburan sekolah.

Pada acara jalan dan senam pagi itu sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan suasana di sekitar kampus STEKPI pagi itu sangat crowded sesak dengan ratusan bahkan ribuan orang yang lagi ‘jalan-jalan’ di pasar kaget. Singkat cerita, ketika kami sekeluarga pulang dan melewati jalan di depan makam pahlawan Kalibata, saya melihat beberapa orang yang membawa cangkul dan linggis. Mereka nampaknya sedang menunggu orderan untuk menurunkan barang di truk atau menuggu orderan untuk pekerjaan kasar lainnya, yang sebetulnya juga tidak jelas. Bahkan setahu saya, mereka itu orang-orang yang hidupnya menggantungkan dari pekerjaan yang tidak tetap seperti itu.

Saat melewati mereka, terbersit dalam hati, “kasihan ya…, mereka”. Ya.. cuman sebatas itu yang ada dalam pikiran saya. Kemudian saya terus berjalan pulang. Ternyata di depan juga ada beberapa orang yang sama. Saat itu, saya merogoh kocek dan hanya Rp10 ribu yang ada di dalam kocek celana saya. Pagi itu saya memang hanya membawa uang beberapa rupiah saja, karena menurut saya tidak

perlu membawa uang banyak. Uang Rp10 ribu itu pun akhirnya saya berikan kepada salah satu diantara mereka. Responnya terlihat sangat senang. Saya pun ikut senang melihat reaksi mereka, sambil tetap berlalu.

Setelah kejadian itu, saya sudah tidak berpikir macam-macam. Hanya saja saat dalam perjalanan pulang saya sempat bicara pada kedua anak saya. “Kita harus bersyukur, kita masih punya uang. Sedangkan mereka, uang Rp10 ribu itu sangat berharga sekali dan bisa untuk makan sehari. Tapi kita, uang Rp10 ribu kadang-kadang merasa tidak ada artinya dan hanya kita belikan mainan saja”. Mendengar ‘wejangan’ seperti itu, kedua anak saya mengatakan serempak “Iya pak…. syukur ya kita..”

Pada siang harinya, kami sekeluarga pergi ke Senayan dengan tujuan untuk jalan di Jakarta Book Fair dan Pameran Bobo. Nah, disinilah, kejadian yang tanpa disangka-sangka membuat kami sekeluarga tertegun. Ketika kami sampai di loket Pameran Bobo dan sedang ngantri beli ticket, tiba-tiba ada seorang pria berumur kurang lebih 35 tahun mendekati kami dan menawarkan ticket masuk gratis. Awalnya kami sempat ragu karena kami sering mendapatkan tawaran-tawaran gratis tapi ujung-ujungnya ada biaya-biaya. Maka ketika tawaran itu diberikan oleh seorang pria tidak dikenal itu, saya pun sempat menolak. Tapi anehnya, pria itu tetap memaksa dan menunjukkan sebuah surat undangan untuk Pameran Bobo, dan bisa digunakan maksimal 5 (lima) orang. Maka, kami pun bersedia masuk arena pameran bersama pria tak dikenal itu secara gratis.

Setelah masuk pameran, kami berpisah dengan pria tak di kenal itu. Kami sekeluarga pun saling pandang, istri saya kemudian mengatakan, “Kayaknya itu karena tadi pagi sampean (kamu) ngasih orang (tukang pekerja kasar) di Taman Makam Pahlawan, mas”. Sebelum saya menjawab kedua anak saya serempak mengatakan “Iya kali pak…”. Saya pun akhirnya hanya berucap dalam hati “Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah bayar amalan saya secara cash“. Dan terus terang, saya sangat terharu dengan kejadian itu.

Beberapa kemudian saya teringat dengan janji Allah dalam Alqur’an, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui”. Q.S Al – Baqarah (2) : 261

Wallahua’lam bisshawaab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here