Evaluasi Sumber Penghasilan Part 2 (Rezeki Haram)

0
358

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Bila yang diperoleh rezeki haram, kita harus membersihkan. Caranya dengan meminta ampun pada Allah dan mengembalikan harta kepada yang berhak. Jika harta itu didapatkan dari kecurangan terhadap satu sampai sepuluh orang mungkin masih gampang mengembalikan kepada yang berhak. Bagaimana jika kita melakukannya terhadap banyak orang dan bertahun – tahun? Seperti seorang pejabat menerima uang sogokan dari banyak rakyatnya, bagaimana mengembalikannya? Ada tiga alternatif mengenai hal ini. Pertama, harta dibuang, tetapi sangat disayangkan karena menjadi tidak berguna. Kedua, diamalkan meski tidak mendapatkan pahala. Ketiga, dinikmati sendiri tetapi malah menambah dosa. Dari ketiga alternatif itu, alternatif kedua adalah alternatif yang terbaik.

Harta perlu dibersihkan, karena beberapa alasan. Pertama untuk menghindari siksaan didunia dan akhirat. Kedua, harta yang kotor menyebabkan hidup tidak nyaman dan tidak tenang. Buktinya banyak pejabat dan mantan pejabat korup tidak nyaman dengan hartanya. Mereka menyembunyikan harta bendanya atas nama sanak keluarganya bahkan atas nama orang lain. Mereka takut hartanya diketahui publik (masyarakat) apalagi KPK (Komisi Pemberantas Korupsi). Ketiga, cenderung mendorong pemiliknya berbuat maksiat yang lebih besar. Misalnya pejabat korup menutup masalahnya dengan menyuap polisi, hakim bahkan membunuh orang-orang yang dianggap tidak bisa diajak kompromi. Keempat, harta kotor berpengaruh negatif pada anak – anak, karena harta kotor akan menjadi bara api dalam perut dan menjadikan hati menjadi keras, sulit menerima kebenaran. Kita banyak menyaksikan, bagaimana anak – anak pejabat korup menjadi anak durhaka, terlibat dalam perbuatan kriminal, narkoba dan lainnya.

Banyak kasus yang membuktikan uraian diatas. Seorang teman bercerita kepada saya. Dia memiliki teman yang bekerja sebagai audit internal di sebuah bank BUMN, menilep (korupsi) uang Rp.1.4 milyar. Peristiwa yang terjadi pada 1990-an itu berawal ketika di tempatnya bekerja ada pergantian sistem teknologi. Dalam pergantian sistem teknologi biasanya selalu ada selisih antara catatan keuangan sebelum dan sesudah pergantian sistem. Sebagai seorang audit internal seharusnya dia mencari sebab – sebab terjadinya selisih itu, tetapi dia justru mentransfer selisih uang ke rekening saudaranya. Perbuatan ini dilakukan bersama rekannya sesama audit. Untuk mengelabui perusahaan, mereka meminta kepada salah seorang nasabah yang memiliki rekening besar untuk menandatangani pencairan dana dengan alasan perbaikan dana pada nasabah tersebut.

Kejahatan mereka sukses karena tidak diketahui perusahaan. Pelaku kejahatan, sebut saja Rulan dan Rulin. Atas persekongkolan tersebut disepakati pembagian Rp.350 juta untuk Rulan dan Rp.1.050 juta untuk Rulin. Rulan yang sudah memiliki bisnis berupa toko kelontong dan beberapa angkutan umum, memutuskan pensiun dini dan mengurus bisnis secara full time. Ternyata harapan si Rulan diluar dugaan. Bisnis yang sudah berjalan lancar – yang selama ini dikelola istrinya, justru bangkrut setelah ditambah uang jarahan. Bahkan untuk mencukupi hidupnya saja, dia sangat kesulitan.

Cerita lain dikutip dari buku ‘Mengubah Tidak Mungkin Menjadi Mungkin’ tulisan Basuki Subianto. Dalam buku tersebut diceritakan seorang mantan bupati di Jawa Timur mengalami kecelakaan setelah diingatkan oleh seorang ustadz agar bertobat dan menyerahkan seluruh harta haramnya yang mencapai 70%. Berikut ini cerita selengkapnya. Mantan bupati – yang saat itu sudah pensiun dan berumur 65 tahun, banyak hartanya dan rajin shalat serta berkebun. Pak ustadz bertanya, “Pak, mohon maaf, harta Anda yang banyak ini kira – kira berapa persen yang halal dan berapa persen haram?”. Pertanyaan yang menohok itu tak segera dijawab. Maka pertanyaan berlanjut dengan pertanyaan, “Sebelum keburu meninggal, hilangkan saja harta yang haram agar tidak menjadi beban Anda dalam menghabiskan sisa hidup ini, lebih-lebih jadi beban diakhirat nanti”. Mantan bupati itu masih terdiam lama sekali sampai akhirnya air matanya membasahi pipi. “Kalau diukur dari total gaji saya sebagai pegawai negeri dan bupati, kira-kira yang halal cuma 30 persen,” katanya terbata-bata. Bapak ustadz mengaku tertegun mendengar jawaban mantan pejabat tinggi itu.”Apa Anda mau mengeluarkan 70 persen dari harta haram itu?”.

Mantan orang penting di tingkat kabupaten di Jawa Timur itu tidak menjawab, tetapi balik bertanya, “Yang termasuk harta haram itu apa saja, Pak?”. Bapak ustadz menjawab, “harta haram itu prinsipnya harta yang didapat di luar yang ditetapkan negara saat Anda menjadi bupati, termasuk harta yang belum dikeluarkan zakatnya”.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here