Evaluasi Sumber Penghasilan Part 3 (Rezeki datang dari mana saja)

0
49

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

“Kalau ada rekanan atau relasi yang memberi uang secara ikhlas kepada saya, apa itu haram?” Tanya mantan bupati. “Kalau Anda sudah tidak jadi bupati seperti ini, ada atau tidak relasi yang memberi uang?” Pak ustadz balik bertanya. Mantan bupati itu terdiam lalu berkata, “Baik Pak, saya akan rundingkan dengan keluarga untuk mengeluarkan sebagian harta ini.” Pertemuan pun berakhir.

Setelah perbincangan itu, cukup lama ustadz dan mantan bupati tidak bertemu lagi. Kontak telepon pun tak pernah. Tiga tahun kemudian ada kabar, sang mantan bupati kecelakaan. Mobil yang ditumpanginya dihantam truk trailer. Dia luka parah dan cacat permanen. “Saya sempat menjenguk, tapi dia (mantan bupati) tak bercerita tentang harta haramnya itu. Mungkin malu,’ ujar pak ustadz. Empat tahun dia hidup dalam cacat dan setiap hari dirawat seperti bayi, kemudian meninggal dunia. Hartanya lalu menjadi rebutan anak-anaknya hingga habis. Istrinya mengontrak rumah kecil dan kumuh.”Melihat kondisinya sekarang, tak ada orang yang menyangka dia dulu istri bupati,’kata pak ustadz. Tragis memang nasibnya. Sayang, penyesalan selalu datang belakangan. Bapak ustadz menyebut musibah yang dialami mantan bupati itu sebagai ‘siksaan sementara’ yang diberikan Allah kepada umat-Nya yang memakan harta haram.

Sebenarnya banyak cerita semacam itu, apalagi kita hidup di negeri paling korup. Cerita itu menunjukkan bahwa penghasilan yang diperoleh secara tidak benar, tidak memberikan manfaat malah menimbulkan kemudlaratan (kesengsaraan). Wajar bila Islam menganjurkan mencari penghasilan halal, karena masih banyak jalan memperoleh penghasilan halal.

Banyak cara Allah memberikan rejeki kepada kita. Allah menciptakan manusia, Allah pula yang menghidupi dengan menjamin rejeki hamba-Nya. Jangankan manusia sebagai ciptaan paling mulia dan sempurna, binatang melata pun dijamin rejekinya. Lihatlah cicak yang hanya merayap di dinding tidak pernah kelaparan. Burung yang terbang pagi dan pulang sore hari dengan paruhnya penuh makanan. Begitu pula dengan binatang lain, tidak ada yang kelaparan selama mereka ‘bekerja’ dengan baik.

Rejeki yang diberikan kepada kita melalui berbagai cara, tidak selalu dalam bentuk uang. Kenaikan pangkat adalah salah satunya. Biaya sekolah gratis ke luar negeri, badan sehat dan masih banyak lagi. Jadi apabila kita sudah berusaha maksimal sementara uang tidak banyak bertambah, bersyukurlah dengan kondisi itu. Coba introspeksi dalam bentuk apa Allah memberikan rejekinya. Kalau mau jujur, setiap hari kita selalu mendapatkan nikmat tiada terhingga. Bahkan nikmat berupa kentut (maaf) adalah rejeki yang berharga. Bayangkan bila tidak bisa kentut, maka berapa biaya (rupiah) yang harus dikeluarkan untuk berobat ke dokter. Wajar bila Allah berfirman, Waintaudduu ni’matallah laatuhsuuha“ Dan seandainya engkau menghitung nikmat-Ku, niscaya tidak akan mampu (menghitungnya)”. Wajar pula bila dalam ayat lain Allah bertanya berulang – ulang sebanyak 31 kali, Fabiayyi aalaa irobbikuma tukaddzibaan.

“Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan?” Q.S Ar – Rahmaan (55) : 13

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here