Hijrah dari Pegawai Menjadi Pengusaha Part 1

0
159

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Mengambil keputusan apakah tetap bekerja sebagai pegawai atau beralih menjadi pengusaha merupakan keputusan besar dalam hidup kita. Apalagi jika kita sudah berkeluarga dan memiliki anak yang membutuhkan biaya hidup dan uang sekolah cukup besar. Demikian juga bagi pegawai yang sudah merasa ‘mapan’ dalam pekerjaan saat ini (memiliki comfort zone), tentu sangat sulit untuk beralih menjadi pengusaha, kecuali ada alasan-alasan yang sangat kuat yang menyebabkan berubah. Hal ini tentu sangat berbeda jika kita masih belum memiliki apa-apa, baik keluarga (suami/istri dan anak) atau pekerjaan (masih pengangguran).

Ada dua motivasi mengapa seorang pegawai harus beralih menjadi pengusaha. Pertama, karena kesadaran penuh untuk mengubah hidup menjadi lebih baik; dan kedua, karena rasa jenuh yang berlebihan, tidak cocok, atau terkena PHK dan sulitnya mencari kerja. Untuk yang terakhir ini mereka terpaksa (kepepet) oleh keadaan dan harus menjadi pengusaha. Bagi seseorang yang dengan kesadaran sendiri beralih menjadi pengusaha, maka keluar dari pekerjaan memiliki alasan rasional sebagai berikut :

Pertama, ingin menjadi lebih kaya. Seorang pegawai bekerja untuk majikan, sehingga penghasilannya pasti lebih kecil dari majikannya dan itu berarti bekerja untuk meningkatkan kekayaan majikan. Semakin bekerja keras, semakin memberikan keuntungan kepada majikan dan hanya sebagian kecil manfaat yang kembali kepadanya. Seorang pegawai juga harus meminta kenaikan penghasilan kepada majikan, tetapi seorang pengusaha tidak perlu melakukan hal itu. Ia hanya perlu berpikir dan bekerja keras untuk meningkatkan usaha. Dengan kondisi demikian, sering terjadi perbedaan pendapat antara pegawai dan majikan. Pegawai merasa berhak mendapatkan gaji lebih besar, sementara majikan belum mengabulkan permintaan tersebut karena menilai produktivitas pegawai belum memadai. Bila hal ini tidak mendapatkan titik temu penyelesaian, sering terjadi demo besar-besaran menuntut kenaikan gaji;

Kedua, ingin lebih bebas. Pengusaha bebas berekspresi dalam melaksanakan ide – ide serta tidak tergantung jabatan seperti pegawai, karena pengusaha merupakan direktur  sekaligus pemilik usaha. Ketiga, ingin mewujudkan impian. Dengan menjadi pengusaha,  dapat mewujudkan impian besar yang dimiliki, termasuk mensejahterakan banyak orang melalui hasil karyanya.

Keempat, merasa lebih terhormat karena menjadi bos untuk diri sendiri, tidak ada yang memerintah atau menyuruh – nyuruh dirinya serta tidak meminta – minta pangkat / promosi jabatan. Bagi pegawai, jabatan / promosi tidak hanya ditentukan oleh kerja keras dan keberhasilan, tetapi juga posisi / lowongan yang tersedia serta kemampuan ‘menjual diri’ kepada atasan. Banyak pegawai berprestasi, tetapi mereka tidak mendapatkan promosi karena tidak mampu ‘menjual diri’ baik dalam arti positif maupun negatif (cari muka) alias carmuk. Bagi pengusaha, semakin keras bekerja semakin besar peluang untuk meningkatkan hasilnya dan tidak perlu ‘carmuk’, tetapi hanya memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan.

Memiliki usaha sendiri berarti kita langsung mengangkat diri sendiri menjadi direktur sehingga secara otomatis akan mengangkat harkat dan martabat kita disamping juga mengangkat atau membantu saudara-saudara kita yang menjadi pegawai kita. Dengan menjadi bos untuk diri sendiri, pergaulan dan teman kita juga akan meningkat tidak hanya dari kalangan sesama pegawai tetapi juga direktur perusahaan lain. Hal inilah yang membuka peluang baru dalam kegiatan bisnis karena kelompok bergaul atau lingkungan sangat berpengaruh dalam membantu meraih kesuksesan.

Menurut Napoleon Hill, salah satu faktor sukses dari orang – orang sukses adalah karena mereka memiliki kelompok bertukar pikiran dengan orang – orang yang juga ahli atau sukses dibidangnya, yang diistilahkan master mind.Dalam buku Think and Grow Rich. Hill mengatakan: Master mind may be defined as : “Coordination of knowledge and effort, in a spirit of harmony, between two or more people, for the attainment of a definite purpose”. Ada dua manfaat dari master mind yaitu secara ekonomi dan psikis.Secara ekonomi bisa berupa nasehat, bimbingan atau kerjasama dalam mendapatkan dana atau modal usaha. Sedangkan secara psikis dapat memunculkan ide-ide baru. “No two minds ever come together without, thereby, creating a third, invisible, intangible force which may be likened to a third mind”.

Sementara itu, bila seseorang hijrah dari pegawai menjadi pengusaha karena merasa tidak betah atau tidak cocok menjadi pegawai, menurut G.Tembong Prasetya dkk. dalam buku Climbing to the Top, ada lima gejala yaitu : pertama, rasa malas yang berlebihan. Rasa malas ini biasanya akan muncul sejak akan berangkat kerja sampai di tempat kerja. Mereka biasanya merasa kerja sebagai beban; kedua, menurunnya kedisiplinan kerja. Mereka biasanya sering melakukan indisipliner mulai dari hal yang ringan sampai yang berat, misalnya sering terlambat, sering izin sakit, alasan keluarga dan lainnya; ketiga, sering menunda pekerjaan. Banyak pekerjaan yang ditunda-tunda tanpa alasan jelas, hanya karena malas mengerjakannya; keempat, mencari lowongan pekerjaan baru. Pekerjaan baru disini dimaksudkan pekerjaan sebagai karyawan atau sudah mulai memikirkan mencari alternatif menjadi pengusaha; kelima, meningkatnya perilaku ‘ngerumpi’. Ngrumpi atau bergosip atau ngobrol tanpa tujuan biasanya dilakukan mereka yang tidak betah agar terbebas dari kewajiban rutin.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here