Hijrah dari Pegawai Menjadi Pengusaha Part 2

0
56

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Apabila kita sudah mengalami gejala demikian, maka tidak ada salahnya mulai mempertimbangkan kembali apakah tetap bekerja, pindah tempat kerja atau mulai merintis usaha baru, menjadi pengusaha. Sebab jika tetap bertahan, kinerja kita menjadi menurun dan tidak optimal dan akan menurunkan performance kita. Namun demikian, meski gejala kejenuhan sudah dirasakan, ternyata untuk mengambil keputusan keluar dan menjadi pengusaha tidak semudah membalikkan tangan, karena kondisi kita bagai terperangkap dalam lingkaran setan yang tiada ujungnya. Ibarat benang kusut yang sulit di uraikan. Mau keluar dari kerja takut tidak mendapatkan penghasilan lagi, atau takut penghasilan di kemudian hari lebih kecil dari saat ini.

Beberapa kendala atau pertimbangan yang sering dijadikan alasan seseorang untuk tidak mengambil keputusan itu diantaranya adalah :

  1. Merasa tidak berbakat

Bakat memang membantu seseorang menjadi pengusaha sukses. Akan tetapi, menjadi pengusaha sukses sebenarnya tidak hanya tergantung bakat karena faktor bakat hanya berpengaruh kecil terhadap kesuksesan. Seseorang yang pada awalnya merasa tidak berbakat dan terpaksa menjadi pengusaha, misalnya karena PHK saat krisis ekonomi 1997 atau sulit mencari pekerjaan, nyatanya banyak yang berhasil menjadi pengusaha. Salah satunya adalah Kendro Halim, pengusaha mainan anak-anak ‘Pop Play Toys’ yang mengawali outletnya di daerah Bumi Serpong Damai (BSD) pada tahun 2000 lalu, akibat terkena PHK. Dalam waktu yang relatif singkat (empat tahun), saat ini ia sudah memiliki 12 outlet yang tersebar di Jakarta, Tangerang, hingga Pekan Baru. Bahkan ia sudah menikmati dunia barunya, menjadi pengusaha.

2. Modal

Modal memang diperlukan untuk berusaha, namun tanpa modal usaha dapat berhasil. Modal selalu menjadi masalah klasik dalam kegiatan apapun. Namun tidak sedikit orang yang berhasil membangun bisnis dengan modal kecil, diantaranya James E Carey yang memulai usaha jasa kurir UPS (United Parcel Services) dengan berjalan kaki namun sekarang menjadi perusahaan terkenal di dunia.

3. Kondisi

Pasang – surut perekonomian sering menjadi kendala seseorang untuk memulai usaha karena menganggap ketidakstabilan perekonomian selalu berdampak negatif pada dunia usaha dan tidak ada peluang usaha. Padahal apabila kita jeli, dalam kondisi apapun perekonomian ini berada, selalu membawa perubahan positif (peluang) atau negatif (kegagalan), tergantung bagaimana kita bersikap.

Salah satu contoh adalah Ko Asen, seorang debitur di Bank tempat saya bekerja justru menangguk manfaat dari krisis moneter di Indonesia (1997). Pada awalnya ia hampir ‘tersungkur’. Akan tetapi, karena keuletan dan kepedulian pihak perbankan dalam membantu debiturnya, ia justru mendapatkan berkah karena omset penjualan mie meningkat akibat perusahaan sejenis gulung tikar, bahkan kini usahanya berkembang pada bidang usaha lain. Selain itu, kita tentu masih ingat ketika nilai mata uang rupiah merosot dibandingkan dengan mata uang asing ($), para eksportir saat itu menangguk peluang dan keuntungan, sementara importir banyak yang gulung tikar.

4. Sistem Nilai Masyarakat

Sebagian besar persepsi atau penilaian masyarakat masih lebih menghargai orang menjadi pegawai daripada seseorang yang memiliki usaha kecil. Pandangan sinis terhadap para wirausaha bisa juga karena sisa-sisa ‘warisan’ pendidikan Belanda yang mengarahkan menjadi pegawai (ambtenar).

Persepsi masyarakat yang menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang sangat jelek juga merupakan kendala. Orang menjadi takut melangkah karena takut gagal dan takut disisihkan dalam pergaulan masyarakat karena dianggap ‘bodoh, ceroboh, tidak mampu’ dan sebagainya.

Usia sering juga menjadi kendala untuk mengambil keputusan apakah kita menjadi pengusaha atau tetap pegawai. Keputusan terberat adalah ketika kita sudah merasa tua, sehingga tidak lagi berani mengambil risiko menjadi pengusaha dengan berpenghasilan ‘tidak tetap’, dan alasan tanggungan keluarga menjadi utama. Tua atau muda sebenarnya tidak menjadi masalah, karena banyak kisah sukses pengusaha yang memulai usaha disaat masih muda belia ataupun sudah tua renta seperti kakek-nenek. Dave Thomas, pendiri Wendy’s Restaurant memulai usahanya pada usia 15 tahun, sementara Kolonel Sander, perintis Kentucky Fried Chicken (KFC) memulai usahanya pada usia 66 tahun.

Pendidikan rendah maupun tinggi sering menjadi kendala memulai usaha. Bagi yang berpendidikan rendah berdalih ia bakal tidak mampu memulai usaha karena minder menghadapi orang – orang yang berpendidikan tinggi. Padahal banyak pengusaha sukses yang hanya berpendidikan ‘rendah’ seperti Sukiyatno Noegroho, pemilik waralaba Es Teler 77, yang SMA saja tidak lulus. Sementara yang berpendidikan tinggi, justru merasa harga dirinya akan jatuh ‘terhina’ apabila memulai usaha kecil. Pendidikan tinggi maupun rendah seharusnya tidak menjadi hambatan, tetapi menjadi tantangan untuk membuktikan bahwa kita mampu bersaing atau menjadi lebih baik. Kisah Hari Wahyono (37 tahun) sarjana FISIP – Uiversitas Jember, pengusaha resto Ayam Bakar Ganthari – Bulungan Blok M Jakarta ini justru tertantang untuk membuktikan bahwa ia akan mampu mengelola usaha dibandingkan yang tidak sarjana. Ia rela keluar dari pekerjaannya dan tidak malu memulai usaha dipinggir jalan (kaki lima) tahun 1994. Saat ini ia sudah cukup berhasil dengan memiliki sembilan cabang rumah makan dengan omset minimal 1000 ekor ayam per hari.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here