Hijrah dari Pegawai Menjadi Pengusaha Part 3

0
186

Keputusan menjadi pengusaha merupakan keputusan terbaik, apalagi jika ditempat kerja kita tidak memberikan peluang atau prospek yang lebih baik dimasa depan. Bagaimanapun, pengusaha memiliki peluang memperoleh penghasilan lebih besar dibanding pegawai, dan argumen ini dikuatkan sebuah hadist yang menyatakan bahwa sembilan pintu rejeki berasal dari perdagangan dan hanya satu pintu yang berasal dari menjadi pegawai. Secara garis besar, ada empat cara orang dalam mendapatkan penghasilan, seperti yang digambarkan Kiyosaki. yaitu menjadi Employee (E), Bussiness (B), Self Employee (S), Investor (I). Kuadran yang memiliki peluang besar untuk memberikan kebebasan finansial adalah pada kuadran B dan I karena sebagian besar orang menerima tujuh puluh persen penghasilannya dari investasi atau dari kuadran I dan kurang dari tiga puluh persen dari gaji atau kuadran E. Kalaupun bekerja sebagai E, maka kemungkinan besar mereka adalah pegawai perusahaan milik sendiri.

Baca juga :

Jasa Pemasangan Kanopi Kaca Tempered Jakarta dan Jabodetabek

Tingkatan yang paling baik adalah pada kuadran I, karena pada kuadran tersebut kita hanya sebagai investor, tidak perlu bekerja terus menerus tetapi uang yang akan terus berkerja selama 24 jam. Untuk menjadi seorang investor yang baik, kita harus memulai bisnis sendiri. Namun sayangnya sebagian besar masyarakat masih enggan memulai dengan menjadi pengusaha kecil karena dianggap sebagai pekerjaan yang kurang ‘layak’. Akibatnya mereka tetap memilih menjadi pegawai agar ‘terhormat sebagai priyayi’ meskipun dengan penghasilan yang mungkin ‘pas-pasan’ dan tetap ‘aman’ setiap bulan.

Dengan keputusan memilih menjadi pengusaha, kita harus tetap memiliki keyakinan bahwa kita pasti berhasil. Rejeki ada dimana-mana dan Tuhan pasti membantu, selagi kita  mau berusaha. Sekali lagi kita renungkan bersama bahwa bagaimanapun masa depan dan prospek menjadi pengusaha itu lebih baik dan menjanjikan. Hal ini dapat kita simak dari perbedaan antara pengusaha dan pegawai, saat masing – masing meraih sukses.

Seorang pegawai sukses akan mencapai posisi tertinggi sebagai direktur utama di sebuah perusahaan, tetapi posisi itu akan dibatasi dan tidak dijabat selamanya (bahkan bisa dicopot sebelum masa jabatan berakhir), sehingga mau kemana setelah tidak menjabat lagi. Bila usia masih cukup produktif, bisa saja mencari pekerjaan lain, tetapi bila sudah uzur, maka peluang itu relatif kecil. Pada saat yang bersamaan, penghasilannya pasti akan berkurang karena tidak ada yang menggaji. Berbeda dengan pengusaha sukses, ia tidak khawatir dengan jabatannya karena perusahaan itu miliknya. Kalaupun ia tidak mau mengurus secara langsung, masih ada yang mengelola usaha, baik oleh profesional atau keluarga. Penghasilannya pun tidak akan berkurang meskipun tidak bekerja lagi dan perusahaannya bisa diwariskan kepada anak cucu.

Berkenaan dengan hal diatas, saya teringat dengan sebuah film animasi dalam VCD yang diberikan oleh teman saya. Isi dari VCD itu sangat jelas memberikan gambaran bagaimana nasib seorang pegawai dibandingkan dengan wirausaha yang penghasilannya terus mengalir dan diibaratkan sebuah pipa dan ember (untuk pegawai). VCD itu menceritakan dua orang manusia yang tinggal di sebuah desa berbukit dan kekurangan air. Di desa itu ada seorang juragan yang menjual air bersih untuk warga di desa tersebut. Suatu hari, sang juragan menawarkan kepada siapa saja yang bersedia bekerja kepadanya dengan imbalan (gaji) tertentu. Sebut saja namanya Pipo dan Embro yang bergabung. Pipo dan Embro pada awalnya rajin membawa air dari bukit di desa sebelahnya. Bahkan karena si Embro ini memiliki badan yang besar dan kuat, ia membawa air dengan ember lebih besar dan sering bekerja lembur agar mendapatkan penghasilan lebih besar. Berbeda dengan Pipo yang selalu merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya saat ini sehingga ia berpikir bagaimana dapat merubah nasib, memiliki penghasilan yang tidak harus membutuhkan tenaganya secara phisik. Pipo selalu khawatir karena pada saatnya nanti ia pasti tidak akan mampu lagi membawa air karena sakit atau usia lanjut. Maka muncullah ide untuk membangun sebuah saluran air yang menghubungkan  antara sumber mata air di bukit dengan desanya. Pipo mengajak Embro namun tidak mau. Akhirnya Pipo melaksanakan niatnya sendiri, disela-sela kesibukan pekerjaannya, sementara Embro semakin asyik dengan ember yang lebih besar karena merasa badannya masih kuat.

Singkat cerita, saluran air yang dibangun Pipo berhasil dalam beberapa tahun sehingga Pipo kini menjadi juragan baru dengan menjual air lebih banyak dan lebih murah kepada warga di desanya. Pipo menjadi kaya dan memiliki investasi serta beberapa usaha lain dari usaha airnya itu. Sementara Embro semakin tua dan penghasilannya semakin berkurang karena ember yang ia bawa semakin kecil akibat sering kelelahan dan sakit-sakitan.

Itulah visualisasi yang sangat – sangat jelas tentang masa depan pegawai dan wirausaha. Namun demikian kita sering masih sulit melakukan tindakan nyata untuk merubah kondisi menjadi lebih baik. Saya sering bertanya baik kepada pegawai baru atau yang sudah lama saya kenal, kenapa mereka tetap bekerja dan tidak memulai usaha baru? Alasan yang sering disampaikan adalah karena merasa sulit memulai usaha baru, penghasilan tidak pasti, kemungkinan gagal, dan tidak memiliki modal. Hanya sedikit yang beralasan karena sudah merasa senang tetap bekerja di perusahaan. Sebenarnya banyak yang berkeinginan merubah hidup dengan usaha sendiri, namun hanya sedikit yang mau memulai usaha kecil, karena dianggap ‘remeh’ dan hasilnya kecil. Mereka ingin menjadi pengusaha, langsung dengan modal besar sementara belum tentu memiliki kemampuan dan pengalaman memadai.  Memulai bisnis sebaiknya dari usaha kecil, sambil melakukan proses pembelajaran secara terus menerus. Dengan memulai dari usaha kecil, apabila gagal kita akan mudah bangkit karena (mungkin) tidak terlalu menyakitkan. Masih banyak tersisa energi, motivasi dan modal yang kita miliki untuk memulai kembali.

Baca juga :

Jasa Pembuatan Saung Bambu dan Gazebo Beserta Harganya.

Selain itu, banyak pegawai ingin beralih menjadi pengusaha, tetapi belum tahu harus memulai dari mana. Di benaknya sudah dihantui hal-hal menyeramkan, seperti ketidakpastian dan kegagalan. Padahal banyak cerita sukses pengusaha yang awalnya menjadi pegawai, diantaranya adalah Cwie Mie Malang Hot Cmm milik Chairul Rivai. Sebelumnya ia telah malang melintang sebagai pegawai. Pernah bekerja di perusahaan Bob Sadino, Indofood, Caltex dan terakhir di restoran Au Bon Pain milik Menperindag Rini S.Suwandi. Dia memulai usaha dengan modal ‘nekat’ menjual rumahnya.Untuk mengantisipasi hal terburuk, dia tidak langsung memutuskan keluar dari pekerjaannya selama beberapa waktu, dengan cara membagi dua konsentrasi waktu dan pikirannya. Pagi bekerja, selepas pulang kantor mengurus warungnya. Dalam waktu kurang lebih 1,5 tahun usahanya sudah memiliki 5 cabang dan saat ini lebih dari 10 cabang.

Take Action

Apabila kita berketetapan hati untuk beralih menjadi pegawai, kita dapat memulainya dengan memilih dua cara. Pertama, kita dapat menjadi pengusaha dengan langsung keluar dari tempat bekerja, kedua dengan mempersiapkan lebih dulu usaha sampingan dan setelah itu keluar dari pekerjaan. Kedua cara ini sama baiknya tergantung kesiapan dan keyakinan kita, karena keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kelebihan cara pertama kita dapat langsung berkonsentrasi secara penuh dan maksimal mengurus usaha sehingga hasil yang diharapkan dapat lebih baik. Sedangkan kelebihan cara kedua adalah kita dapat mempersiapkan usaha dengan tetap mendapatkan penghasilan dari tempat bekerja, tetapi usaha (mungkin) tidak optimal. Untuk cara kedua ini dapat kita lakukan sebagai berikut :

  1. Memilih jenis usaha yang tidak banyak menyita waktu serta dapat dilakukan secara part time atau diserahkan kepada orang
  2. Meminta istri atau anggota keluarga lain untuk membantu. Apabila kita melibatkan sanak keluarga atau teman pastikan kita tetap menjadi pemilik usaha dan dapat mengontrol usaha secara

Dengan keputusan kita menjadi pengusaha, maka langkah kita selanjutnya adalah melakukan revolusi pikiran, mental dan perilaku kita sehari-hari seperti sikap yang dimiliki pengusaha. Sikap itu diantaranya kreatif, inovatif, berpikiran positif, berani mengambil risiko, berani gagal, dan sebagainya.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here