Hobi Belanja Tanpa Tekor

0
1386

Anda mungkin sering mendengarkan celotehan seorang teman, “waduuhhh, nyesel aku beli barang ini. Saya sudah punya dan barang ini jarang aku manfaatkan. Tadi aku beli karena ngiler aja melihatnya”. Itulah sekelumit penyesalan orang yang senang belanja. Penyesalan, seringkali datangnya kemudian. Demikian juga dengan kegemaran membeli barang atau hobi belanja, juga akan mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Sebab masalah besar selalu bermula dari masalah keuangan. Orang yang selalu defisit keuangannya akibat berlanja berlebihan, bila masih memiliki simpanan (tabungan) lama kelamaan akan habis.  Bila simpanan sudah habis, akan menjual harta benda yang dimiliki dan bila sudah habis pula, akan mencoba hutang kesana-kemari, gali lubang tutup lubang dan akhirnya dikejar-kejar debt collector alias penagih hutang berbadan besar.

Belanja bagi orang tertentu memang menjadi hobi. Tidak peduli apakah dia punya uang atau tidak, yang penting asyik berbelanja. Itu bisa terjadi karena ada kartu kredit yang bisa digesek-gesek, atau memaksakan diri ngutang. Hobi belanja bisa karena sifat dasar seseorang, atau karena godaan konsumerisme. Saat ini iklan ada dimana – mana. Iklan selalu membujuk kita dan anak – anak untuk mengikuti keinginan penjual atau pemasang iklan. Barang-barang yang seharusnya tidak harus dibeli, dengan adanya iklan, barang tersebut menjadi penting dihadapan kita.  Akibatnya kita merasa harus membeli barang-barang tersebut.

Selain itu, biasanya orang yang hobi belanja itu karena dorongan impulsif atau belanja tanpa perencanaan. Keinginan belanja itu bisa timbul karena adanya diskon, obral, penempatan produk yang menarik, atau voucher belanja. Biasanya pula, seseorang yang ‘gila’ belanja itu baru sadar setelah ia berpikir secara rasional. Atau dia sadar karena melihat sederetan baju di lemari yang tidak dipakai. Melihat sepatu yang bertumpuk di rak, atau setumpuk peralatan dapur yang masih bersih belum digunakan memasak.

Bagaimana menyiasati agar hobi belanja tersebut tidak membuat tekor uang anda?

Pertama, buatlah perencanaan keuangan dengan baik. Lakukan pembagian uang anda sesuai pos-pos pengeluaran. Bahkan kalau perlu, anda bisa memasukkan uang tersebut ke dalam beberapa amplop (sesuai jumlah pos pengeluaran). Misalnya, amplop satu untuk uang listrik. Amplop kedua untuk biaya sekolah. Amplop ketiga berisi uang belanja dapur, dan seterusnya. Dalam membuat pos-pos pengeluaran tersebut, anda harus memperhatikan prinsip, menabung dulu, sisanya untuk ‘berhura-hura’. “Bayarlah dirimu lebih dulu”. Demikian prinsip utama dalam pengelolaan keuangan. Karena itu, utamakan lebih dulu pengeluaran uang untuk menabung dan investasi, membeli aset produktif. Bukan sebaliknya, menabung dari sisa pengeluaran. Bila menabung merupakan sisa dari pengeluaran, maka yang sering terjadi, orang tidak akan pernah menabung. Kalau pun menabung, nilainya tidak signifikan (kecil sekali). Besarnya menabung ini, minimal 10% dari penghasilan anda. Berapapun penghasilan anda, harus menyisihkan untuk tabungan dan investasi. “Bayarlah diri kita lebih dulu”.

Tanpa kita sadari, selama ini kita selalu membayar orang atau pihak lain terlebih dahulu. Simak saja pajak penghasilan, kartu kredit, telkom, listrik dan sebagainya selalu kita bayar tepat waktu setelah kita mendapatkan gaji. Kenapa kita tidak sisihkan lebih dulu untuk diri kita misalnya untuk tabungan dulu, selanjutnya sisanya untuk keperluan lain? Bahkan saking patuhnya kita mendahulukan bayaran-bayaran rekening tersebut, sampai kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita telah menjadi ‘office boy’  atau pekerja bagi perusahaan tersebut. Konsep membayar diri lebih dulu bukan berarti kita tidak mau membayar semua tagihan tersebut, tetapi kita lebih mengutamakan uang tabungan untuk investasi dan sisanya untuk keperluan hidup. Jadi jangan dibalik dengan cara menyisihkan uang tabungan jika ada sisa dari penghasilan.

Selanjutnya yang saya maksudkan setelah menabung dan membagi-bagi pos pengeluaran kemudian “berhura-hura” adalah, anda bisa menghabiskan uang yang anda sediakan itu, sesuai pos yang ada. Termasuk pos  untuk menyalurkan hobi belanja anda.

Kedua, anda harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Prioritaskan pada kebutuhan, bukan prioritas keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, seperti makan, susu anak, biaya sekolah, dan transportasi untuk kerja, serta sejenisnya. Sedangkan keinginan merupakan sesuatu yang anda inginkan, tetapi keinginan itu tidak harus dipenuhi karena belum tentu merupakan kebutuhan. Misalnya anda ingin ganti motor baru, padahal anda sudah punya motor bekas. Contoh lainnya, anda sudah memiliki sepatu kerja sebanyak 3 buah dan masih bagus. Karena melihat pajangan indah di toko sepatu, anda jadi ngiler  ingin membeli lagi. Padahal, sesungguhnya saat itu anda tidak perlu sepatu baru.

Ketiga, harus memiliki jurus ampuh untuk menolak pembelian yang disebabkan karena nafsu (impuls buying). Bila anda sedang jalan-jalan di mall atau sedang ada tawaran iklan yang sangat menarik seperti diskon, seringkali anda tergoda untuk membelinya. Nah, saat itulah anda harus menggunakan jurus ampuh yang anda miliki. Misalnya, bila kondisi itu terjadi (sangat ingin membeli), sementara anda tidak membutuhkan barang itu, maka anda bisa gunakan mantra untuk komat-kamit seperti ini. “Tidak mati, kalau tidak beli”, “Gak patek’en kalau gak beli”, dan komat-kamit sejenisnya. Atau ada cara-cara lain yang lebih baik yang mampu mencegah belanja berlebihan.

Keempat, alihkan hobi belanja pada barang-barang produktif. Jika selama ini anda hobi menghabiskan uang untuk shopping barang konsumtif, maka hobby tersebut harus diubah menjadi hobi shopping  untuk produk-produk investasi (asset alocation), untuk menambah aset-aset yang memberikan nilai tambah atau penghasilan. Misalnya saja, bila anda selama ini hobi gonta-ganti mobil, maka hobi gonta-ganti mobil itu bisa anda manfaatkan untuk menambah penghasilan dengan menyewakan mobil yang anda miliki.  Anda hobi gonta-ganti HP, anda bisa manfaatkan gonta-ganti HP itu untuk sambilan jual-beli HP sehingga selain memakai HP, anda bisa dapat untung. Anda mungkin suka dengan perhiasan, maka anda bisa manfaatkan untuk membeli perhiasan emas sebagai hiasan dan investasi. Silahkan cari cara-cara lain yang tetap dapat menyalurkan hobi belanja, tapi tetap menguntungkan.

Demikian, semoga bermanfaat.

Oleh: safak muhammad. Tulisan ini dimuat  Majalah Nurul Hayat Surabaya

sumber image:http://pinkdiaries.org/discounts/easy-shopping-and-discounts-at-coupon-chief/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here