Hutang Konsumtif

0
92

Ini hutang paling jahat yang saya ketahui. Hutang konsumtif terjadi karena seseorang tidak bisa menahan nafsu syahwat alias  kebelet  memenuhi hasrat gaya hidup. Bukan sekedar kebutuhan hidup tapi gaya hidup. Ya, sekali lagi, seseorang kebelet dengan gaya hidupnya. Seharusnya, jarang orang yang punya penghasilan bisa terjerat hutang, kecuali kalau dia tidak bisa menahan syahwat konsumtif. Apalagi, ditengah gempuran iklan konsumtif di TV, media online, koran, dan media sosial. Saya lebih senang menyebut hutang konsumtif dengan hutang untuk membayar gengsi.

Hutang konsumtif berawal dari pemenuhan gaya hidup dan gengsi. Kebanyakan orang membeli gengsi daripada membeli kebutuhan. Penghasilan Rp5.000.000,- sebenarnya cukup memenuhi kebutuhan. Tapi karena ada gengsi dan gaya hidup, penghasilan sebesar itu pasti tidak cukup. Meski penghasilan anda naik menjadi Rp10.000.000,- juga tidak cukup. Lho kok bisa? Ini sudah kejadian jamak ditengah masyarakat. Ini adalah gejala yang biasa disebut dengan hedonic treadmill. (selengkapnya baca di bab berikutnya). Begitulah manusia. Saat penghasilan saya hampir Rp350 juta setahun pada 2008 lalu atau ± Rp30 juta sebulan, hutang saya tambah besar. Bayangkan, penghasilan segede itu, tidak ‘bermanfaat’. Hutang jalan terus. Selama ada syahwat konsumtif, masalah hutang tidak akan pernah selesai.

Hutang konsumtif bisa terjadi karena gonta-ganti HP, renovasi rumah, membeli motor, mobil baru, modifikasi mobil, sering belanja fashion, gadget, makan-makan di resto, tour & travel dan lainnya. Terjebaknya seseorang dalam kubangan hutang konsumtif karena kemudahan perbankan melalui uang plastik kartu kredit, termasuk KTA (Kredit Tanpa Agunan). Kalau saya plesetkan KTA ini sebagai Kredit Tanpa AngsuranJ Abis, kebanyakan orang yang ambil KTA kesulitan bayarnya. Bunganya besar.

Orang yang cenderung memenuhi gaya hidup, biasanya pelit sedekah dan berbagi. Lebih egois. Padahal seandainya, konsumerisme itu diimbangi dengan sikap dermawan, berbagi (sedekah) mungkin bisa menolong dari jerat hutang. Tapi yang jelas, gaya hidup konsumtif selalu bertolak belakang dengan gaya hidup berbagi (sedekah). Jadi pasti sulit bertemu…

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

Semoga Bermanfaat 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here