Kaya adalah Pilihan Part 2

0
105

Secara eksplisit (tersirat) maupun secara implisit (tidak tersirat) baik dalam Al – Qur’an maupun Hadits banyak berisikan anjuran dan petunjuk untuk hidup berkecukupan. Simak Hadits Nabi yang menganjurkan seorang muslim untuk berbuat sebaik-baiknya untuk dunianya seakan-akan hidup selamanya dan pada saat yang bersamaan dianjurkan untuk beribadah sebaik-baiknya seolah-olah akan mati besok. Dalam ibadah shalat yang berjumlah 17 raka’at dalam sehari disana juga berisi do’a – do’a agar diberikan rejeki, seperti pada do’a iftirasy (duduk diantara dua sujud) yang berbunyi : “Robbighfirlii (ampuni kami), warhamnii (sayangilah aku), wajburnii (tunjukkanlah kekurangan kami), warfa’nii (berilah derajad yang baik), Warzuqnii (berilah rejeki), wahdinii (berilah petunjuk), wa’afinii (berilah kesehatan), wa’fu’annii (ampunilah aku)”. Dalam shalat dhuha juga dianjurkan berdo’a, “Ya Allah, bila rejekiku masih di langit, turunkanlah – bila masih di bumi, keluarkanlah – bila masih jauh dekatkanlah – bila haram, sucikanlah dan bila sulit mudahkanlah!”. Bahkan ketika Rasulullah hijrah dan tiba di Madinah, beliau mendirikan pasar sesaat setelah membangun masjid Nabawi. Dari sini kita bisa menafsirkan bahwa begitu pentingnya masalah ekonomi umat, termasuk pentingnya hidup berkecukupan bahkan kaya.

Meski demikian, masih banyak umat Islam yang ‘keliru’ mempersepsikan kekayaan, sehingga banyak yang menjauhi kekayaan dan kegiatan bisnis. Dengan alasan sufi, para ustadz dan kiai ada yang berusaha menjauhi kekayaan dunia, padahal pengertian sufi (zuhud) tidak demikian adanya. Harta kekayaan bagi sufi sejati sebenarnya hanyalah sebagai pelengkap dunia, tetapi tidak dilekatkan dalam hatinya sampai menjadi hubbuddun – yaa (cinta dunia berlebihan).

Beberapa faktor yang menyebabkan orang ‘tidak mau’ memiliki kekayaan diantaranya karena alasan bahwa kekayaan tidak dibawa mati, tidak dapat membeli kebahagiaan, tidak dapat membeli cinta, dapat menjauhkan diri dari Allah, menimbulkan keserakahan, sudah takdir miskin dan sebagainya. Kekayaan memang tidak dibawah mati. Tetapi bukankah kekayaan bisa dinikmati di alam kubur sampai akhirat karena kita telah membelanjakannya ke jalan Allah? Berapa harta yang kita amalkan atau belanjakan di jalan Allah, itulah harta kita sesungguhnya karena harta sesungguhnya bukan dari jumlah yang kita makan atau simpan didunia. Bila demikian, orang kaya memiliki peluang yang lebih besar untuk membelanjakan sebanyak – banyaknya hartanya di jalan Allah dibandingkan orang miskin. Dalam sebuah hadits disebutkan salah satu golongan umat Islam yang diutamakan masuk surga adalah orang kaya yang dermawan. Dalam hadits yang lain juga dijelaskan bahwa hanya ada tiga amalan yang berguna dan terus mengalir pahalanya bagi orang yang sudah meninggal dunia yaitu anak yang shalih – shalihah, sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.

Meski Islam menganjurkan kita meraih kekayaan, namun niat untuk hidup kaya harus didasarkan pada prinsip – prinsip yang benar. Diantara prinsip – prinsip itu adalah bahwa harta kekayaan hanyalah sasaran antara untuk menuju kehidupan lebih kekal di akhirat. Kaya bukanlah tujuan, tetapi kaya hanyalah sarana. Konsep ini tidak terlepas dari prinsip bahwa kekayaan adalah amanah. Amanah berarti titipan yang sewaktu-waktu diberikan kembali kepada-Nya. Niat hidup kaya juga harus didasarkan pada prinsip bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya. Dengan harta yang kita miliki, kita akan lebih bermanfaat karena tangan bisa selalu diatas dengan memberikan sedekah.

“Tangan diatas itu lebih baik dari tangan dibawah”

(HR.Bukhari).

Islam memberikan warning (peringatan) agar umatnya tidak hidup miskin (fakir), karena kefakiran mendekatkan pada kekufuran!. Meskipun demikian Islam juga memberikan peringatan agar kita tidak hidup dalam kemewahan. Peringatan ini bisa dilihat dalam surat At-Takaatsur.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here