Kaya Berawal Dari Pikiran

0
93

Kaya bukan hanya tentang berapa banyaknya uang yang kita miliki, tetapi kaya lebih menyangkut pola berpikir dan berperilaku. Sebab bila kaya hanya menyangkut banyaknya uang, kita masih menyaksikan banyak orang memiliki kekayaan berlimpah tetapi tetap saja merasa kekurangan (miskin). Bila kaya juga identik dengan uang saja, nyatanya kita juga masih menyaksikan banyak orang memiliki kekayaan tapi tidak merasakan kemakmuran dan kebahagiaan dalam hidupnya. Disinilah pentingnya seseorang untuk mampu menata hati dan pikirannya agar dapat bermental kaya sebelum benar – benar kaya dan berkelimpahan dalam materi.

Dengan memiliki mental kaya, orang akan memiliki persepsi yang mendekati kesempurnaan terhadap harta – kekayaan. Pemahaman itu menyangkut hakikat kekayaan sebagai berikut : Pertama, besar kecil kekayaan tidak menjadi masalah, karena kekayaan hanyalah pelengkap dan sarana hidup di dunia. Ketika mendapatkan rejeki sedikit, kita tetap bisa bersyukur dengan tidak mengurangi kerja optimal. Begitu pula ketika diberikan kekayaan berlimpah, membuat mabuk ‘kepayang’ dan lupa bersyukur.

Bagi yang bermental kaya, besar maupun kecil harta yang dimiliki tetap saja cukup!. Sebab tidak sedikit lho, orang berpenghasilan besar dan memiliki kekayaan berlimpah tetapi hatinya masih merasa kekurangan (miskin). Sikap ini muncul karena menganggap harta dan kekayaan bisa dijadikan jaminan kehidupan dan kebahagiaan. Untuk itulah orang yang mentalnya miskin menumpuk-numpuk kekayaan dengan cara apa pun. Berbeda dengan orang yang bermental kaya, mereka tidak menganggap besar – kecilnya kekayaan sebagai jaminan kehidupan dan kebahagiaan. Sebab kecukupan itu adanya dalam pikiran, demikian juga kebahagiaan. Bila mereka mendapatkan rejeki sedikit mereka tetap merasa cukup, karena akan menggunakan dengan sebaik -baiknya.

Kedua, tidak melekatkan cinta harta – kekayaan ke dalam hati secara berlebihan. Seseorang yang bermental kaya tidak pernah menjadikan harta kekayaan sebagai tujuan akhir. Niat memiliki harta hanya sebagai ‘kendaraan’ dan ‘alat’ kehidupan. Sebagai alat, tentu akan digunakan sebaik – baiknya. Sekarang bayangkan peralatan mobil kita. Pernahkah kita merasa alat itu harus disimpan saja dan tidak boleh digunakan ketika mobil rusak? Tentu saja tidak. Kita gunakan alat tersebut secara maksimal, untuk apa saja. Kita tidak sayang menggunakannya. Kita tidak takut alat akan kotor, patah bahkan rusak sama sekali, karena tujuan kita bukan memiliki alat itu untuk disimpan tetapi untuk diambil manfaatnya. Begitu pula dengan harta yang kita miliki, seharusnya tidak dicintai secara berlebihan sehingga kita sibuk ‘merawat’ dan menumpuk-numpuknya. Kita tidak boleh sayang ketika harta dibutuhkan untuk ‘merawat’ kehidupan ini, seperti bersedekah dan ibadah.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here