Kaya, Just Do-It?

0
147

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Definisi kaya bagi setiap orang berbeda satu sama lainnya. Ada yang menganggap kaya sebagai sesuatu yang identik dengan harta benda berlimpah. Ada juga orang yang memiliki pemahaman tentang kekakayaan sebagai suatu hal yang tidak terkait dengan banyaknya materi semata, tetapi dikaitkan dengan kekayaan yang bersifat immaterial seperti kejujuran, kerendahan hati, kesabaran, tidak rakus dan sejenisnya atau dengan kata lain kaya jiwanya.

Kaya menurut Peter Spann dalam bukunya Wealth Magic, ketika kita memiliki banyak uang. Tidak ada jalan pintas untuk menjadi kaya. Untuk itu, diperlukan waktu, usaha, pengetahuan, dan energi. Sedangkan Kiyosaki dalam buku The Cashflow Quadrant, mendefinisikan kekayaan sebagai jumlah hari dimana kita bisa bertahan tanpa bekerja secara phisik (atau tanpa siapapun dalam keluarga kita bekerja secara phisik) dan tetap mempertahankan tingkat kehidupan kita.

Seberapa besar uang atau kekayaan yang dimiliki seseorang atau keluarga sehingga dapat dikatakan kaya, tidak ada batasan yang baku. Namun menurut Thomas J. Stanley dkk., yang melakukan survei selama lebih dari 20 tahun terhadap 730 lebih orang atau keluarga milioner di Amerika,  untuk menetapkan kekayaan didasarkan pada kekayaan bersih yaitu  nilai saat ini dari aset milik seseorang dikurangi utang dan nilai ambang kekayaan itu minimal satu juta dollar (atau ekuivalen sembilan milyar rupiah, bila kurs $1 = Rp.9000).

Berdasarkan beberapa pandangan diatas, saya berkesimpulan bahwa seseorang dapat dikatakan kaya bilamana memiliki uang atau harta yang cukup membiayai standar gaya hidup dalam kurun waktu tertentu dan dapat meninggalkan pekerjaan sewaktu – waktu tanpa mengganggu penghasilan yang diterima (memiliki passive income). Berapa lama seseorang mampu meninggalkan bisnis atau pekerjaan, selama itulah kekayaannya. Dengan demikian nominal dari kekayaan itu relatif, tetapi minimal sebesar nilai investasi bersih yang dapat menghasilkan return (profit) minimal sebesar biaya hidup. Ilustrasinya sebagai berikut. Bila seseorang atau keluarga bekerja atau berwirausaha dengan penghasilan rata – rata sepuluh juta rupiah sebulan dan memiliki penghasilan sembilan juta rupiah perbulan dari investasi lain, sementara pengeluaran hidup (sesuai standar gaya hidupnya) hanya tujuh juta rupiah setiap bulan, maka keluarga itu sudah dapat dikatakan kaya, selama penghasilan dari investasi terus berjalan, meskipun sewaktu – waktu tidak bekerja lagi. Sebaliknya apabila seseorang memiliki penghasilan sebesar lima puluh juta rupiah sebulan dan pengeluaran setiap bulan empat puluh sembilan juta dan tidak ada sumber penghasilan lainnya, maka ia lebih miskin dari dari orang pertama diatas, meskipun orang kedua ini hidup dalam kemewahan. Jadi kaya dalam pandangan saya berbeda dengan kemewahan.

Selain itu orang disebut kaya sejati bila bisa berbagi dengan sesama dalam berzakat, infak, shadaqah serta kegiatan sosial lainnya. Harta atau kekayaan didunia ini bukanlah milik kita, tetapi seberapa yang kita ‘belanjakan’ itulah harta kita sebenarnya. Harta hanyalah titipan dan amanah Sang Pencipta yang harus dipertanggung jawabkan di kemudian hari, di akhirat. Sikap ini harus kita tekankan karena kekayaan memang tidak kita bawa mati seluruhnya. Hanya ada tiga hal yang menjadi milik kita atas kekayaan itu yaitu : apa yang kita makan kemudian habis, apa yang kita pakai kemudian hancur, dan apa yang kita sedekahkan (amal) kemudian kekal. Sisanya (diluar tiga hal itu) akan hilang atau diwariskan untuk anak, istri, atau bahkan orang lain. Jadi selama kita belum bisa memahami dan melakukan hal ini, maka kita masih belum kaya karena memiliki jiwa yang miskin meskipun harta yang kita miliki berlimpah ruah.

“Alangkah indahnya harta yang ku dapat dan aku gunakan untuk menjaga kehormatan diriku dan mendekatkan akau kepada Rabbku“

Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi

Dengan kondisi demikian, orang kaya sebenarnya memiliki waktu dan kesempatan hidup lebih seimbang, baik terhadap anak, istri, lingkungan maupun untuk Sang Pencipta. Tidak ada alasan sibuk dan diperbudak mencari harta karena semua sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Robert Ringer dalam buku 10 Kebiasaan Orang- Orang Sukses, mempunyai kesimpulan bahwa kebanyakan orang kaya atau sukses bukanlah workaholic (gila kerja) tetapi mereka selalu berusaha mencapai hasil sebaik mungkin dalam waktu sesingkat mungkin.

Masfuk, seorang pengusaha sukses yang kini menjadi Bupati Lamongan – Jawa Timur (2000 – 2005) mungkin dapat dijadikan contoh mengenai kesimpulan Ringer, karena ia dapat merasakan bahwa miskin itu lebih tidak enak daripada kaya. Ia benar – benar dapat membedakan bagaimana menjadi orang miskin dan kaya. Ia lahir dari keluarga miskin, dari seorang ibu yang bekerja sebagai penjual ikan dan ayah sebagai makelar (calo) motor. Orang tuanya ini harus membiayai 12 orang anaknya dan tinggal di sebuah rumah kecil, dengan ukuran 3 x 9 meter persegi.

Dalam buku karyanya, Orang Jawa Miskin Orang Jawa Kaya ia berujar : “Alhamdulillah, kemelaratan berikut segala ketidak- enakannya bisa saya akhiri setelah saya berhasil mengembangkan sebuah perusahaan yang kini menjadi mesin uang saya sekeluarga. Bahkan, kini perusahaan itu telah beranak-pinak, yang membuat saya semakin kaya saja. Enaknya lagi, ternyata setelah memiliki banyak uang, saya punya banyak waktu dan sumber daya untuk membantu orang lain, memberi ceramah, atau sekedar berekreasi di akhir pekan bersama keluarga. Urusan perusahaan juga sudah ditangani oleh para karyawan, saya hanya sekali-kali mengurusnya”. Uang atau kekayaan memang bukan segalanya. Tetapi dengan uang, banyak hal yang dapat dikerjakan. Demikian juga, jumlah uang berlimpah tidaklah penting, tetapi lebih penting akan digunakan untuk apa uang itu. Semakin banyak uang belum tentu membuat tenang seseorang. Banyak uang bisa jadi membuat seseorang tambah miskin, terutama miskin mental sehingga harus menimbun uang sebanyak – banyaknya. Oleh karena itu, sangat dianjurkan kita mengetahui hakikat uang. Uang memang dapat menjadi sumber energi dalam kehidupan. Bahkan energinya sangat dahsyat, powerful sekali. Namun tanpa kemampuan yang memadai untuk mengelola uang, ia ibarat beban besar yang harus kita bawa kemana-mana dan membuat lelah, sakit, bahkan meneteskan air mata dan darah.

 

Kekayaan akan menjadi baik bilamana ia menjadi sasaran antara untuk dapat mencapai tujuan hidup lebih mulia di dunia maupun akhirat, sehingga kekayaan akan kita gunakan untuk; pertama, mencukupi nafkah hidup pribadi dan atau keluarga; kedua, menjalankan peran sosial sebagai warga masyarakat. Ibaratnya, orang yang memiliki kekayaan harus berfungsi seperti kran air. Ia menerima dan menyalurkan kekayaan kepada yang berhak dan membutuhkan bantuan.

Agar lebih memahami konsep diatas, barangkali kita harus belajar dari sikap tukang parkir, bagaimana ia menyikapi mobil (kekayaan) yang dititipkan kepadanya. Tukang parkir setiap hari mengatur ratusan mobil dan silih berganti mobil – mobil itu keluar masuk, namun ia tidak pernah merasa kehilangan atau sedih. Bahkan ketika jumlah mobilnya banyak ia tidak merasa senang karena tidak merasa memiliki. Ia tahu bahwa mobil – mobil itu bukanlah miliknya, tetapi titipan yang harus ia jaga dan diberikan kepada yang berhak.

Bila kita dapat menjadikan dunia seisinya hanya sasaran antara saja, maka sedikitpun hati kita tidak akan merasa memiliki kekayaan yang kita miliki, karena semua akan berpulang kembali kepada – Nya. Kita juga akan menyadari bahwa tujuan kita bekerja keras mendapatkan penghasilan besar atau kekayaan semata – mata karena ingin berbuat baik lebih banyak dengan uang kita serta dapat hidup lebih nyaman dan tenang dalam membangun hubungan transendental maupun sosial kemasyarakatan.

Sekali lagi, tidak ada salahnya mencari kekayaan sebanyak – banyaknya dengan cara benar, tetapi itu semua untuk tujuan hidup kita yang lebih kekal dengan cara beramal lebih banyak, membantu para fakir miskin serta menghemat waktu bekerja untuk beribadah atau kegiatan sosial lainnya. Bukankah salah satu golongan manusia yang akan diutamakan masuk surga adalah orang yang kaya yang banyak beramal?

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here