Kaya Vs Bahagia

0
79

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Psikolog Mihaly Csikszentmihalyi menghabiskan waktu duapuluh lima tahun untuk memikirkan apa yang membuat orang bahagia. Ia menemukan bahwa kebahagiaan itu tidak terjadi dengan sendirinya. Uang, kekuasaan dan kepemilikan materi tidak bisa memberikan (secara otomatis), karena fakta menunjukkan kebahagiaan bisa ditemukan pada orang kaya maupun miskin, orang yang memiliki kekuasaan atau tidak.

Saya sependapat dengan hasil penelitian Mihaly, karena memang kebahagiaan tidak ditentukan oleh jumlah kekayaan yang dimiliki seseorang. Akan tetapi saya berkeyakinan bahwa dengan kekayaan, seseorang dapat melakukan apa yang ia nginkan dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kekayaan. Kekayaan dapat digunakan untuk mengantarkan pemiliknya menuju kebahagiaan yang lebih baik dibandingkan dengan si miskin.

Orang yang mengatakan bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan, mungkin karena ia tidak pernah memiliki cukup uang. Dibandingkan dengan kemiskinan, uang lebih bisa membeli kebahagiaan, karena uang dapat dipergunakan untuk membiayai apa pun yang kita inginkan. Akan tetapi harus dibedakan antara tujuan memperoleh kekayaan dengan kebahagiaan itu sendiri. Dua hal yang sangat berbeda. Kebahagiaan tidak terkait dengan jumlah kekayaan (meskipun uang dapat membantu meningkatkan kebahagiaan) karena kebahagiaan tidak datang dari luar. Ia berdiri sendiri. Kebahagian datangnya dari diri sendiri (dari dalam) dan berdasarkan nilai – nilai yang kita bangun dalam hati.

Bila kita menetapkan nilai-nilai yang sulit untuk dicapai, maka kita juga akan sulit meraih kebahagiaan. Sebaiknya kita mempermudah pencapaian nilai – nilai yang membuat kita bahagia. Misalnya saja, kita akan bahagia bila sudah dapat makan tiga kali sehari dan bertemu anak – istri atau sang pacar minimal 2 hari sekali. Dengan syarat yang mudah itu tentu akan mudah dicapai dan kita akan lebih bersyukur dengan kondisi yang ada, tanpa mengurangi usaha keras mencapai cita – cita hidup. Atas dasar inilah sering kita menemukan orang dengan kondisi ekonomi dibawah garis kemiskinan, tetapi mereka tetap merasa bahagia dalam hidupnya.

Kesejahteraan maupun kebahagiaan dapat terjadi pada semua tingkatan pendapatan. Kesejahteraan memang berkaitan dengan uang, tetapi uang bukanlah segalanya. Jika demikian kebahagian disebabkan oleh apa? Kebahagiaan hakiki ditentukan oleh dua hal, material dan transendental. Kesejahteraan materi tanpa hubungan harmonis dengan Sang Pencipta, sering membuat orang kaya tapi tidak bahagia. Sebaliknya, kesejahteraan transendental, tanpa kesejahteraan material membuat seseorang hidup dalam ketidakseimbangan, hanya hubungan vertikal (kepada Tuhan) yang dipenuhi, dan melupakan hubungan horisontal (sesamanya) atau tugas – tugas dunia. Agama justru menganjurkan untuk menjaga keseimbangan dunia dan akhirat.

Berkenaan dengan pandangan diatas, sebenarnya hidup ini menyuguhkan tiga pilihan : bahagia di dunia – sengsara di akhirat; sengsara di dunia – bahagia di akhirat; bahagia atau sengsara dunia – akhirat. Celaka bagi orang yang hanya mendapatkan bahagia didunia saja, berlimpah materi dan kesuksesan tetapi di akhirat, alam yang kekal – abadi, menderita dan sengsara. Ada juga orang yang akan mendapatkan bahagia di akhirat saja sementara di dunia menderita. Kondisi ini masih lebih baik dari yang pertama.

Kondisi ideal yang harus menjadi tujuan hidup adalah meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Berkaitan dengan hal ini, seorang sahabat saya berseloroh dengan cita-citanya, “Waktu kecil dimanja, muda hura-hura, tua kaya-raya, mati masuk surga. Enak tenaan…”

Dengan tujuan ideal itulah manusia mau tidak mau harus bekerja keras meraih kekayaan atau kesuksesan dan “berlomba-lomba dalam kebajikan” dari harta atau kesuksesan yang telah diperoleh.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here