Kegetiran Pegawai

0
182

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Menjadi pegawai maupun pengusaha, pasti ada suka dan dukanya. Masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Akan tetapi, sebagian besar orang tentu sepakat bahwa pengusaha memiliki kesempatan memperoleh penghasilan lebih besar, kesempatan beramal, membuka pintu rezeki bagi orang lain, fleksibel dalam mengatur waktu untuk bekerja dan sebagainya dari pada pegawai.

Ada sebuah anekdot mengatakan bahwa kalau kita seumur hidup hanya menjadi pegawai, maka kita hanya akan mendapatkan banyak pahala dari pintu kesabaran. Mengapa demikian? Karena ketika pagi kita dimarahi oleh bos, kita harus sabar. Siang dimarahi, sabar.Sore dimarahi, sabar lagi. Bagaimana tidak sabar, sementara kita masih ingin bekerja dengan bos / di perusahaannya?

Bagi kebanyakan orang, menjadi pegawai memang suatu impian karena berbagai alasan. Alasan yang sering saya ketahui adalah karena penghasilan pasti setiap  bulan  sehingga sudah merasa ‘aman’ untuk kebutuhan hidup. Dengan menjadi pegawai, orang juga beranggapan tidak perlu berpikir keras karena dihadapannya sudah ada pekerjaan dan aturan yang harus diikuti. Berbeda dengan pengusaha yang harus bekerja keras saat merintis usaha. Akan tetapi orang mungkin lupa bahwa seseorang yang masih mengangggur dan sedang mencari pekerjaan juga membutuhkan perjuangan keras agar dapat diterima menjadi pegawai.

Seiring berjalannya waktu, bayangan kerja nyaman dan aman, sering berujung pada kekecewaan. Banyak pegawai yang akhirnya mengeluh setelah bekerja sekian tahun dan merasa apa yang ia kerjakan selama ini kurang membawa perubahan pada hidup, baik secara materi ekonomi maupun karir di tempat kerjanya bahkan berbagai perasaan tidak menyenangkan. Cary L Coper dalam pengantar buku Memelihara Gairah Kerja karangan Martin Lucas dkk mengatakan bahwa kerja adalah penurunan derajat kemanusiaan serta sesuatu yang tidak terselesaikan. Hanya sebagian kecil dari kita yang merasa puas dengan pekerjaan, sementara banyak dari kita menderita, penghinaan yang besar di lapangan pekerjaan.

Hal senada juga dialami oleh Diane Tracy, mantan wakil pemimpin paling muda (30 tahun) di sebuah bank paling besar di New York dan penulis buku Take this Job & Love It! mangatakan dalam kata pengantar bukunya,” …. Pada saat-saat tertentu saya merasa mirip dengan tokoh-tokoh yang digambarkan dalam buku ini. Orang-orang yang gila kerja, yang merasa menjadi korban, perempuan yang kesepian, para politisi, pegawai yang tidak pernah memperoleh kenaikan pangkat, pemimpi yang frustasi. Tentu saja, saya tidak pernah membayangkan diri saya seperti itu, dan saya juga jarang mengaitkan masalah dan ketidakpuasan yang saya alami dengan apa yang saya lakukan. Semuanya selalu bersumber dari sistem, manajemen yang buruk, dan politik perusahaan. Akhirnya saya memutuskan bahwa saya tidak lagi bisa bertahan dalam dunia perusahaan. Saya letih menghadapi semua orang dan segala sesuatu. Lalu saya mendirikan bisnis sendiri, dan saat itulah saya mulai berkembang”.

 

Pernyataan diatas juga dikuatkan oleh temuan John C. Maxwell dalam buku Tidak Ada yang Namanya Etika Bisnis (There’s No Such Thing as ‘Business’ Ethics) bahwa sebanyak tujuh puluh persen orang di Amerika Serikat meninggalkan pekerjaannya karena merasa tidak dihargai. Memang tidak dijelaskan oleh Maxwell apakah setelah keluar mereka langsung menjadi pengusaha atau bekerja kembali di perusahaan lain, tetapi hal ini sudah cukup menunjukkan kepada kita bahwa menjadi pegawai memang tidak cukup enak. Seorang teman saya bahkan sering mengatakan menjadi pegawai itu ibarat ‘makan hati’ (memendam perasaan yang tidak enak) setiap hari. Di Amerika peluang seseorang untuk berpindah -pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain atau menjadi ‘kutu loncat’ memang terbuka dibandingkan di Indonesia. Oleh karena itu bila kita sudah merasa tidak nyaman menjadi pegawai, maka akan lebih baik jika menjadi pengusaha, karena peluang menjadi ‘kutu loncat’ di Indonesia relatif kecil karena sulitnya mencari pekerjaan yang ‘layak’.

Berbagai keluhan yang sering muncul dan dihadapi pegawai diantaranya, pertama, menantikan promosi jabatan yang membosankan. Banyak pegawai senior dan memiliki kemampuan, namun tidak diberikan penghargaan ‘wajar’, atau kesempatan berkarir dan tanggung jawab lebih besar, membuat pegawai tersebut tidak nyaman dan menilai lingkungan kerja sudah tidak kondusif lagi; Kedua, merasa apa yang diperoleh, berupa penghasilan atau penghargaan lainnya tidak sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pada kelompok pegawai seperti ini tidak mengeluhkan kesempatan karir, tetapi lebih pada tuntutan gaji atau fasilitas kesejahteraan yang diterima dinilai relatif kecil;

Ketiga, pendidikan formal dan usia seringkali menjadi kendala untuk memperoleh kesempatan pendapatan dan karier lebih tinggi. Banyak pegawai senior dengan kemampuan dan pengalaman baik, namun karir mandek hanya karena tidak memiliki ijasah Diploma, S1 atau S2 atau karena faktor usia. Misalnya untuk jabatan manager maksimal umur 45 tahun  dan sebagainya; Keempat, bosan dengan tekanan boss (apalagi yang suka marah). Pagawai dasar, staff dan setingkatnya mengeluhkan karena banyak tekanan dari atasan untuk memenuhi target-target usaha, sementara pegawai menengah (manajer), merasa mendapatkan tekanan dari atas dan bawah. Dari atasan ia harus memenuhi kemauan atasannya, sementara dari bawahan ia sering kali menerima komplain sebagai konsekuensi atas tugas yang diemban. Sementara yang berada dilevel atas, mengeluh tidak bisa bebas berkreativitas atau bekerja profesional karena terbentur dengan perbedaan atau kemauan pemiliknya (owner) serta tekanan-tekanan lain. Saya sering mendengarkan keluhan – keluhan semacam itu. Sebut saja mantan bos saya, yang saat ini berpangkat Senior Vice President (setingkat direktur muda). Beliau sudah bekerja selama lebih dari dua puluh lima tahun dan sejak empat tahun terakhir  ini nampaknya benar – benar ‘stress’ sehingga setiap ada kesempatan santai berbincang dengan saya selalu mengungkapkan keinginannya untuk keluar dari pekerjaan dan mengurus usaha sendiri yang sudah dirintis oleh istrinya beberapa tahun terakhir. Awal Agustus 2004 lalu saat saya bertemu, beliau mengatakan bahwa dirinya sudah melayangkan surat permohonan pensiun dini.

Kelima, sulit mengatur ritme kehidupan yang serba rutinitas akibat pola kerja kerja mulai pukul 8 pagi – 5 sore, bahkan sampai larut malam. Pegawai harus bekerja dari pagi sampai malam, sehingga waktu istirahat hanya tersedia pada hari Sabtu – Minggu, sehingga tidak dapat sewaktu – waktu keluar kantor atau mengurus keperluan pribadi. Perjalanan dari rumah menuju ke kantor juga membutuhkan banyak waktu, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta; keenam, jam kerja dikantor seolah terbatas dan lebih kecil dibandingkan dengan  beban pekerjaan yang harus dikerjakan, sehingga urusan makan dan ibadah sering terabaikan. Demikian juga, deadline penyelesaian kerja dan urusan ‘pribadi’ bos menyita banyak waktu;

Ketujuh, tidak sedikit pegawai terjerat hutang, gali lubang tutup lubang untuk memenuhi kebutuhan hidup, terutama untuk perumahan dan kendaraan atau barang konsumtif lainnya.Rumah bagi pegawai merupakan barang yang sangat mahal, sehingga harus dibiayai dengan kredit. Langkah ini terpaksa diambil karena bila menunggu sampai uang terkumpul, biasanya akan semakin sulit mendapatkan rumah karena kenaikan harga rumah lebih tinggi dari kemampuan pegawai untuk mengumpulkan uang itu. Berbeda dengan pengusaha, berhutang karena digunakan untuk menambah modal usaha, sehingga lebih bermanfaat dan tidak membebani keuangan; Kedelapan, takut sewaktu bekerja. Merasa was-was dan khawatir terhadap posisi yang saat ini dianggap bagus dan disukai. Perasaan was – was ini sering menjangkiti pegawai karena takut tergusur. Apalagi jika posisi tersebut banyak diminati pegawai dan dinilai ‘bergengsi’ atau ‘tempat basah’, sehingga seringkali terjadi gesekan – gesekan antar pegawai yang menimbulkan ketidaknyamanan kerja;

Kesembilan, prestasi tidak selalu berbanding lurus dengan karier dan penghasilan. Untuk dapat memperoleh karir yang bagus, prestasi kerja yang baik bukan jaminan. Terlalu banyak pegawai memiliki prestasi gemilang, tetapi karirnya tidak sebagus prestasinya. Selain prestasi kerja, karir bagi pegawai lebih banyak ditentukan oleh kemampuan ‘menjual’ diri kepada atasan, baik dalam arti positif ataupun negatif. Bahkan untuk meminta gaji yang ‘layak’ pegawai seringkali harus melakukan demo kepada pihak manajemen. Kenaikan gaji bagi pegawai juga sudah ditentukan secara berkala misalnya setiap tahun sekali, dan hal ini berbeda dengan kenaikan penghasilan pengusaha. Pengusaha bisa kapan saja menaikkan penghasilannya, dengan cara meningkatkan kinerja atau ekspansi usaha.

Di perusahaan tertentu (mayoritas?) bahkan terdapat sebuah paradok, dimana seorang pegawai yang memiliki kinerja dan prestasi baik justru sulit mendapatkan promosi karena atasan tidak mengijinkan dengan alasan tidak ada pengganti atau tenaganya masih dibutuhkan di unit tersebut. Sebaliknya, pegawai dengan kinerja biasa saja atau bahkan tidak disukai atasan, justru mudah meninggalkan unit kerjanya dan mendapatkan tempat lebih baik bahkan promosi, karena ia bisa pindah dari suatu unit ke unit lain dengan leluasa. Berbeda dengan pengusaha, ketekunan dan prestasi kerja biasanya berbanding lurus dengan penghasilan yang diterima. Semakin berhasil, semakin besar kesempatan untuk mendapatkan penghasilan lebih besar. Mengenai hal ini, kita bisa menyimak kisah sedih seorang pegawai Hotel Inna Wisata – Hotel Indonesia berikut ini. Sebagaimana diberitakan dalam sebuah harian nasional (Kompas) pada tanggal 2 Mei 2004, Odih S – 53 tahun yang sudah bekerja selama 26 tahun dan selama itu ia mendapatkan penghargaan sebanyak dua kali sebagai pegawai teladan. Prestasi itu ternyata tidak membawa perubahan signifikan terhadap karirnya, bahkan kini ia harus pasrah menunggu PHK karena perusahaan tempat bekerja ditutup dan digantikan oleh manajemen baru dari pihak swasta.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here