Kemandulan Finansial Part 2 (Tidak Sedia Payung Sebelum Hujan)

0
148

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Kesalahan kedua, tidak sedia ‘payung’ sebelum ‘hujan’

Krisis ekonomi yang menimpa negara kita pertengahan 1997 lalu telah membuat ratusan ribu hingga jutaan pekerja di PHK, termasuk pengusaha pun banyak yang bangkrut. Apakah mereka siap dengan keadaan tersebut? Coba ingat – ingat keluarga, teman, tetangga atau bahkan Anda sendiri yang di PHK, seberapa siap menerima keadaan itu? Saya yakin banyak yang tidak siap, bahkan tidak sedikit yang stress menghadapi kenyataan itu. Mengapa hal itu bisa terjadi? karena tidak ada persiapan atau antisipasi.

Ketika seseorang sudah menemukan kenyamanan (comfort zone) dalam pekerjaan atau bisnisnya, seringkali mereka lalai mengantisipasi risiko PHK atau bangkrut. Mereka lupa bahwa ada hal yang sangat pasti dalam hidup ini, yaitu ‘hidup ini tidak pasti’. Untuk itu diperlukan persiapan – persiapan menghadapi masa depan yang tidak pasti tersebut. Bila tidak, maka akibatnya adalah :

  1. Tidak siap menerima risiko, sehingga membuat stress
  2. Tidak dapat menangkap peluang yang biasanya hanya datang sekali
  3. Sulit mendapatkan keberuntungan. Keberuntungan akan tercipta dari adanya kesiapan dan kesempatan. Ketika ada kesempatan dan kita tidak siap, maka jangan berharap mendapatkan keberuntungan. Demikian sebaliknya, ketika kita sudah siap sementara tidak ada kesempatan maka tidak akan mendapatkan keberuntungan.
  4. Mendapatkan kerugian yang lebih besar.

Kesalahan ketiga, mendahulukan simbol kemapanan

Fitrah manusia memang cenderung untuk hidup bermewah – mewahan. Bahkan tidak jarang orang melakukan apa pun untuk meraih kemewahan itu. Kecenderungan manusia juga ingin menunjukkan simbol – simbol kemapanan, status tertentu atau gengsi, meski secara finansial belum mampu.

Perilaku manusia dalam mengelola keuangannya dapat digolongkan menjadi tiga kategori yaitu boros, pelit dan sederhana. Orang yang boros, menghabiskan uangnya untuk membeli barang – barang hedonis. Baginya hidup harus ‘dinikmati’, dengan persepsi yang salah. Mereka merasa kaya, meski sebetulnya belum kaya. Mereka lupa bahwa menikmati hidup tidak identik dengan bermewah – mewahan. Mereka juga lupa bahwa menikmati hidup bukan berarti menghabiskan uang untuk kepentingan pribadi saja tanpa memedulikan kehidupan orang lain.

Anda mungkin pernah memperhatikan ibu – ibu yang suka ‘ngerumpi’ saat arisan atau saat mengantarkan anaknya sekolah?. Diantara mereka ada yang bangga menceritakan suaminya kerja di sebuah perusahaan bonafid dengan gaji puluhan juta dan mobil mewah yang baru saja dibeli. Ibu yang lain cerita kebiasaannya berlibur ke luar negeri, bermalam di hotel berbintang dan sebagainya. Namun setelah beberapa tahun berlalu – dalam sebuah reuni – kabar apa lagi yang mereka ceritakan? Ada yang dikabarkan pindah ke rumah kontrakan karena suaminya di PHK, ada yang dikejar – kejar tukang tagih, di adukan ke KPK karena tuduhan korupsi dan sebagainya.

Golongan kedua adalah orang yang sangat pelit, sampai tidak dapat menikmati hartanya. Justru yang menikmati adalah orang lain karena dia mati tidak membawa hartanya. Lalu ada pertanyaan, mengapa mereka bersusah payah mengumpul – ngumpulkan harta bila tidak dinikmati? Idealnya kita termasuk golongan ketiga yaitu hidup sederhana, sesuai dengan kemampuan finansial. Hidup sederhana bukan berarti tidak menikmati hidup ini dengan uang yang kita punya. Boleh saja kita beli mobil, rumah mewah, keliling dunia dan lainnya asalkan masih dibawah kemampuan finansial.

Contoh sederhananya demikian. Bila Anda memiliki penghasilan setiap bulan dua ratus juta rupiah dan punya uang tunai sepuluh milyar, punya rumah seharga 3 milyar, mobil seharga lima ratus juta dan setiap tahun keliling dunia. Itu sah-sah saja, asalkan Anda sudah menafkahkan sebagian uang untuk sosial. Bila dengan kekayaan sebesar itu, kemudian Anda hanya punya mobil ‘butut’ yang suka ngadat (mogok) dan makan tahu– tempe setiap hari, bekerja terus – menerus tanpa rekreasi memadai, Anda termasuk orang pelit. Anda mungkin juga termasuk orang yang mendewa – dewakan uang. Hidup seperti ini pun tidak dibenarkan. Jadi wajar atau tidak, semuanya dikembalikan pada hati nurani, kelaziman, serta kemampuan finansial. Adapun akibat mendahulukan simbol kemapanan adalah :

  1. Ada kecenderungan hidup diatas kemampuan finansial, sehingga menyebabkan kebangkrutan finansial. Tidak ada orang yang mampu bertahan lama bila ia selalu hidup diatas kemampuan finansialnya.
  2. Cenderung membelanjakan uang tidak sesuai kebutuhan, demi prestise untuk mendapatkan pengakuan orang lain, supaya dianggap lebih kaya, lebih baik dan sebagainya.
  3. Berani menggunakan hutang untuk keperluan konsumtif, akibatnya terjebak hutang seumur hidup!

 

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here