Kemandulan Finansial Part 3 (Strategi Pensiun)

0
64

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Kesalahan ketiga, mendahulukan simbol kemapanan

Fitrah manusia memang cenderung untuk hidup bermewah – mewahan. Bahkan tidak jarang orang melakukan apa pun untuk meraih kemewahan itu. Kecenderungan manusia juga ingin menunjukkan simbol – simbol kemapanan, status tertentu atau gengsi, meski secara finansial belum mampu.

Perilaku manusia dalam mengelola keuangannya dapat digolongkan menjadi tiga kategori yaitu boros, pelit dan sederhana. Orang yang boros, menghabiskan uangnya untuk membeli barang – barang hedonis. Baginya hidup harus ‘dinikmati’, dengan persepsi yang salah. Mereka merasa kaya, meski sebetulnya belum kaya. Mereka lupa bahwa menikmati hidup tidak identik dengan bermewah – mewahan. Mereka juga lupa bahwa menikmati hidup bukan berarti menghabiskan uang untuk kepentingan pribadi saja tanpa memedulikan kehidupan orang lain.

Anda mungkin pernah memperhatikan ibu – ibu yang suka ‘ngerumpi’ saat arisan atau saat mengantarkan anaknya sekolah?. Diantara mereka ada yang bangga menceritakan suaminya kerja di sebuah perusahaan bonafid dengan gaji puluhan juta dan mobil mewah yang baru saja dibeli. Ibu yang lain cerita kebiasaannya berlibur ke luar negeri, bermalam di hotel berbintang dan sebagainya. Namun setelah beberapa tahun berlalu – dalam sebuah reuni – kabar apa lagi yang mereka ceritakan? Ada yang dikabarkan pindah ke rumah kontrakan karena suaminya di PHK, ada yang dikejar – kejar tukang tagih, di adukan ke KPK karena tuduhan korupsi dan sebagainya.

Golongan kedua adalah orang yang sangat pelit, sampai tidak dapat menikmati hartanya. Justru yang menikmati adalah orang lain karena dia mati tidak membawa hartanya. Lalu ada pertanyaan, mengapa mereka bersusah payah mengumpul – ngumpulkan harta bila tidak dinikmati? Idealnya kita termasuk golongan ketiga yaitu hidup sederhana, sesuai dengan kemampuan finansial. Hidup sederhana bukan berarti tidak menikmati hidup ini dengan uang yang kita punya. Boleh saja kita beli mobil, rumah mewah, keliling dunia dan lainnya asalkan masih dibawah kemampuan finansial.

Contoh sederhananya demikian. Bila Anda memiliki penghasilan setiap bulan dua ratus juta rupiah dan punya uang tunai sepuluh milyar, punya rumah seharga 3 milyar, mobil seharga lima ratus juta dan setiap tahun keliling dunia. Itu sah-sah saja, asalkan Anda sudah menafkahkan sebagian uang untuk sosial. Bila dengan kekayaan sebesar itu, kemudian Anda hanya punya mobil ‘butut’ yang suka ngadat (mogok) dan makan tahu – tempe setiap hari, bekerja terus – menerus tanpa rekreasi memadai, Anda termasuk orang pelit. Anda mungkin juga termasuk orang yang mendewa – dewakan uang. Hidup seperti ini pun tidak dibenarkan. Jadi wajar atau tidak, semuanya dikembalikan pada hati nurani, kelaziman, serta kemampuan finansial. Adapun akibat mendahulukan simbol kemapanan adalah :

  1. Ada kecenderungan hidup diatas kemampuan finansial, sehingga menyebabkan kebangkrutan finansial. Tidak ada orang yang mampu bertahan lama bila ia selalu hidup diatas kemampuan finansialnya.
  2. Cenderung membelanjakan uang tidak sesuai kebutuhan, demi prestise untuk mendapatkan pengakuan orang lain, supaya dianggap lebih kaya, lebih baik dan sebagainya.
  3. Berani menggunakan hutang untuk keperluan konsumtif, akibatnya terjebak hutang seumur hidup!

Kesalahan keempat, bertindak ekstrim dalam kebijakan finansial

Salah satu sikap manusia yang sering menimbulkan masalah dikemudian hari adalah serakah (geedy). Dengan sikap ini, manusia tidak hanya ingin cepat kaya, ingin cepat naik pangkat / jabatan atau keinginan lain yang serba cepat (instant). Tidak ada salah orang ingin cepat meraih sesuatu asal tetap memperhatikan rambu – rambu kaidah atau moral yang berlaku. Salah satunya adalah kita tidak boleh melakukan sesuatu dengan cara – cara ekstrim dengan harapan segera mendapatkan sesuatu dengan cepat. Misalnya kita boleh berhutang, asalkan memperhatikan kaidah hutang yang benar. Demikian juga dalam berinvestasi, meski tujuannya baik, jika tidak dilakukan secara bijaksana malah menyebabkan kerugian. Pun demikian, berasuransi dengan tujuan melindungi keuangan dan masa depan, bisa berubah menjadi masalah apabila tidak tahu caranya dan bertindak berlebihan. Jadi, sebagaimana ulasan pada bab sebelumnya, uang akan berpihak pada orang – orang bijaksana dalam mengelolanya. Uang akan lari jika diperlakukan tidak adil oleh pemiliknya.

Kesalahan kelima, tidak memanfaatkan daya ungkit finansial

Ada orang merasa harus bekerja sendirian dalam meraih tujuan yang diinginkan, termasuk dalam meraih kekayaan dan keberkahan finansial. Maka akibatnya tujuan itu lambat diraih, bahkan sangat sulit untuk diraih. Disinilah perlu memanfaatkan daya ungkit finansial. Selengkapnya baca sub bab berikutnya.

Kesalahan keenam, mengabaikan kesehatan demi uang

Kebanyakan orang mengejar uang tetapi mengabaikan kesehatannya. Mereka lupa kalau uang banyak tidak bisa membeli kesehatan, karena uang hanya bisa membayar dokter atau rumah sakit. Oleh karena itu menjaga kesehatan itu tetap lebih penting dalam mencari uang. Jangan sampai kesehatan dikorbankan demi uang. Maka olah raga, makan bergizi secara teratur, tidur dan istirahat cukup harus menjadi bagian terpenting dalam perencanaan keuangan. Tidak bisa diabaikan! Kita sering menyaksikan orang – orang kaya menderita dengan berbagai penyakit berat. Mungkin hal itu karena kesalahan, ‘Mengabaikan Kesehatan demi Mengejar Uang’ atau karena pola makan berlebihan. Akibatnya, seringkali kali otak bawah sadar kita mengatakan, “Ah lebih baik seperti ini saja, daripada kayak si Rudi, punya uang banyak tapi tidak bisa menikmati uangnya karena sakit – sakitan, tidak boleh makan ‘ini-itu’. Makanannya dibatasi”. Nah, ketika hal ini terjadi, kita menjadikan realitas itu untuk malas bekerja keras atau tidak berusaha meraih kekayaan. Sebenarnya tidak ada hubungan signifikan antara orang kaya dengan penyakit berat. Permasalahannya hanya karena lupa menjaga keseimbangan hidup. Bila keseimbangan hidup tidak dijaga, maka pada suatu kondisi tertentu kita akan merasa, uang berapa pun yang kita peroleh tidak akan ada gunanya.

Kesalahan ketujuh, kekacauan strategi pensiun

Pada bulan Nopember 2004 lalu, sekitar 4.5 juta pelamar Pegawai Negeri Sipil (PNS) berjubel di berbagai daerah. Para pelamar kerja itu memperebutkan lowongan pekerjaan yang hanya tersedia 200 ribu orang. Apa yang mendorong mereka sehingga rela mengadu nasib tersebut? Mereka ingin mendapatkan pensiun di masa depan. Mereka berharap hidup makmur setelah pensiun. Itulah alasan utamanya. Akankah harapan itu menjadi kenyataan? Mari kita simak analisis berikut ini.

Lembaga pensiun yang selama ini diharapkan ‘menjamin’ pembayaran uang pensiun pegawai negeri sipil (PNS), saat ini mulai diragukan kemampuannya. Perhatikan sistem pembayaran pensiun PNS. Sejak Januari 2003, sebanyak 79 persen dana pensiun mereka diambil dari APBN dan 21 persen dari PT.Taspen. Jika sistem ini diteruskan, maka pada tahun 2014 aset PT. Taspen akan habis, sehingga kemungkinan besar sebagian gaji pensiunan PNS tidak lagi terbayar.

Selain itu. untuk dapat hidup sejahtera di masa pensiun, seseorang tidak bisa bergantung dengan program pensiun, karena program pensiun hanya memberikan kontribusi pendapatan yang kecil. Menurut Hendri Hartopo (2003), sebesar 80 persen kecukupan sumber tabungan pensiun tersebut sangat ditentukan oleh program individu masing – masing dan sisanya sebesar 5 persen berasal dari bantuan pemerintah dan 15 persen dari program perusahaan. Jadi, sejahtera atau tidak pada masa pensiun nanti sangat – sangat tergantung pada masing-masing individu.

Ironisnya, masih banyak orang yang menggantungkan nasib pensiunnya hanya pada perusahaan tempat bekerja, tanpa tahu berapa uang pensiun yang akan diterima di masa depan. Mereka tidak tahu berapa penghasilan minimal yang harus disediakan saat pensiun nanti. Mereka juga tidak menyadari bahwa menggantungkan sepenuhnya masa depan hanya pada perusahaan adalah langkah yang berbahaya. Buktinya ada lembaga pensiun atau perusahaan asuransi gulung tikar sebelum membayar uang pensiun nasabahnya. Tidak sedikit pula lembaga – lembaga itu tidak mampu membayar uang pensiun sesuai janjinya karena kesalahan managemen. Di Amerika, krisis seperti itu sudah mulai terasa, dimana sebagian perusahaan – perusahaan besar sudah tidak lagi memberikan jaminan pensiun kepada karyawannya dengan alasan efisiensi.

Oleh karena itu, alangkah bijaksananya bila mulai sekarang tidak lagi mengandalkan jaminan pensiun seperti itu. Banyak cara untuk menggantikan program pensiun yang dapat dilakukan sendiri, sebagaimana dibahas bab sebelumnya.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here