Kisah Lain Bebas Hutang Part 1

0
210

Selain kisah diatas, dialog dibawah ini semoga membantu anda bagaimana memahami masalah hutang. Ini sebuah dialog  antara orang yang pernah punya beban hutang dengan orang yang saat ini dirundung masalah hutang (kisah nyata ini saya kutip dari sumber di internet).

Debitur (D) : Pak, saya pusing, masalah saya begitu banyak. Orang lain sudah tidak percaya lagi sama saya… hutang banyak… istri minta cerai, anak tidak lagi menghargai saya. Saya malu.  Saya harus bagaimana? Rasanya ingin ingin lari dari kenytaan ini.

Mantan Debitur (MD) : J he he he….  Masalah ini pernah saya alami. Saya tau persis gimana rasanya… dulupun sempat terpikir untuk minggat (lari bersembunyi) sampai akhirnya, Allah memberikan hidayahnya….

Saya anggap semua peristiwa buruk  yang menimpa saya adalah proses pembersihan dari dosa dosa saya. Banyak sekali dosa saya. Banyaklah… dosa riba, dan masih banyak lagi dosa lain…  Awalnya saya coba ikhtiar lalu pasrah. Hasilnya? gak selesai juga. Akhirnya tak balik,  pasrah total,  aktifitas yang “ngemis” bantuan kemanusiaan yang sering kita sebut ikhtiar salah kaprah itu tidak lagi saya lakukan…

Saya gak lagi konsultasi sana sini, saya hanya mepet  (mendekat) kepada ulama yang membimbing saya. Mulut saya kunci untuk mengeluh kepada manusia, saya kumpulkan “keluhan-keluhan” itu tiap hari lalu setelah shalat tahajud saya tumpahkan keluhan saya kepada Allah.

Saya gak lagi, mikir strategi bisnis. Saya gak lagi belajar mengelak dan lari bahkan mengakali tanggung-jawab saya dengan berbagai trik dan jurus atau apapun itu namanya, karena memang hutang WAJIB dibayar.

Saya nggak lagi mengandalkan tenaga saya untuk mencari solusi kesana kesini yang juga saya sebut namanya ikhtiar,  karena memang  itu pun hanya akan saya jadikan alasan untuk menjawab sang penagih hutang…

Akhirnya, saya pasrah… pasrah total… Saya mepet  (mendekat) kepada Allah. Shalat lima waktu jamaah, tambah shalat dhuha nggak pernah putus. Sholat malam selalu saya pake buat curhat ke Allah. Saya banyakin deres (baca) Qur’an. Ternyata ini yang sebenarnya disebut ikhtiar…

Setelah saya lakukan secara istiqamah, solusi datang. Jalan selalu muncul. Peluang datang dengan sendirinya. Tidak perlu extra capek untuk mengeksekusinya tapi berhasil. Padahal secara nalar jika kerja keras dengan fisik dan otak dalam waktu sesingkat itu tidak mungkin dapat hasil yang sebesar itu…

Akhirnya… ikhtiar saya ke langit (Allah)… bukan lagi mengandalkan otak dan logika karena memang rezeki itu hal ghaib, tidak akan pernah bisa di raba dengan yang serba indra, tapi hanya bisa dengan kejernihan dan ketenangan hati saja.

Aktifitas kerja fisik yang saya lakukan saya niatkan bukan lagi untuk hasil, tapi dalam rangka mensyukuri nikmat yang sudah diberi anggota badan yang lengkap, dan saya niatkan “setor” muka kepada Allah. Terserah Allah setoran keringat saya mau “dihargai” dengan bentuk rezeki seperti apa dan seberapa banyak…

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here