Managemen Hutang – Piutang (Part 1)

0
322

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Dalam kehidupan modern dengan gaya konsumerisme, sulit menemukan orang yang bebas hutang. Selain tuntutan kebutuhan yang meningkat, juga godaan berbagai iklan produk yang setiap tahun bertambah jumlahnya. Tidak hanya itu, jika dulu orang ‘malu’ berhutang, kini hutang justru menjadi produk yang menguntungkan dan pasarnya luas. Kita dapat saksikan betapa banyak bank dan lembaga perkreditan gencar menawarkan hutang kepada masyarakat. Bila melalui hutang belum berhasil menggaet debitur (konsumen), mereka berusaha menawarkan barang dengan berbagai kemudahan pembayarannya. Bahkan untuk paket liburan wisata saja, orang ditawari bayar secara kredit!.

Menghadapi kondisi yang demikian itu, kita harus mampu menahan dan membedakan mana kebutuhan dan mana yang hanya keinginan. Kita harus pula mengetahui managemen hutang yang baik. Hutang memang tidak dilarang, apalagi diharamkan. Akan tetapi mengurangi hutang dan memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhan adalah cara bijak. So ….. sebelum berhutang harus memperhatikan hal-hal berikut :

Niat baik

Jangan pernah sekali-kali berniat untuk tidak membayar hutang, karena selain harus dipertanggung jawabkan di akhirat, di dunia pun akan menemukan kesulitan. Kalau pun si pemilik uang (kreditor) tidak melakukan perlawanan, nama baik akan tercemar dan orang tidak akan percaya lagi pada Anda. Akibatnya, bila sewaktu – waktu membutuhkan uang atau modal, maka jangan harap mendapatkan kembali. Masalah uang dan hutang ini sangat sensitif, sehingga perbuatan jelek Anda akan cepat menyebar ke berbagai kalangan.

Islam mengajarkan kepada kita, agar hutang segera dilunasi bila sudah mampu membayarnya. Islam juga memberikan ajaran berupa do’a agar kita diberikan kemudahan membayar hutang.

Tingkat prioritas kebutuhan

Benarkah kita membutuhkan hutang baik berupa uang tunai atau dalam bentuk barang? Kadang – kadang orang lebih mengikuti keinginan daripada kebutuhan yang seharusnya. Misalkan saja Anda mendapatkan tawaran handphone dengan cicilan selama 12 bulan. Saat itu Anda memiliki handphone tapi fitur dan teknologinya belum mutakhir. Karena nafsu, godaan dan dorongan penjual, Anda menerima tawaran itu. Padahal HP Anda saat itu masih bisa digunakan. Anda juga sebenarnya tidak membutuhkan fitur-fitur lain yang lebih canggih karena kebutuhan utamanya hanya menelepon dan menerima panggilan. Dengan demikian, membeli HP yang lebih baru bukanlah kebutuhan mendesak, dibandingkan dengan biaya anak sekolah misalnya.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here