Managemen Hutang – Piutang (Part 2)

0
256

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Kemampuan Membayar

Kita sering lupa kalau berhutang harus memperhatikan kemampuan membayar. Bahkan saking semangatnya, kita memaksakan berhutang – meski sudah tidak memiliki kemampuan membayar, dengan harapan ada rejeki dikemudian hari. Sebagai contoh, banyak pegawai tidak sabar membelanjakan ‘bonus’ yang akan diterima. Mereka membeli barang konsumtif dengan cara kredit dan akan dibayar saat bonus dibagikan. Padahal, kebiasaan membayar bonus itu tidak dapat dipastikan karena tergantung kinerja perusahaan. Bila perusahaan untung maka bonus dibayarkan, tetapi bila tidak memenuhi target atau rugi maka bonus pasti tidak dibayarkan. Dalam managemen hutang, kejadian seperti ini tidak dapat dibenarkan karena uang yang belum diterima tidak dapat dijadikan ‘jaminan’ membeli barang yang tidak penting dan tidak mendesak. Tidak ada aturan pasti berapa persen dari penghasilan yang bisa digunakan untuk membayar hutang, namun sebagian pakar keuangan menyarankan maksimal 30 persen. Misalnya penghasilan Anda sebesar Rp.5.000.000,- per bulan, maka maksimal Rp.1.500.000,- yang dapat digunakan untuk mengangsur. Bila tidak memperhatikan kemampuan membayar, kita bisa terpuruk bahkan terjebak seumur hidup membayar angsuran kredit.

Persetujuan pasangan

Hutang menjadi taruhan di akhirat. Itulah sebabnya kita harus memberitahukan kepada pasangan (suami / Istri), agar mereka juga ikut bertanggung jawab atas hutang kita. Lebih baik bila tidak hanya memberitahukan tetapi juga persetujuan dan kerelaan pasangan. Langkah ini untuk memudahkan mengatur keuangan secara keseluruhan. Bayangkan bila Anda ngumpet terhadap pasangan, maka bila suatu saat tidak mampu membayar hutang, Anda akan merepotkan pasangan bahkan bisa memicu hubungan keluarga menjadi tidak nyaman. Sebaliknya bila hutang sudah dibicarakan, maka suka – dukanya hutang akan dipikul berdua. Lebih penting dari itu, apabila meninggal, mereka berusaha melunasi.

Hutang Baik Vs Hutang Buruk

Tidak semua hutang itu jelek, tergantung jenis dan peruntukannya. Bila digunakan untuk membeli kebutuhan konsumtif (barang – barang yang nilainya menurun) seperti membeli HP terbaru, mobil baru dan lainnya itu termasuk hutang jelek. Berbeda bila hutang untuk keperluan produktif seperti modal kerja, investasi ruko, rumah, rukan dan lainnya. Jadi untuk keperluan produktif, silahkan Anda berhutang! Namun untuk keperluan konsumtif, langkah yang paling bijaksana adalah tidak memaksakan diri membeli secara kredit. Barang konsumtif sebaiknya dibeli secara tunai. Bila belum mampu, tunda sementara waktu untuk membeli barang tersebut. Prinsip buy now pay later (beli sekarang bayar kemudian) harus dibuang jauh-jauh untuk barang konsumtif, karena prinsip itu menyusahkan dikemudian hari. Bagaimana bila kita butuh uang mendesak seperti untuk berobat atau mengganti kompor gas yang rusak?. Untuk berobat tentu tidak bisa ditunda – tunda, demikian juga untuk membeli kompor gas juga tidak bisa ditunda karena sangat dibutuhkan untuk kegiatan masak – memasak. Agar hutang dapat memberikan manfaat yang sebesar – besarnya maka kita dapat melakukan strategi berikut ini :

(a) Mempercepat pelunasan hutang konsumtif

Semakin lama mengangsur barang – barang konsumtif, semakin besar kerugian yang akan terjadi. Maka dari itu percepatlah pelunasan hutang konsumtif. Saya justru menyarankan, untuk barang konsumtif sebaiknya tidak dibeli secara kredit tetapi lebih baik dengan tunai. Bila tidak mampu tunai, tabunglah sampai cukup membelinya.

(b) Memperbesar dan memperlambat pelunasan hutang produktif

Tidak ada salahnya memperbesar hutang produktif asalkan secara kalkulasi keuangan mampu terbayar. Tidak selamanya hutang itu buruk, karena untuk kasus-kasus tertentu hutang malah ‘dianjurkan’, seperti membeli rumah, kios, ruko atau barang-barang yang menghasilkan atau nilainya naik setiap tahun. Dalam jangka panjang, membeli barang seperti itu biasanya menguntungkan. Kenaikan harga barang biasanya lebih besar dari angsuran dan bagi hasil (bunga).

Misalnya Anda membeli ruko seharga Rp.500 juta dengan kredit sebesar Rp.400 juta selama 10 tahun. Dalam hitungan 3 tahun, harga ruko bisa naik hampir 2 kali lipat. Bila Anda ingin menjual ruko tersebut dengan harga Rp.1 milyar, Anda akan mendapatkan keuntungan kotor sebesar Rp.600 juta. Setelah dikurangi dengan opportunity cost (peluang yang hilang dari uang muka Rp.100 juta, bila diinvestasikan dengan asumsi hasil investasi 10% selama 3 tahun ± Rp.30 juta) dan biaya kredit Rp. 400 juta selama 3 tahun ± Rp.168 juta (asumsi bunga 14%) maka keuntungan Anda ± Rp.462 juta. Inilah strategi hutang yang oleh sebagian pengusaha dimanfaatkan untuk meningkatkan asetnya dalam waktu cepat, dengan cara memperbesar hutang produktif.

Memperlambat pelunasan, otomatis memperkecil jumlah angsuran dengan jangka waktu yang panjang. Dengan cara ini, Anda tidak dirugikan karena barang yang dibeli nilainya akan naik setiap tahun, disamping barang tersebut memberikan penghasilan (sewa dan lainnya)

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here