Managemen Hutang – Piutang (Part 3)

0
136

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Kamuflase kartu kredit

Kartu kredit bisa memberikan dampak psikologis seolah-olah kita merasa kaya dengan plafon kredit tersebut Dengan kartu kredit, kita merasa diberikan kemudahan sehingga kemudahan itu harus dimanfaatkan. Padahal kemudahan kartu kredit akan menjadi bumerang bila salah memanfaatkannya. Kartu kredit selain memberikan manfaat juga memberikan keburukan!. Meski demikian kita jangan ‘anti’ kartu kredit, karena kita bisa memanfaatkan kartu kredit untuk keuntungan kita. Kartu kredit bisa digunakan sebagai alat pembayaran. Kartu kredit juga bisa untuk memperoleh kredit dan modal kerja tanpa bunga, karena kita bisa memanfaatkan pembayaran mundur (kredit) hampir 2 bulan. Penjelasannya begini. Dalam tagihan kartu kredit ada dua tanggal yang harus diperhatikan. Pertama, tanggal cetak, tanggal dimana seluruh transaksi yang telah dilaksanakan. Tanggal cetak transaksi biasanya memiliki beberapa pilihan. Kita bisa memilih tanggal cetak 25, 30 atau tanggal 5 dab sebagainya, tergantung masing-masing penerbit kartu kredit. Kedua, tanggal jatuh tempo pembayaran. Jarak antara tanggal cetak dan tanggal jatuh tempo pembayaran antara 14 – 20 hari. Ambil contoh sekarang bulan Juli 2005. Bila Anda memilih tanggal cetak tanggal 10, maka seluruh transaksi selama satu bulan mulai tanggal 11 Juni sampai 10 Juli akan tercetak dan jatuh tempo pembayaran pada 30 Juli 2005. Bila Anda bertransaksi pada tanggal 11 Juni, Anda harus membayar tanggal 30 Juli 2005 (ada kelonggaran 1 bulan 20 hari). Bank tidak akan membebankan bunga bila Anda membayar lunas.

Catatan yang baik

Sebagian besar hutang – piutang itu berjangka cukup panjang. Mulai bulanan sampai puluhan tahun seperti kredit kepemilikan rumah (KPR). Dengan rentang waktu yang begitu panjang kita memerlukan dokumentasi yang baik. Bila tidak, kredit bisa menjadi masalah. Meski pihak kreditur (pemberi hutang) memiliki catatan lengkap seperti bank misalnya, namun kita tetap harus memiliki catatan tersendiri. Bila dikemudian hari terjadi perselisihan atau perbedaan catatan, kita sudah memiliki bukti – bukti yang mendukung. Islam sudah mengatur mengenai hal ini, sebagaimana firman Allah :

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah (berjual beli, berhutang piutang atau sewa menyewa dan lainnya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. …..” Q.S Al – Baqarah (2) : 282

Selain memperhatikan hal-hal diatas, kita juga harus memahami strategi dalam berhutang agar hutang tidak hanya memberatkan keuangan tetapi lebih dari itu, hutang dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bahkan bisa meningkatkan kekayaan. Ini bukan berlebihan, karena banyak pengusaha sukses yang sudah membuktikan hal ini. Mengubah hutang menjadi kekayaan!. (Dibahas dalam bab berikutnya).

Sisakan kapasitas untuk hutang darurat

Kita tidak tahu apakah kondisi keuangan selalu cukup atau tidak sepanjang masa. Hari ini rejeki berlimpah, mungkin tahun depan rejeki tersendat. Maka tidak selayaknya kita menggunakan sebagian besar penghasilan untuk membayar angsuran kredit. Kita perlu menyediakan ‘ruang’ untuk berjaga – jaga manakala membutuhkan dana darurat. Idealnya kita memiliki dana cadangan berupa uang tunai untuk kondisi darurat tersebut. Namun bila kondisi keuangan masih belum memungkinkan untuk itu, tidak ada salahnya jika kita tidak ‘rakus’ dengan hutang sehingga tidak ada ‘ruang’ untuk berhutang lagi.

Prioritaskan pembayaran hutang berbunga besar.

Bila memiliki beberapa sumber hutang, kita harus memprioritaskan untuk melunasi hutang yang berbunga besar. Kartu kredit, hutang rentenir atau kredit tanpa agunan biasanya berbunga besar. Jenis kredit seperti itu harus segera dilunaskan, agar tidak membebani keuangan. Bila kita memiliki dua kartu kredit dengan penggunaan maksimal, prioritaskan pelunasan kartu kredit berbunga besar. Saat ini banyak bank penerbit kartu kredit menawarkan transfer balance (melunasi outstanding kredit di tempat lain, dan memindahkan hutangnya ke tempat penerbit kartu kredit baru). Kita dapat memanfaatkan fasilitas itu, bila bunga yang ditawarkan lebih rendah untuk melunasi kartu kredit yang sedang berjalan. Setelah lunas, sebaiknya tidak menggunakan lagi kartu kredit untuk kepentingan konsumtif. Selain memperhatikan managemen hutang, kita harus memperhatikan pula managemen piutang (memberikan hutang kepada pihak lain). Bagi pengusaha, hutang – piutang adalah hal biasa. Namun bagi pegawai, piutang yang diberikan biasanya hanya berhubungan dengan bantuan kepada pihak lain, jarang yang berhubungan dengan bisnis.

Kita tentu tidak bisa menolak begitu saja bila ada teman, saudara atau orang dekat kita yang memerlukan bantuan keuangan. Misalnya ada saudara membutuhkan biaya sekolah atau berobat, sebaiknya kita memberikan bantuan atau hutang sesuai kemampuan. Syukur-syukur bila memberikan bantuan sesuai permintaannya. Meski niat memberikan hutang untuk menolong, tidak jarang uang kita tidak dibayar. Oleh karena itulah kita harus selektif dalam memberikan hutang. Apakah hutang benar-benar sesuai kebutuhannya ataukah si peminjam sengaja ingin ngemplang (tidak mau bayar). Berkenaan dengan piutang tersebut, Islam mengajarkan bila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya akan lebih baik bila diberikan kelonggaran sampai kita sedekahkan, sebagaimana firman Allah :

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh (waktu) sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua hutang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui”.

Q.S Al – Baqarah (2) : 280

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here