Melipatgandakan Kekayaan Secara Cepat dan Aman (Rezeki)

0
275

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Selain kelima leverages diatas, kita harus menambah dengan leverages do’a, karena do’a merupakan pengungkit maha dahsyat. Ud’uunii astajib – lakum “Berdo’alah kamu niscaya Aku kabulkan”. Begitulah Allah memerintahkan agar umat-Nya berdo’a dalam setiap kesempatan. Karena dengan do’a urusan menjadi lebih mudah. Dalam hadist qudsi Allah berfirman :

“Aku (Allah) sesuai prasangka hambaku pada-Ku dan Aku (Allah) bersamanya apabila ia memohon kepada-KU” HR.Muslim

Masalah rejeki, jodoh dan mati, rahasianya hanya ada pada Allah. Tidak ada yang tahu apakah si A akan memiliki rezeki banyak atau sedikit, sehingga masalah rezeki ada unsur ‘kegaiban’. Jadi untuk meraihnya harus menggunakan dua jalur yaitu jalur ‘ghaib’ dan jalur phisik. Jalur ghaib dengan cara berdo’a langsung kepada Allah.

Ironisnya, sebagian orang tidak menjadikan do’a sebagai daya ungkit dalam setiap langkahnya. Padahal kekuatan do’a bisa mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Manusia itu lemah, tidak bisa berbuat banyak manakala tidak mendapatkan pertolongan Allah . Sekuat dan sekeras apa pun usahanya, bila bukan karena Allah, maka sia – sia belaka. Manusia hanya bisa berkehendak, Allah yang mengabulkan kehendak. Manusia punya kuasa terbatas, Allah mempunyai kuasa tidak terbatas. Jadi agar kuasa kita bisa lebih besar, maka ‘leburkan’ dengan kekuasaan Allah. Sebab bila hal ini terjadi, maka do’a menjadi sangat – sangat makbul! Kita bisa menyaksikan hal ini pada para wali Allah yang memiliki karomah. Sedangkan untuk para nabi kita menyebutnya mu’jizat.

Kenapa sebagian orang tidak menjadikan do’a sebagai daya ungkit? Kebanyakan orang merasa bahwa do’a yang diminta tidak ’cespleng’ atau langsung dirasakan manfaatnya. Bahkan mereka merasa do’anya tidak pernah dikabulkan. Secara sederhana (meski tidak persis sama), hubungan Allah dan hamba-Nya yang berdo’a itu seperti permohonan anak kepada orang tuanya. Orang tua yang bijaksana dan sayang sama anaknya pasti tidak akan mengabulkan seluruh permintaan anaknya. Hal itu karena berbagai pertimbangan yang seringkali belum dimengerti anaknya. Misalnya seorang anak kelas 4 SD, minta dibelikan sepeda motor. Orang tua tentu sangat berat hati dan tidak akan membelikan motor dengan pertimbangan keselamatan anaknya. Anak seusia itu tentu belum layak untuk mengendarai sepeda motor. Jadi kalau orang tua tidak membeli sepeda motor untuk anaknya, bukan berarti tidak mengabulkan permintaan sang anak tetapi mencari waktu yang tepat. Berdo’a juga mirip dengan kalau kita minta sesuatu kepada orang lain. Disana ada istilah tak kenal maka tak sayang. Demikian pula ketika berdo’a, kita harus mengenal lebih dulu Allah. Mungkin Anda akan bertanya, “Bukankah kita sudah mengenal Allah melalui nama asmaul husna dan sifat – sifatnya? Bahkan setiap shalat kita mengucapkan syahadat, ”Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?”. Menurut saya belum cukup!. Karena Anda belum benar – benar bersaksi. Bersaksi itu berarti pernah menyaksikan atau berjumpa dengan-Nya. Sama seperti ketika saya ceritakan ciri – ciri istri saya, sementara Anda belum pernah berjumpa dengannya. Saya gambarkan bentuk fisiknya, matanya, rambutnya, kulitnya, cara berbicara, dan sebagainya. Apakah itu berarti Anda sudah menyaksikan (berjumpa) istri saya? Pasti belum!. Anda baru mengenal ciri-ciri istri saya.

 

Setiap manusia yang terlahir di dunia ini sebenarnya sudah pernah melakukan persaksian atau pertemuan dengan Allah di alam ruh, namun sebagian besar melupakan pertemuan itu. Ketika itu ruhani kita bermusyahadah dengan Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Al – Al Qur’an, “Alastu birobbikum, Qooluu balaa syahidna”.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka (ruhani) menjawab : Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”.

Q.S Al – A’raaf (7) : 172

Persaksian itu sengaja dilakukan Allah agar di akhirat nanti manusia tidak berkilah dengan mengatakan tidak pernah bertemu Tuhannya. Sedangkan para sufi menggambarkan perjumpaan itu sangat indah sekali, sehingga bayi yang lahir ke dunia selalu menangis karena dia harus berpisah dengan Allah, sang kekasihnya.

Agar kita bisa lebih dekat dengan-Nya, kita harus menemui-Nya. Sebab dengan pertemuan itu, kita akan menjadi merasa dekat, merasa lebih kenal dan bertambah cinta. Pepatah mengatakan, ‘Tak kenal maka tak sayang’. Lebih dari itu, kalau mata hati kita buta di dunia ini (belum merasakan perjumpaan), maka di akhirat nanti kita akan lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan yang benar, Q.S Al – Israa’ (17) : 72.

Bagaimana kita menemui – Nya? Pertama, berharaplah untuk bertemu dengan–Nya, sebagaimana firman Allah :

“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Q.S Al – Ankaabut (29) : 5

Untuk bertemu dengan-Nya tidak perlu mencari ke tempat tempat keramat, di laut, hutan dan sebagainya, karena Allah itu lebih dekat dari urat leher kita (QS : Qaaf, 50 : 16). Sedangkan dalam hadits qudsi Allah berfirman ”man ‘arafa nafsahu faqad arafah robbahu”. “Barang siapa memahami jati dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Untuk sampai merasakan berjumpa Allah (ma’rifatullah) diperlukan seorang mursyid (pembimbing). Tugas kita saat ini adalah menemukan sang mursyid tersebut!. Itulah langkah kedua untuk bertemu Allah.

Pertemuan dengan Allah merupakan langkah awal agar do’a kita lebih makbul. Sedangkan aturan lainnya, sebelum berdo’a kita juga harus memperhatikan hal – hal berikut :

  1. Makanan atau rejeki yang dimakan.

Sa’ad bin Abi Aqqas – yang hidup dijaman sahabat – di kenal sebagai orang yang doanya sangat mustajab. Setiap do’anya selalu dikabulkan oleh Allah. Semua sahabat lain sempat ‘iri’ dan terheran-heran dan kagum kepadanya. Maka salah sahabat lain pun bertanya kepada Sa’ad. “Wahai Sa’ad, boleh aku bertanya kepadamu?”. “Apa yang ingin kau tanyakan ?”, jawab Sa’ad. “Mengapa doa-doamu lebih dikabulkan oleh Allah, diantara sahabat – sahabat yang lain?”. Sa’ad pun menjawab, “Aku tidak memasukkan secuil pun makanan ke dalam mulutku, kecuali aku tahu dari mana makanan itu berasal dan kemana ia keluar”.

Rejeki haram yang kita makan akan menghambat atau menjadikan do’a – do’a tidak terkabul. Kalau begitu, bagaimana dengan koruptor, penipu dan penjahat lainnya bisa menjadi kaya atau sukses? Apakah itu berarti do’nya terkabul? Allah itu maha pengasih dan penyayang. Orang – orang demikian oleh Allah sengaja ‘diangkat-angkat’ atau istidraj.

  1. Tempat berdo’a.

Ada beberapa tampat yang mustajab, diantaranya di depan multazzam (depan Ka’bah, antara hajar aswad dan pintu Ka’bah), hijr Ismail, maqam Nabi Ibrahim, raudhah (antara makam dan mimbar Rasulullah di Masjid Nabawi), padang arafah ketika melakukan wukuf haji. Di tempat – tempat khusus seperti itu, Insya Allah do’a lebih makbul (mustajab). Oleh karena itu, bila Anda sudah memiliki uang cukup untuk menunaikan ibadah haji, segeralah pergi menunaikan ibadah haji. Mintalah apa pun yang Anda yakini baik untuk dunia dan akhirat di tempat- tempat tersebut.

Ada waktu – waktu tertentu yang menjadikan do’a lebih makbul, diantaranya waktu sepertiga malam terakhir, dan waktu diantara dua khutbah Jumat. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : Rasulullah bersabda :

“Turunlah rahmat Tuhan kami ke langit dunia setiap malam ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir, lalu berfirman : ‘Barang siapa berdo’a kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Barangsiapa memohon ampun kepada-Ku maka Aku akan memberinya. Barangsiapa memohon ampun kepada-Ku , maka Aku akan mengampuninya”. HR.Muslim

Selain itu, Rasulullah bersabda, ada tiga golongan orang yang do’anya pasti dikabulkan yaitu do’a orang berpuasa hingga dia berbuka, pemimpin yang adil dan do’a orang yang teraniaya (HR At-Tirmidzi).

Agar hasil yang kita harapkan dapat maksimal, maka kita harus memvisualisasikan lebih dulu keinginan kita. Orang – orang sukses selalu memiliki visualisasi (gambaran) yang jelas atas masa depannya dan selalu di putar berulang – ulang. Hal ini dibuktikan dalam penelitian Dr.Charles Garfield terhadap orang – orang yang berprestasi puncak ternyata mereka suka melakukan visualisasi (menggambarkan secara jelas dalam pikiran). Mereka melihatnya; merasakan; bahkan seolah mengalaminya sebelum benar – benar melaksanakannya. Mereka memulai dengan tujuan akhir (untuk jelasnya, baca buku “Cara Mudah Orang Gajian Menjadi Entrepreneur”)

Untuk melengkapi dahsyatnya kekuatan do’a, berikut ini saya memberikan contoh yang saya kutip dari sebuah internet (Journey to Islam oleh Redaksi 28 September 2005). Cerita itu bermula dari keinginan seorang mualaf untuk menunaikan ibadah haji namun tidak memiliki biaya. Maka setiap malam, sepulang dari pengajian dan sebelum tidur ia menyempatkan shalat tahajjud. Pada saat shalat itulah, ia menangis di hadapan Allah , bermunajat dan memohon kemurahan Allah agar bisa menunaikan ibadah haji.
Setelah sekian puluh kali dilakukan, Allah mengabulkan do’anya. Pada suatu musim haji tahun 1992, di suatu pagi sekitar tiga hari setelah hari raya idul fitri, datang sebuah surat undangan dari Raja Fadh Arab Saudi yang mengundang dia untuk melaksanakan ibadah haji. Subhaanallah.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here