Memaknai Keberkahan Finansial Part 1

0
179

Akhir-akhir ini kata kebebasan finansial (financial freedom) menjadi perbincangan banyak orang. Istilah kebebasan finansial dipopulerkan oleh Robert T. Kiyosaki dalam beberapa bukunya seperti Rich Dad Poor Dad dan The Cashflow Quadrant. Dalam bukunya Kiyosaki menjelaskan kebebasan finansial adalah ketika seseorang berada pada jalur bisnis, dimana orang – orang bekerja untuknya dan dalam jalur kuadran investor dimana uang bekerja untuknya, sehingga orang tersebut telah bebas untuk bekerja atau tidak bekerja secara phisik.

Apakah kebebasan finansial tersebut identik dengan kaya? Masih menurut Kiyosaki, kaya lebih menekankan pada seberapa lama orang bisa bertahan hidup dengan tetap mempertahankan tingkat kehidupannya tanpa harus bekerja secara phisik atau tanpa siapapun dalam keluarganya bekerja secara phisik. Sedangkan dalam buku Wealth Magic tulisan Peter Spann, kebebasan finansial adalah apabila penghasilan yang diterima seseorang dari investasi melampaui jumlah yang dikeluarkan setiap tahunnya. Sedangkan kaya apabila seseorang memiliki banyak uang (tapi berapa jumlah minimalnya, tidak jelas!). Dengan kondisi demikian, menurut Spann orang tersebut dapat dikatakan kaya dan untuk mencapai hal tersebut seseorang harus bisa hidup dari tujuh puluh persen penghasilannya dan sisanya tiga puluh persen digunakan untuk mengumpulkan aset – aset yang akan menambah nilai.

Bila kita cermati, baik Kiyosaki maupun Peter Spann tidak mengaitkan pengertian kaya dan kebebasan finansial dalam jumlah tertentu, karena jumlah kekayaan itu sangat relatif. Tetapi mereka lebih menekankan kebebasan finansial semata – mata untuk kehidupan dunia, dengan segala kebutuhan materinya. Tidak terlihat dimensi ukhrowi (masa depan setelah mati) atau sentuhan spiritual.

Kebebasan finansial memang tidak identik dengan penghasilan berlimpah karena itu bukanlah jaminan. Kunci utamanya adalah untuk apa uang dibelanjakan atau di investasikan. Buktinya banyak kisah tragis orang-orang berpenghasilan melimpah akhirnya jatuh miskin karena gagal mengelola uangnya. Salah satu kasus yang pernah dibicarakan di berbagai media cetak maupun elektronik adalah Mike Tyson. Pada bulan Juni 2004 lalu, melalui pengacaranya, Tyson mengisi formulir proteksi kebangkrutan di pengadilan New York. Sementara itu Don King yang selama ini menjadi promotornya dipecat dan dituntut ke pengadilan karena dianggap salah dalam mengelola (menyelewengkan) uangnya. Bila dilihat dari sisi penghasilan selama berkarir, Tyson hampir mengumpulkan 400 juta dolar AS, namun semua itu habis akibat gaya hidup foya-foya dan ulahnya seperti membeli rumah mewah, mobil, perhiasaan, maupun tunjangan perceraian. Ironisnya, Tyson kini harus menanggung hutang sebesar 43 juta dolar.

Islam memiliki konsep yang sempurna terhadap harta (kekayaan), yaitu bagaimana cara memperolehnya dan membelanjakan. Bagaimana pula menempatkan hati terhadap kekayaan. Harta adalah titipan (amanah) Allah karena itu harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Harta dikatakan sebagai titipan karena didalamnya terdapat hak orang lain seperti fakir miskin, anak yatim, kegiatan fisabilillah (berjuang di jalan Allah). Dalam mengelola harta seharusnya seperti kran air yang menyalurkan air kepada siapapun yang membutuhkan. Tidak pilih kasih, tidak pandang bulu!. Perhatikan kran air, siapa pun yang memutar kran, airnya akan keluar. Tugas kita juga seharusnya seperti tukang parkir yang menjaga mobil alias ‘kekayaan’ titipan. Sewaktu – waktu sang pemilik mobil pasti mengambilnya dan tukang parkir tidak merasa kehilangan. Ia rela memberikan kepada pemiliknya, kapan pun juga!. Sikap ini muncul karena tidak ada kemelekatan harta dalam hatinya.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here