Memaknai Keberkahan Finansial Part 2

0
68

Menurut Islam, orang disebut kaya bila bisa berbagi dengan berzakat, infak, sedekah serta kegiatan sosial lainnya. Harta atau kekayaan dunia bukanlah milik kita, tetapi seberapa besar ‘dibelanjakan’ itulah harta sebenarnya. Sikap ini harus kita tekankan karena kekayaan tidak dibawa mati. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa hanya ada tiga hal yang menjadi milik kita atas kekayaan yaitu : apa yang kita makan kemudian habis, apa yang kita pakai kemudian hancur dan apa yang kita sedekahkan (amal) kemudian kekal. Sisanya (diluar tiga hal itu) akan hilang atau diwariskan untuk anak, istri, atau bahkan orang lain.

Bila Kiyosaki berbicara hanya tentang kebebasan finansial dari sisi kemiskinan – karena dia sendiri pernah jatuh miskin, Islam tidak hanya berbicara kebebasan dari kemiskinan tetapi juga kebebasan dari kekayaan. Kita harus terbebas dari ‘cengkraman’ alias penjara harta. Dengan kebebasan dari kekayaan atau bisa disetarakan zuhud (cinta dunia yang biasa -biasa saja, tidak berlebihan), maka seseorang bebas berbuat apa saja atas kekayaannya untuk beramal shaleh. Tidak pelit – bakhil, juga tidak takut kekurangan (miskin). Dengan konsep ini, seorang muslim seharusnya tidak lagi takut mencari dan memiliki kekayaan berlimpah. Tidak pula menonjolkan sisi negatif atas kekayaan, dengan alasan sufi. Tidak juga mengikuti Qorun atau Tsa’labah yang terperosok gara-gara harta.

Konsep ini didasarkan pada azas manfaat yang sebesar -besarnya kepada orang lain. Semakin besar penghasilan dan kekayaan seseorang maka semakin besar pula orang ‘membelanjakan’ hartanya di jalan Allah. Seorang berpenghasilan Rp.5 juta rupiah per bulan, zakatnya hanya Rp.125 ribu tentu sangat berbeda dengan orang berpenghasilan Rp.100 juta per bulan dengan zakat Rp.2,5 juta karena manfaatnya lebih besar kepada masyarakat. Selain zakat, orang berpenghasilan besar juga berpeluang mengeluarkan infaq dan sedekah lebih besar. Berkenaan dengan ini saya teringat sahabat saya yang mengatakan,”Hidup ini terlalu indah, jadi mengapa harus disia-siakan? Inilah kesempatan berbuat dan bermanfaat kepada umat, baik dengan harta, tenaga maupun pikiran. Seorang muslim jangan menjadi beban bagi Saudaranya!” Kalau dalam bahasa Paul Hana, motivator bisnis dari Australia,

“Cara terbaik untuk menolong orang miskin adalah dengan tidak menjadi salah satu dari mereka”.

Hana benar, karena bagaimana mungkin orang miskin atau orang lemah bisa membantu orang lain. Mengurus dirinya sendiri saja tidak becus!. Dengan pemahaman seperti itu, maka harta kekayaan akan membawa keberkahan – suatu kondisi dimana sesuatu yang kita miliki (kekayaan) berapapun jumlahnya akan memberikan manfaat optimal dunia – akhirat dan memberikan perasaan berkecukupan. Keberkahan bisa juga berarti ziyaadul khair atau bertambahnya kebaikan. Dengan demikian, rejeki kecil cukup, apalagi rejeki besar tambah cukup lagi. Inilah yang membedakan dengan kebebasan finansial yang dianut oleh orang – orang barat diantaranya Kiyosaki dan Peter Spann. Karena mereka tidak berbicara apakah uangnya bermanfaat secara optimal atau tidak. Mereka hanya fokus pada kecukupan materi semata, untuk apa pun sesuai nafsu pemiliknya. Bagi orang yang sudah mencapai kebebasan finansial ala orang barat, uang Rp.100 juta bisa dihabiskan dalam tempo beberapa menit tanpa manfaat jelas atau tanpa sentuhan spiritual. Perhitungan mereka semata-mata hanya berdasarkan apakah pengeluaran tersebut masih lebih besar dari penghasilan atau tidak.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here