Memaknai Keberkahan Finansial Part 4

0
60

Adapun untuk meraih keberkahan finansial, ada lima langkah atau tahapan yang harus dilalui yaitu:

Tahap 1 : Belajar Rahasia Uang

Islam itu agama yang sangat peduli dengan pendidikan. Banyak ayat Al Qur’an maupun hadits Rasulullah SAW yang menganjurkan umatnya agar selalu belajar. Bahkan dalam firman pertama – Nya, Allah berfirman. ‘IQRA’ – Bacalah!. Membaca apa? Khan waktu itu Rasul tidak bisa membaca? Sebagian ahli tafsir kemudian memaknai perintah itu sebagai seruan untuk belajar dan membaca fenomena alam dan lingkungan sekeliling. Hadits yang juga memerintahkan belajar diantaranya, “Tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China”, “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimah” serta “Tuntutlah ilmu mulai dari kandungan hingga liang kubur”. Apa maknanya semua ini?

Ternyata Allah menghendaki agar manusia selalu belajar secara terus menerus. Apakah belajar hanya terbatas di sekolah sampai Perguruan Tinggi (PT)? Tentu saja tidak, karena ilmu yang sebenarnya banyak di dapat dari ‘sekolah besar kehidupan’ ini. Lalu apa yang harus dipelajari? Kita harus mempelajari semua aspek kehidupan ini, tidak terbatas pada ilmu agama saja. Ilmu kehidupan ini juga penting untuk dipelajari. Bagaimana bertahan hidup, bagaimana bisa mandiri, bagaimana hidup sejahtera sesuai aturan dan sebagainya.

Karena urusan dunia ini begitu luas dan selalu berkembang maka Islam tidak mengatur detail dengan aturan yang kaku. Nabi menyerahkan urusan dunia ini kepada umatnya dengan bersabda, “Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”. Jadi urusan bagaimana meraihnya dunia, bagaimana merekayasa untuk kesejahteraan adalah urusan manusia, selama tidak melanggar ketentuan-Nya.

Itulah pentingnya belajar, terutama belajar tentang finansial karena di dunia ini tidak ada yang bebas dari uang. Semuanya UUD, ujung-ujungnya duit!. Jadi apa pun profesi seseorang, belajar dan mengetahui rahasia uang hukumnya wajib. Apalagi sistem pendidikan di negeri ini belum memberikan pendidikan finansial secara memadai. Bahkan saya berani mengatakan sebagian besar sarjana, master sampai doktor belum tentu memiliki kecerdasan finansial sebanding dengan pendidikannya. Tidak ada jaminan pula kalau mereka memiliki pemahaman finansial yang lebih baik dibanding orang yang hanya lulusan SD, SMP atau SMA.

Karena pendidikan formal tidak mengajarkan ‘melek’ finansial, maka timbullah banyak persepsi – persepi keliru tentang finansial, diantaranya adalah :

  1. Semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi penghasilan. Apa memang begitu adanya? Apakah orang berpendidikan tinggi (minimal sarjana), selalu memperoleh pekerjaan layak dan gaji tinggi sehingga hidupnya sejahtera?. Tentu tidak demikian adanya. Pendidikan tidak identik dengan pekerjaan layak karena toh nyatanya banyak pengangguran intelektual. Banyak sarjana yang penghasilannya jauh lebih kecil dari lulusan SD – yang mampu belajar dari ‘sekolah kehidupan’ ini – dan sukses menjadi pengusaha. Akibat persepsi yang keliru, maka niat sekolah bagi sebagian besar orang hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Sekolah dan ijasah dianggap sebagai barang investasi dan jaminan mendapatkan pekerjaan sehingga orang yang tidak berpendidikan tinggi berarti tidak memiliki investasi dan masa depannya suram. Semuanya jadi kebalik-balik!. (Baca pula buku Kaya Tanpa Bekerja / Republika, 2004, sub bab : Sekolah, Buah Simalakama?)

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here