Memaknai Keberkahan Finansial Part 5

0
142

 

  1. Penghasilan tinggi, kehidupan aman. Persepsi seperti ini perlu diluruskan. Sudah banyak kisah orang berpenghasilan tinggi, tetapi kehidupannya berakhir tragis karena salah mengelola uang. Salah satunya Mike Tyson yang sudah saya sebutkan diawal. Seseorang akan aman atau tidak finansialnya tidak hanya tergantung tinggi rendahnya penghasilan. Keputusan yang sangat menentukan adalah untuk apa penghasilan itu dibelanjakan. Apakah konsumtif saja atau untuk membeli aset yang menambah nilai dan memberikan passive income?. Bila sebagian besar penghasilan yang diterima untuk membeli kebutuhan konsumtif, hasil akhirnya adalah ‘investasi’ di toilet. Sebaliknya bila untuk ditabung, investasi dan membeli barang produktif maka hasil akhirnya adalah kesejahteraan.
  2. Uang adalah segalanya karena bisa menjamin keamanan hidup. Kenyataannya banyak orang memiliki uang banyak tetapi justru takut kehilangan uangnya. Merasa kekurangan terus, sehingga harus menumpuk-numpuk uang. Setelah uang terkumpul, tetap saja tidak membuat hidupnya aman. Yang terjadi sekarang takut miskin kembali!. Ini menunjukkan bahwa uang bukanlah garansi. Kemampuan mendapatkan uang, jauh lebih berharga daripada uang banyak tetapi tidak diimbangi keahlian mengelola dan mendapatkan uang. Buktinya, banyak anak orang kaya jatuh miskin kembali setelah ditinggalkan orang tuanya, meski dengan harta berlimpah.
  3. Kekayaan identik dengan kemewahan. Sebenarnya kemewahan adalah satu hal dan kekayaan adalah hal lain. Dalam buku The Millionaire Next Door tulisan Thomas J Stanley dan William D. Danko disebutkan bahwa sebagian besar milyuner di Amerika hidupnya penuh dengan kesederhanaan bahkan tidak mencerminkan sebagai seorang milyuner.

Dalam hidup ini, kalau seandainya kita diberikan umur sampai dengan 65 tahun, maka kita dapat membaginya menjadi 3 (tiga) fase yaitu :

Umur   0 – 25 tahun               : Masa Belajar secara formal (sekolah)

Umur 26 – 40 tahun               : Masa Produktif (bekerja)

Umur 41 – 65 tahun               : Masa menikmati

Kalau seseorang ingin menikmati hidup lebih baik dengan waktu lebih, harus benar – benar memperhatikan fase kehidupan tersebut. Tentu kita tidak mau mengalami seperti kebanyakan orang yang menikmati kehidupan hanya pada saat – saat mendekati ajal (usia lanjut). Jangan pernah lagi memiliki persepsi yang keliru bahwa menikmati hidup adalah setelah pensiun. Memang kebanyakan orang menetapkan tujuan – tujuan keuangannya untuk dinikmati saat pensiun, umur 55 tahun. Kesalahan inilah yang kemudian menyebabkan seseorang untuk tidak banyak berpikir dan hanya bekerja santai. Paradigma itu harus diubah. Kalau bisa pensiun muda, mengapa harus pensiun tua? Lebih cepat pensiun (tidak terikat pekerjaan) tentu lebih baik. Langkah pertama agar kita mampu meraih hal itu adalah belajar tentang kecerdasan finansial. Semakin awal belajar tentang finansial, Insya Allah semakin besar kesempatan meraih keberkahan finansial. Dalam bab – bab selanjutnya kita akan berdiskusi tentang rahasia uang, bagaimana merencanakan keuangan dan bagaimana memanfaatkan uang untuk keperluan kita dan bukan kita yang ‘dimanfaatkan’ oleh uang atau dikekang oleh uang.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here