Memaknai Keberkahan Finansial Part 6

0
71
Sly boy in black hat with empty hands at the table with pile of money, isolated on white

Tahap 2 : Kecerdasan Finansial

Mengetahui dan memahami kecerdasan finansial sangat perlu karena akan mengantarkan pada pengelolaan keuangan secara benar. Dalam buku The Cash Flow Quadrant, kecerdasan finansial bukan terutama tentang berapa banyak uang yang dihasilkan, tapi lebih mengenai berapa banyak uang yang disimpan, seberapa keras uang itu bekerja untuk kita dan berapa banyak generasi yang bisa kita hidupi dengan uang itu.

Dalam tahap ini, kita harus mulai meningkatkan kecerdasan finansial dengan cara:

  1. Berpikir dan menyadari bahwa untuk mendapatkan uang tidak harus menggadaikan sebagian besar waktu sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang di dunia. Berdasarkan riset berskala global menunjukkan sekitar 85 persen penduduk dunia mencari uang dengan membarterkan waktunya. Orang – orang yang hidup dalam kategori ini biasanya selalu dalam tekanan waktu, takut di PHK, sakit-sakitan dan takut pensiun karena tidak ada pekerjaan atau penghasilan. Hanya 15 persen penduduk dunia yang bekerja lebih cerdas, lebih smart karena mereka tidak bekerja mencari uang, tetapi bekerja untuk mencari sumber uangnya (dalam bahasa iklan sebuah produk minuman energi, mencari biangnya!). Mereka mencari ‘biang’ uang dengan cara membangun aset yang akan menghasilkan uang. Dari sini kemudian timbul kesadaran bahwa bekerja itu sebenarnya bukan hanya rutinitas, tetapi sebuah proses belajar, belajar dan belajar untuk menemukan cara – cara baru yang lebih baik terutama cara berinvestasi. Dengan pemahaman ini, orang akan semakin bijaksana dalam mengelola uangnya dan menilai pekerjaannya. Tidak takut lagi di PHK atau tidak takut bangkrut karena sudah siap dengan ketrampilan dan pengetahuan yang dimiliki.
  2. Mengendalikan hawa nafsu, menunda kesenangan. Setiap rupiah yang dikeluarkan akan diperhitungkan dengan kemanfaatan yang maksimal baik di dunia maupun di akhirat. Menjadi kaya atau bebas secara finansial bukan berarti pelit, tetapi bagaimana memahami bahwa semua itu ada aturannya. Menunda kesenangan bukan berarti tidak boleh menikmati kesenangan hidup, tetapi harus mampu membedakan kesenangan itu berdasarkan kemampuan finansial. Sebab ada kesenangan yang mampu dibiayai atau bahkan tanpa biaya, ada juga kesenangan yang membutuhkan biaya besar diluar kemampuan. Kita juga harus mampu membedakan apakah kesenangan itu diperlukan atau tidak. Sebagai contoh, kehidupan malam dengan nongkrong di kafe setiap hari tentu bukan lagi kebutuhan. Karena refreshing tidak ‘wajib’ setiap hari. Anda mungkin membutuhkan kegiatan tersebut 2 minggu atau 1 bulan sekali bahkan tanpa sama sekali. Contoh lain, misalkan Anda memiliki rumah bagus dan bersih, sementara Anda memaksa menggantikan warna atau mengganti pagarnya dengan yang lebih bagus lagi. Padahal sebenarnya kegiatan itu masih bisa ditunda.
  1. Hidup dibawah kemampuan finansial. Artinya, seseorang harus mampu hidup dan memenuhi kebutuhan hidupnya dibawah penghasilan yang diterima, berapa pun. Tidak boleh lebih! Tidak lebih besar pasak dari pada tiang. Tidak ada aturan pasti berapa seseorang harus menggunakan penghasilannya, tapi sebagian besar ahli atau perencana keuangan menganjurkan maksimal 70 persen dari total penghasilan. Sisanya 30 persen untuk ditabung atau diinvestasikan untuk membangun aset.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here