Memaknai Keberkahan Finansial Part 7

0
117

 

  1. Membayar diri sendiri lebih dulu. Kebanyakan orang membayar dirinya belakangan. Buktinya, ketika menerima gaji, mereka dengan cekatan membayar tagihan telepon, listrik, kartu kredit, dan kebutuhan nafsu lainnya (kebutuhan perut kebawah!). Baru setelah itu, kalau ada sisa ditabung. Tapi…. kenyataannya, tidak ada sisa untuk ditabung! Kondisi ini harus diubah dengan menabung lebih dulu (membayar diri sendiri) dan sisanya untuk digunakan keperluan rutin.
  2. Mampu membedakan barang konsumtif dan aset produktif. Perbedaan yang paling signifikan antara kedua barang ini adalah barang konsumtif setiap tahunnya mengalami penurunan nilai dan biasanya membutuhkan biaya perawatan besar seperti mobil mewah, handphone, rumah mewah. Sedangkan barang produktif nilainya naik setiap tahun dan bisa menghasilkan seperti properti.
  3. Mengetahui rahasia uang. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini, Anda bisa membaca bab berikutnya.

Tahap 3 : Kemapanan Finansial

Apakah yang dimaksud dengan kemapanan finansial? Godo Tjahjono, perencana keuangan dari International Association Registered of Financial Consultant (IARFC) mendefinisikannya sebagai suatu kondisi dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhannya, baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, dengan cara positif menggunakan kekuatan sendiri dan tidak tergantung pada orang lain (Bisnis Uang, No.28/II/18 – 31 Agustus 2005).

Kemapanan finansial ini lebih menekankan pada pemenuhan kebutuhan hidup hingga meninggal dunia, meski seseorang harus tetap bekerja sampai akhir hayatnya. Orang yang memiliki kemapanan finansial adalah orang – orang yang memiliki rencana finansial lengkap, sehingga kemungkinan besar orang tersebut mampu mencukupi kebutuhan – kebutuhan, tentu yang sesuai rencananya. Apakah status mereka bisa turun menjadi orang yang tidak mapan secara finansial? Tentu saja bisa, namun biasanya segala kemungkinan buruk sudah dipersiapkan dan diantisipasi.

Tahap 4 : Kebebasan Finansial

Masih menurut Robert T. Kiyosaki, kebebasan finansial adalah ketika seseorang berada pada jalur bisnis, dimana orang -orang bekerja untuknya dan dalam jalur kuadran investor dimana uang bekerja untuknya, sehingga memiliki passive income dan pengeluarannya lebih rendah dari passive income (penghasilan yang terus mengalir meski seseorang tidak bekerja lagi). Dengan kondisi seperti ini seseorang sudah tidak lagi ada ‘kewajiban’ secara phisik untuk bekerja. Namun demikian, orang yang sudah meraih kebebasan finansial bisa saja kehilangan ‘status’nya atau statusnya turun karena adanya peningkatan pengeluaran atau kebutuhan hidup sementara passive income tetap atau bahkan menurun. Untuk itulah proses belajar dan perencanaan keuangan yang baik tetap diperlukan meski kondisinya sudah pada kebebasan finansial.

Tahap 5 : Keberkahan Finansial

Kondisi ini merupakan tahapan paling tinggi dalam pengelolaan keuangan, karena kita sudah bebas secara finansial dan karena setiap pengeluaran keuangan selalu memberikan manfaat sebesar – besarnya bagi kehidupan dan akhirat. Dalam keberkahan finansial ada dua hakikat yaitu :

  1. Merdeka secara ruhani. Saya maksudkan sebagai kebebasan atau kemerdekaan seseorang terhadap mental, emosional serta spiritualnya. Orang tidak lagi terbelenggu oleh kekayaan, kekangan hawa nafsu dan kemelekatan dunia di hatinya. Seseorang sudah bebas dan mampu menerima apa pun dengan lapang dada. Orang seperti itu selalu mengatakan alhamdulillah dalam setiap detiknya. Tidak peduli berapa pun harta yang diperoleh, dia selalu bersyukur. Ketika memiliki harta berlimpah, digunakannya untuk amal, tidak takut kehabisan dan tidak takut kehilangan. Orang seperti ini juga tidak tergantung pada orang lain dalam mendapatkan rejekinya. Baginya rejeki sudah diatur oleh Allah. Kalau bekerja sebagai pegawai tidak takut dipecat hanya karena mengatakan yang benar. Kalau jadi pengusaha tidak takut bangkrut hanya karena berbuat jujur. Itulah orang – orang yang memiliki kemerdekaan ruhani. Bebas berbuat apa saja sesuai dengan norma, tak peduli apapun akibatnya terhadap rejeki, karir atau bahkan kehidupan yang lain. Baginya hanya kepasrahan total kepada Allah, Tuhan Maha Besar, Maha Kuasa. Pemenuhan kebebasan ruhani ini adalah pemenuhan kebutuhan dari leher ke atas (kepala).
  2. Merdeka secara phisik. Seseorang mampu memerdekakan diri dari kebutuhan – kebutuhan dunia tanpa terikat dengan pekerjaan. Tidak hanya memerdekakan ruhani, tapi jasmani pun bebas – merdeka. Makan cukup, sandang terpenuhi, papan layak huni, olahraga teratur dan kebutuhan phisik lainnya. Sebab buat apa secara ruhani bebas bila secara phisik masih kekurangan? Kemerdekaan phisik ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dari leher ke bawah.

Dengan demikian, seseorang yang sudah meraih keberkahan finansial selalu ada keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan dari leher keatas (kepala) yang mencerminkan nafsu kemanusiaan dan kebutuhan dari leher sampai kaki yang mencerminkan nafsu hewani.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here