Membuang Keyakinan Salah (Part 1) : Keinginan dan alasan

0
102

Kita dapat membuktikan sikap tersebut dalam contoh berikut. Coba tanyakan kepada teman Anda, “Apakah kamu suka rumah di Pondok Indah – Jakarta dan mobil mewah seperti BMW atau Mercedez Benz?” Anda pasti mendapatkan jawaban, ”Pasti pingin dong, tapi mana mungkin? Gaji saya kan hanya cukup sebulan, karir cuman staff” atau “Tentu saja pingin, tapi ngimpi kali yeh…? dan masih banyak jawaban pesimistis yang isi dan nadanya “TIDAK MUNGKIN!” Mereka merasa seperti ‘pungguk merindukan bulan’. Pokoknya tidak mungkin aja!. Begitu yang sering terjadi. Padahal akan terjadi hal yang sebaliknya bila dia mengatakan, “Saya ingin memiliki rumah seperti di Pondok Indah, tapi bagaimana caranya?” Dengan mengatakan seperti itu, otak akan terangsang berpikir kreatif. Jika kita yakin gaji tidak akan mampu membeli semua itu, tentu kita akan mencari jawabannya, mencari alternatif lain. Misalnya meningkatkan pengetahuan dan ilmu agar karir bisa meningkat atau pindah pekerjaan yang lebih baik. Kita juga bisa mencari penghasilan tambahan dengan bisnis kecil-kecilan, mengurangi pengeluaran atau keluar kerja kemudian merintis bisnis yang menjanjikan penghasilan lebih besar.

Satu hal yang sangat penting dalam meraih apa pun, termasuk kekayaan adalah adanya keinginan dan alasan – alasan yang sangat kuat untuk menggerakkan pikiran, waktu dan tenaga untuk meraihnya. Bila hal ini belum ada dalam diri kita, jangan pernah bermimpi menjadi kaya. Salah satu kisah mengenai hal ini adalah Alberta Zebua (32 tahun), sebagaimana di muat dalam Majalah Sartika no.035/13 Des – 27 Des 2004. Berta, begitu ia dipanggil, menjalani perubahan hidupnya bagaikan mimpi. Bayangkan dalam waktu 10 bulan, mampu mengubah sebuah kemiskinan menjadi seorang miliuner yang memiliki mobil jaguar senilai Rp.1,8 miliar, rumah senilai Rp.1,3 miliar dan penghasilan puluhan juta perbulan. Ia adalah orang yang telah mengalami pedihnya kehidupan. Kekayaan yang diperolehnya saat ini ternyata berawal dari dendamnya yang mendalam terhadap kemiskinan.

Berta menceritakan bagaimana pedih hatinya ketika anaknya menderita demam berdarah. Dari pintu ke pintu mencari pinjaman untuk menebus biaya pengobatan anaknya di RS Elizabeth, Medan. “Saya bersama suami sempat berjalan kaki sekitar 7 kilometer dari rumah ke rumah untuk meminjam uang demi menyelamatkan nyawa anak kami. Namun tak seorangpun bersedia meminjamkan uang”, katanya. Saat kebingungan, Berta teringat pada adik perempuannya yang mempunyai perhiasan. Untungnya sang adik merelakan perhiasan tersebut untuk dijual. Tidak hanya sampai di situ kepedihan hidupnya. Karena penghasilan suaminya – sebagai sopir taksi gelap – tidak mencukupi, ia harus membantu sang suami dengan menjadi sales jamu.

Dengan penghasilannya yang minim – bahkan pernah diusir dari rumah karena tidak mampu bayar uang kontrakan – maka pada tahun 2002 memutuskan untuk mengubah hidupnya. Ia kemudian bergabung dengan sebuah perusahaan MLM, namun gagal karena sistemnya menurut dia tidak memberikan kesempatan sama untuk maju. Kemudian ia mencoba lagi bergabung dengan perusahaan MLM lain, yang dinilai memiliki sistem yang baik – tidak hanya membuat kaya sebagian kecil mitranya. Awalnya sang suami menolak karena trauma dengan kegagalan pada MLM sebelumnya. Namun dengan kegigihannya, ia tetap melangkah, meski gara-gara keputusannya ini ia hampir cerai. Ia berusaha membuktikan hingga pada akhirnya berhasil, keluar dari kemiskinan.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : dreamstime

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here