Membuang Keyakinan Salah (Part 3) : Pekerjaan dan Pendidikan

0
74

Ketiga, pendidikan yang salah. Pendidikan seringkali menjadi penyebab seorang menjadi ‘miskin’. Lho, kok bisa? Masyarakat seringkali beranggapan bahwa semakin tinggi pendidikan semakin besar kemungkinan seseorang untuk hidup sejahtera bahkan kaya penuh berkah. Realitanya tidaklah demikian. Karena orang berpendidikan tinggi biasanya hanya menuntut pekerjaan tanpa mau mendirikan perusahaan. Mereka maunya hanya menjadi pegawai, dengan penghasilan terbatas. Mereka juga belum tentu memiliki kecerdasan finansial sesuai dengan tingkat pendidikannya. Buktinya, orang – orang berpendidikan tinggi banyak yang melakukan ‘gali lubang – tutup lubang’. Mereka terjerat hutang konsumtif seperti membeli mobil, rumah mewah, peralatan elektronik mewah yang bertujuan untuk memenuhi status dan gengsi. Biar dianggap kaya, padahal belum kaya!. Mereka merasa kaya, sehingga berperilaku seperti orang kaya, padahal pendapatannya tidak mendukung.

Keempat, faktor pekerjaan. Banyak orang beranggapan pekerjaan bisa membuat kaya. Kenyataannya tidak selalu demikian, karena ada pekerjaan justru membuat seseorang menjadi miskin, baik miskin waktu, miskin uang, maupun miskin harga diri. Miskin waktu, karena terikat dengan pekerjaan, sementara penghasilannya tetap ‘segitu

– gitu’ saja. Karyawan harus berangkat pagi pulang sore bahkan larut malam. Seakan hidup hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja. Kegiatan sosial menjadi terlupakan. Contoh paling nyata adalah kehidupan karyawan di kota-kota besar seperti Jakarta. Mereka sesampai di rumah sudah larut malam, jarang ketemu anak-anak, apalagi tetangga. Kontak sosial jarang terjadi sehingga hidup individualistik memang menjadi keterpaksaan. Kenyataan ini dibuktikan oleh laporan National Sleep Foundation – AS, dimana jumlah ‘budak kerja’ cukup mencengangkan. Lebih dari 31% pekerja pria lulusan perguruan tinggi di AS lazim bekerja 50 jam atau lebih dalam sepekan di kantor, naik 22% pada 1980. Sekitar 60% orang disana sarapan pagi maupun makan siang dengan tergesa – gesa dan banyak dilakukan di meja kerja dan 34% makan siang dilakukan sambil beraktivitas.

Selain itu, pekerjaan juga sering membuat ‘miskin’ uang (tidak kaya) karena jarang pekerjaan yang membuat kaya karyawannya. Mengapa demikian? Logika sederhananya, seorang karyawan adalah ‘abdi’ bagi juragannya (pemilik perusahaan). Ia hanya mendapatkan gaji dari perusahaan, yang jumlahnya sudah ditentukan. Kalau gaji yang diterima cukup besar, masih lumayan. Tetapi tidak sedikit gaji karyawan yang untuk kebutuhan pokok saja tidak sampai satu bulan sudah habis – karena saking rendahnya gaji tersebut (bukan karena boros lho…). Gaji mereka juga tidak serta merta naik, meski kebutuhan hidupnya naik setiap tahun. Jadi untuk menjadi kaya hanya dengan gaji saja, merupakan suatu hal yang sulit.

Wajar bila ada guyonan, sebagian besar pegawai adalah anggota BP7 (berangkat pagi, pulang petang, pegel-pegel dan penghasilan pas-pasan). Ada juga istilah 5K (Kagum, karena baru diterima menjadi pegawai, Kaget, setelah beberapa tahun tidak ada perubahan signifikan terhadap gaji dan karir, Kecewa, Korupsi, Kerangkeng (Penjara).

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here