Membuang Keyakinan Salah (Part 4) : Pegawai Kaya

0
97

Memang ada sebagian kecil pegawai yang kaya hanya dengan gajinya yaitu direktur perusahaan besar, sales yang berhasil dan bisnis MLM. Penelitian Thomas J. Stanley terhadap lebih dari 730 keluarga milioner di Amerika, menunjukkan bahwa dua pertiga keluarga milyuner adalah bekerja sendiri menjadi wirausaha dan sisanya sebagai profesional yang bekerja sendiri (self employee) seperti dokter dan akuntan publik.

Demikian juga berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan Harvard University Survey, pada umur 65 tahun, hanya 1% orang yang benar-benar kaya, dimana sebanyak 74% orang kaya tersebut adalah mereka yang berprofesi sebagai pengusaha, 1% pemenang lotre atau undian, 5% sales asuransi & properti, 10% CEO, Top Management, 10% profesional, dokter, pengacara, atlet dan artis. Demikian pula Islam menunjukkan bahwa sumber rejeki utama adalah berdagang (menjadi pengusaha). “Sembilan dari sepuluh pintu rejeki adalah berdagang”, demikian sebuah hadits Nabi. Dalam hadits yang lain juga dikatakan bahwa pedagang yang jujur dijamin masuk surga oleh Allah. Jadi, dimana posisi pegawai?

Bila demikian, apakah kita tidak boleh menjadi pegawai? Saya tidak melarang siapa pun untuk menjadi pegawai. Silahkan menjadi apa pun sesuai pilihan, asalkan kita memilih dan menjalankannya dengan cerdas. Artinya, bila pilihan menjadi pegawai sudah menjadi keharusan, maka jangan sampai pilihan tersebut menjadi sebuah ketergantungan yang menyebabkan kita harus menerima pekerjaan apa pun, meskipun tidak menyukainya.

Dalam memilih pekerjaan, setidaknya ada tiga hal penting yang harus diperhatikan. Pertama, memilih pekerjaan berdasarkan kesenangan. Kedua, jenis pekerjaan memungkinkan kita untuk mendapatkan ilmu yang selalu baru. Jangan melakukan pekerjaan yang sifatnya rutin seperti pekerjaan yang biasa dikerjakan robot. Dengan jenis pekerjaan yang dinamis, kita tertantang untuk selalu belajar terus menerus. Ketiga, pekerjaan bisa menjadi sumber ide usaha yang dapat direalisasikan bilamana kita sudah tidak mau menjadi pegawai. Sebagai contoh, bila Anda bekerja di Hotel, Anda dapat memilih koki daripada menjadi housekeeping (merapikan kamar). Mengapa? Dengan memilih menjadi koki, Anda akan ahli memasak. Keahlian itu dapat Anda manfaatkan membuka usaha bila sewaktu – waktu Anda tidak mau bekerja lagi atau di PHK. Contoh ini saya kemukakan karena saya masih ingat PHK besar – besaran pada Hotel Indonesia pertengahan 2004 lalu. Kebetulan ada salah satu teman saya yang di PHK. Untungnya, selama itu dia bekerja sebagai koki sehingga masih bisa membuka usaha catering, dengan uang pesangon.

Jika harus menjadi pegawai, sebaiknya jangan terlalu lama karena bisa mematikan kreatifitas dan membentuk comfort zone (daerah kenyamanan) sehingga semakin lama semakin takut keluar kerja meski pekerjaan tidak menyenangkan dan gaji yang tidak layak. Jadikanlah sasaran menjadi pegawai untuk mencari pengalaman, ilmu dan memperluas pergaulan yang diperlukan ketika bisnis. (Baca pula buku Cara Mudah Orang Gajian Menjadi Entrepreneur, Penerbit MediaSukses, 2005).

Kelima, teman hidup atau pasangan. Pasangan hidup adalah semua orang yang berada di ‘dekat’ kita, termasuk teman bermain, teman kantor, teman bisnis dan terutama istri / suami. Mereka itulah orang – orang yang selalu mempengaruhi perilaku kita, bahkan ikut berperan terhadap sukses atau gagalnya hidup kita. Pepatah yang mengatakan, “bila kita bergaul dengan penjual minyak wangi, kita akan menjadi wangi”, juga berlaku dengan masa depan finansial kita.. Bila istri atau suami boros, kita akan kewalahan mengatur keuangan. Akibatnya sudah pasti, gagal finansial!

Itulah sebabnya dalam mencari istri atau suami juga harus memperhatikan kecerdasan finansialnya atau memiliki visi dan misi yang sama dalam mengelola keuangan keluarga. Bila tidak, istri atau suami akan menjerumuskan dalam tindak kejahatan. Islam pun menganjurkan dalam memilih pasangan hidup agar memperhatikan empat hal berikut : (1) ketaqwaan (2) keturunan (3) phisik – kecantikan atau ketampanan (4) harta – kekayaan. Dari keempat pertimbangan tersebut, ketaqwaan atau tingkat keimanan menjadi prioritas utama. Tapi yang sangat menarik adalah Islam menganjurkan untuk memilih calon suami / istri yang memiliki harta – kekayaan.

Demikian juga dengan teman, sangat menentukan finansial di masa depan. Contoh sederhana adalah apabila Anda memiliki teman suka berhura-hura alias menghabiskan sebagian besar uangnya di dunia gemerlap (dugem). Secara langsung atau tidak Anda akan terpengaruh mengikuti pola hidupnya (bila Anda tidak memiliki prinsip untuk menolaknya).

Kondisi finansial seseorang biasanya juga tidak jauh berbeda dengan temannya. Sekarang silahkan buat daftar 5 teman dekat Anda dan pekerjaannya serta perkirakan berapa rata – rata penghasilannya dalam setahun. Anda akan menemukan bahwa rata-rata penghasilan teman Anda tidak akan jauh berbeda dengan penghasilan Anda. Apa yang dapat diperoleh dari kondisi ini? Hal ini menunjukkan bahwa teman sangat penting dalam kehidupan. Mereka akan menjadikan kehidupan ini menjadi ‘hitam atau putih’, kaya atau miskin, sukses atau gagal. Apabila Anda ingin mengubah kehidupan ini menjadi lebih baik, carilah teman – teman yang lebih baik karena Anda dapat belajar darinya.

Bila Anda ingin kaya, belajarlah kepada orang kaya, karena mustahil bila teman Anda miskin bisa memberikan ilmu bagaimana memperoleh kekayaan. Saya tidak memberikan saran agar Anda meninggalkan teman – teman Anda sekarang ini, tetapi Anda bisa menambah teman – teman baru. Keluarlah dari kebiasaan selama ini. Untuk jelasnya saya akan memberikan ilustrasi mengenai hal ini. Di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) sudah menjadi ‘budaya’. Apa yang dilakukan oleh mereka yang ber-KKN? Mereka memanfaatkan hubungan pertemanan, keluarga ataupun kolega. Tidak ada yang salah dengan pemanfaatan seperti itu. Namun yang menjadi masalah ketika sudah tidak lagi mengindahkan norma – norma. Saya tidak menganjurkan Anda seperti itu, tetapi Anda harus tahu bahwa mereka dapat kaya karena teman – temannya juga ‘kaya’ (bisa berarti kaya jabatan / memiliki kekuasaan). Anda dapat ‘memanfaatkan’ teman – teman Anda yang kaya, pintar dan sukses. Bagaimana bila Anda tidak memiliki teman yang kaya atau sukses? Minimal Anda mau belajar dari buku-buku, majalah atau koran dan lainnya yang memberikan tip-tip bagaimana menjadi kaya dan belajar dari kisah perjuangannya.

Keenam, kesalahan menetapkan gaya Hidup. Kesalahan menetapkan gaya atau standar hidup bisa menyebabkan hidup semakin jatuh ke jurang kesengsaraan. Pada awalnya hidup ‘kelihatan’ enak, tetapi bila kondisi keuangan tidak mampu menanggungnya, tunggul saja kehancurannya. Sampai kapan uang kita mampu menanggung biaya hidup yang selalu melebihi penghasilan?

Wallahu a’lam bishawaab.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google


 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here