Membuat Magnet Uang Part 1 (Mengejar Rezeki)

0
146

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Banyak orang mendapatkan uang dengan cara ‘mengejar’ bahkan ‘memaksa’ agar uang berpihak padanya. Uang atau dengan bahasa lain rejeki sebenarnya tidak bisa dikejar-kejar. Ibarat gunung tak lari kok di kejar. Tetapi mengapa hal itu sering terjadi? Karena hanya sedikit orang yang tahu rahasia uang agar mengejar dirinya. Mengapa kita tidak menjadikan diri kita ini seperti magnet sehingga logam disekitarnya otomatis nempel padanya? Tapi bagaimana mungkin uang bisa mengejar kita, layaknya logam yang selalu mengejar magnet?

Mari kita perhatikan seorang dokter ahli yang diakui keilmuannya. Dokter tersebut buka sampai larut malam karena saking banyaknya pasien yang berobat. Pasien rela antri, rela membayar mahal dan rela menelan obat pahit yang diberikannya. Bahkan ketika pasien disuruh membayar ratusan juta dan salah satu bagian tubuhnya dipotong, pun tetap bersedia. Tapi apakah semua orang bisa percaya pada dokter? Tentu tidak! Sebab ada lho, dokter yang bayarannya murah, tetapi hanya sedikit orang yang mau berobat kepadanya. Kenapa? Pada dokter pertama kita meyakini sebagai dokter ahli atau pakar, tetapi dokter kedua masih diragukan kemampuannya. Pasien tentu saja tidak mau berspekulasi dengan berobat padanya.

Masih banyak contoh mengenai hal ini, bagaimana seorang pengusaha atau profesional mendapatkan rejeki berlimpah karena konsumen ‘mengejar’ produk atau jasanya. Pengalaman saya, untuk memeriksakan mata anak, saya harus antri selama 3 bulan pada dokter spesialis mata di RS Aini – Jakarta. Anda yang tinggal di Jakarta, mungkin pernah mendengar atau bahkan ikut antri membeli roti asal Singapura yang baru dibuka di sebuah mall. Anda bisa juga memperhatikan buku Harry Potter karangan JK. Rolling yang ditunggu ratusan ribu bahkan jutaan pembacanya saat akan diluncurkan, dan masih banyak orang contoh orang yang ‘dikejar’ uang.

Bagaimana agar dapat seperti mereka? Agar uang ‘mengejar’, kita harus memiliki nilai tambah (added values) dan harus dikomunikasikan kepada orang yang tepat, serta dengan cara yang tepat pula. Nilai tambah bisa bermacam – macam bentuknya, seperti manfaat, pelayanan, harga dan keunikan.

Nilai tambah dapat kita peroleh dengan belajar secara terus menerus terhadap bidang yang kita suka dan kita yakini akan sukses. Kenapa kita harus terus belajar? Masalah di dunia ini terus bertambah, sehingga memerlukan cara – cara baru untuk mengatasinya. Kalau kita belajar secara terus menerus secara spesifik, kita akan menjadi pakar. Pakar bukan berarti harus memiliki gelar akademik profesor doktor, karena tukang bakso pun bisa disebut pakar bila ia sangat ahli membuat bakso enak, demikian juga salesman yang sangat ahli menjual produk, dan profesi lainnya.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here