Membuat Uang Beranak Pinak

0
300

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Setelah kita mempelajari bagaimana uang dapat berkembang cepat dan berlipat ganda, kini kita akan berdiskusi tentang cara membuat uang beranak – pinak secara halal. Ada tiga langkah utama yang harus dilakukan yaitu :

  1. Alokasi aset

Bila kita ingin segera bebas secara finansial, mau tidak mau, suka tidak suka kita harus menyisihkan sekian persen dari penghasilan setiap bulan dan memasukkan ke dalam investasi, baik phisik maupun non phisik (ilmu). Untuk investasi ilmu, sebaiknya disediakan dana rutin seperti untuk membeli buku, biaya seminar dan lainnya. Besarnya biaya ini tergantung kebutuhan. Investasi ilmu ini penting karena masalah di dunia ini selalu bertambah, sehingga kita butuh ilmu baru untuk mengatasinya.

Sedangkan untuk investasi phisik, perbanyak koleksi barang produktif. Jangan sekali kali memperbanyak barang konsumtif. Inilah perbedaannya. Bila kita membeli mobil baru saat ini seharga Rp.100 juta (untuk keperluan keluarga), maka pada 3 tahun mendatang harga mobil itu menjadi kurang lebih 70 juta. Kondisi sebaliknya bila kita membeli tanah – bangunan Rp.100 juta maka 3 tahun mendatang harganya bisa menjadi Rp. 200 juta.

Tidak ada alasan untuk tidak ‘membayar diri sendiri lebih dulu’. Berapa besarnya uang yang harus disisihkan, tidak ada aturan baku. Tapi sebagian besar perencana keuangan menyarankan minimal 10 persen sampai pada kondisi ideal minimal 30 persen dari penghasilan. Besaran itu masih tergantung dari (1) besarnya penghasilan seseorang dan (2) besarnya tekad atau niat untuk segera bebas secara finansial.

Seseorang yang berpenghasilan Rp. 2 juta sebulan menyisihkan 30 persen (Rp. 600 ribu), sehingga masih tersisa Rp.1,4 juta untuk kebutuhan hidup. Dengan sisa sebesar itu, dia mungkin akan kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya bila tidak ‘pandai-pandai’ menyiasati pengeluaran. Berbeda dengan seseorang yang berpenghasilan Rp.100 juta setelah disisihkan untuk alokasi aset sebesar Rp. 30 juta sisanya masih Rp.70 juta. Kebutuhannya mungkin hanya 40 juta sebulan, sehingga keluarga itu masih bisa menyisihkan alokasi aset lebih besar dari 30 persen.

Besarnya tekad untuk segera bebas finansial juga sangat menentukan besar kecilnya aset alokasi. Meski seseorang berpenghasilan Rp.100 juta bila tidak memiliki tekad kuat, belum tentu ia bisa menyisihkan uang untuk investasi. Uang berapa pun bisa habis tergantung sikap seseorang.

Setelah mengalokasikan investasi sebesar 30 persen, kita harus menempatkan pada berbagai instrumen investasi. Sebagaimana disebutkan dalam bab sebelumnya, berdasarkan hasil penelitian World Wealth Report versi Merrill Lynch dan Cap Gemini Ernst & Young investor, orang – orang kaya di Amerika Utara, Eropa, Asia Pacific menempatkan dananya sebagai berikut :

No Instrumen Investasi Besarnya Alokasi
1 Fixed income 30%
2 Cash / Deposito 25%
3 Saham 20%
4 Properti 15%
5 Lainnya (barang antik, hedge funds, dll 10%

Penelitian itu memang bisa dijadikan acuan, tetapi tidak bisa diterapkan ‘mentah-mentah’ karena harus disesuaikan dengan kondisi keuangan dan instrumen yang sesuai syariah. Investasi hedge funds masih diragukan kehalalannya, sehingga alokasi 10% itu bisa dialihkan kepada instrumen lain seperti properti sehingga menjadi 25%.

Masih dengan contoh penghasilan diatas, yaitu Rp. 2 juta dan Rp.100 juta. Bagi yang berpenghasilan Rp.2 juta, mungkin akan kesulitan menerapkan hasil penelitian itu dibanding orang yang berpenghasilan Rp.100 juta. Oleh karena itu, bagi orang yang masih berpenghasilan rendah, tidak harus mengikuti hasil penelitian itu, tetapi lakukan secara fleksibel. Misalnya Anda fokus mengangsur rumah (karena belum punya rumah) dan menyisihkan untuk cash / deposits sebagai dana cadangan. Seiring dengan kenaikan penghasilan, Anda mulai mengarah pada aset alokasi yang benar. Bila Anda termasuk orang yang sangat konservatif atau menghendaki cara lain,

Anda bisa melakukan:

  • Aset alokasi 10% dari penghasilan, untuk investasi paling aman berupa tabungan atau deposito. Alokasi itu tidak boleh dipergunakan untuk apa pun. Anggap saja sebagai dana abadi yang hanya boleh diambil atau dimanfaatkan hasil investasinya, ketika hasil investasi itu sudah bisa membiayai gaya hidup Anda.
  • Aset alokasi 20% dari penghasilan untuk investasi properti dan membuatnya ‘beranak pinak’.

Keterangan :

Belilah properti yang menghasilkan seperti rumah kos, kios, ruko, bukan tanah kosong atau rumah yang tidak bisa disewakan. Pilihlah tempat yang strategis. Bila Anda membeli secara kredit, usahakan hasil sewa per bulan minimal sama dengan biaya angsuran kredit setiap bulannya, sehingga keuangan Anda tidak terbebani. Bila cara ini dilakukan secara disiplin dan konsisten selama kurun waktu tertentu misalnya 15 tahun – maka pada saat itu hutang sudah lunas dan Insya Allah pada waktu itu pula Anda sudah bebas secara finansial karena memiliki sumber penghasilan passive income dari sewa properti.

  1. Membuat lebih dari satu sumber penghasilan.

Setelah alokasi aset, untuk mempercepat uang beranak pinak, kita harus memiliki lebih dari satu sumber penghasilan. Tujuannya agar dana yang disisihkan untuk investasi semakin besar dan tidak rentan dari hilangnya penghasilan utama. (selengkapnya baca bab Evaluasi sumber penghasilan).

  1. Alokasi infak & sedekah minimal 10% dari penghasilan.

Zakat yang telah kita bahas dalam bab sebelumnya hanyalah bentuk penyucian harta kekayaan, belum termasuk menafkahkan sebagian harta sebagai cara melipatgandakan kekayaan. Cara terbaik ‘memanfaatkan’ sedekah untuk membuat uang beranak pinak adalah dengan menjadikan sedekah sebagai prioritas utama dalam bisnis atau target penghasilan.

Bila selama ini kita menentukan target bisnis berdasarkan omset dan laba, kini kita bisa mengubah dengan menetapkan target berdasarkan jumlah zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang akan dibayarkan, sehingga penghasilan atau laba secara otomatis akan menjadi target bisnis. Dengan cara ini, kita menetapkan niat bisnis atau bekerja untuk sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Kita mendahulukan akhirat, dan dunia otomatis mengikutinya (ingat sub bab Raihlah Akhiratnya, Dapatkan Uangnya).

Rumus kuno (yang harus ditinggalkan) :

ZIS yang akan dibayarkan = TARGET PENGHASILAN x 10.0%

Pada rumus ini, kita mengutamakan target penghasilan (dunia) baru kemudian ZIS (akhirat). Risikonya, cara ini membuat niat kita cenderung ke dunia dan kalau pun usaha berhasil, ZIS bisa terlupakan. Rumus ‘modern’ (yang harus digunakan) :

Penghasilan = TARGET ZIS YANG AKAN DIBAYARKAN:10.0%

Bila ZIS yang ditargetkan tahun ini sebesar Rp.100 juta, maka penghasilan yang akan dihasilkan sebesar Rp.100 juta : 10% = Rp. 1 milyar. Dengan cara seperti ini Insya Allah kita akan dimudahkan Allah, karena kita sudah ‘teken’ kontrak dengan komitmen yang jelas terhadap penghasilan kita sejak awal (tujuan meraih penghasilan).

Cara seperti itu telah dibuktikan pengusaha sukses seperti H. Hasan Toha Putra MBA, Direktur Utama Thoha Putra Center Semarang yang menyisihkan minimal 10 persen dari labanya. H. Suparno Zainal Abidin, pemilik group usaha santri Solo menyisihkan 22.5 persen dari laba usaha toko kelontongnya, sedangkan 25 – 50 persen dari laba usaha pabrik – pabriknya. Sedangkan Puspo Wardoyo, pemilik Ayam Bakar Wong Solo menyisihkan 20 – 30 persen dari keuntungan bersih, diluar pajak 2,5 persen.

Bagaimana bila Anda bukan seorang pengusaha? Lakukan hal yang sama terhadap gaji dengan menafkahkan minimal 10 persen. Insya Allah karir cepat meningkat atau Anda akan mendapatkan rejeki lain dari arah yang tidak disangka – sangka. Kata Allah, min haitsu laa yahtasib.

Okey…! Mungkin ada yang bertanya, bagaimana mungkin kita mampu mengeluarkan ZIS minimal 10 persen? Besar amaaat….!??? Kelihatannya memang besar, tetapi sebenarnya tidak! Coba ingat – ingat. Saya yakin selama ini Anda sudah mengeluarkan sedekah untuk iuran masjid, sumbangan acara keagamaan, anak jalanan, pengemis dan sosial lainnya. Namun Anda tidak pernah menghitung berapa yang dikeluarkan setiap tahunnya. Bisa jadi pengeluaran itu justru lebih dari 10 persen, tanpa Anda sadari. Jadi dengan menetapkan besarnya prosentase ZIS yang dikeluarkan, berarti kita merencanakan pengeluaran dengan baik, bukan untuk menghitung – hitung amal.

Tapi bagaimana bila selama ini Anda memang belum pernah mengeluarkan ZIS sebesar itu? Hidup ini hanya sekali Saudaraku… Mari kita renungkan, bahwa harta sebenarnya adalah harta yang kita amalkan, bukan yang kita gunakan untuk kehidupan dunia. Tidak ada artinya memiliki milyaran rupiah di dunia, bila melarat di akhirat. Selain itu, bukankah Allah sedang mencari orang – orang yang bisa dijadikan ‘distributor’ rezeki? Bila kita berminat menjadi ‘distributor’ rezeki, maka mengeluarkan ZIS sebanyak – banyaknya adalah syarat mutlak.

Dari uraian sejak awal hingga akhir buku ini, kita dapat berkesimpulan bahwa untuk membuat uang beranak pinak kita harus mampu menggunakan rumusan berikut ini :

Kebutuhan=hidup (60%)

Seluruh penghasilan (100%)

Alokasi aset (30%)

Zakat, infak, sedekah (10%)

Rumus ini memang sangat sederhana, tetapi berat untuk dipraktekkan, terutama bagi orang yang tidak memiliki tujuan keuangan. Bagi orang yang memiliki tujuan keuangan, ia akan melakukan secara konsisten dalam jangka panjang, dan Insya Allah akan hidup berkelimpahan. Jadi untuk menjadi kaya sebenarnya tidak diperlukan ilmu yang super canggih, tetapi hanya kemauan untuk melakukan hal – hal yang kelihatannya sederhana bahkan sepele tetapi dilakukan secara konsisten, istiqamah!.

Wallahu a’lam bishawaab.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here