Menjadi Pegawai Saja, Tidak Akan Kaya?

0
96

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Saya memang tidak melakukan penelitian ilmiah atau memiliki bukti empiris tentang perbandingan antara banyaknya pegawai kaya dengan jumlah pengusaha kaya. Saya juga tidak memiliki bukti empiris bahwa menjadi pegawai saja tidak akan kaya, karena ada  juga  pegawai yang kaya dan itu merupakan pengecualian. Mereka dapat kita temukan, seperti para Chief Executif Officer (CEO) di perusahaan – perusahaan besar. Selain direktur perusahaan, orang yang berpeluang besar untuk kaya adalah salesman dan bisnis Multi Level Marketing (MLM) karena mereka mendapatkan gaji berdasarkan komisi atau fee dari penjualannya. Namun mereka masih harus bertanggung jawab kepada atasannya, tidak menjadi bos untuk dirinya sendiri.

Meskipun kaya dapat diraih siapapun termasuk pegawai, tetapi jumlah mereka masih sangat – sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah pengusaha kaya. Keyakinan saya ini setidaknya sejalan dengan penelitian Thomas J.Stanley terhadap lebih dari 730 keluarga milioner di Amerika, yang dituangkan dalam buku The Millionaire Next Door (telah disampaikan pada bab awal). Penelitian itu menunjukkan bahwa dua pertiga keluarga milioner adalah bekerja sendiri menjadi wirausaha dan sisanya sebagai profesional yang bekerja sendiri (self employee) seperti dokter dan akuntan publik.

Indikasi bahwa banyak orang kaya dari kalangan pengusaha, juga dapat dilihat dari laporan pembayar pajak terbesar. Pada zaman Orde Baru misalnya, pemerintah memberikan penghargaan kepada pembayar pajak terbesar dari tahun ke tahun dan semuanya para konglomerat atau pengusaha besar. Majalah Forbes edisi terbarunya, menyebutkan 25 orang- orang tekaya di Asia Tenggara (2004), 5 diantaranya berasal dari pengusaha Indonesia yaitu Rachman Halim – Gudang Garam (urutan ke-4), R Budi Hartono (urutan ke-8), Putera Sampoerna (urutan ke-17), Aburizal Bakrie (urutan ke-21) dan Lim Sioe Liong (urutan ke-25). Selain itu, dalam artikel di sebuah harian disebutkan bahwa orang sangat sulit menjadi miliuner hanya dengan menjadi pegawai apalagi dari harta warisan. Sedangkan peluang paling besar untuk itu (kaya) adalah dengan mendirikan bisnis dan mengelolanya hingga sukses karena diantara seribu orang pemilik bisnis terdapat satu orang miliuner (kaya), sementara diprofesi (tempat) lain peluangnya lebih dari seribu bahkan jutaan orang.

Saya memaklumi data diatas karena pegawai hanya menerima gaji dari majikan. Siapapun tahu bahwa majikan biasanya memiliki kekayaan lebih besar dari pegawai, karena ia mengatur gaji pegawai. Tentu ia berusaha mendapatkan lebih besar dari penghasilan pegawainya, sehingga pengusaha lebih cepat mendapatkan kekayaan dibandingkan pegawai. Argumen saya ini semakin dikuatkan dengan data statistik tahun 2002 yang menunjukkan bahwa sebanyak delapan puluh lima persen penghasilan pegawai hanya dibawah satu juta rupiah per bulan, dimana gaji sebesar itu masih (cukup) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pakaian dan makanan sehari-hari.

Penyebab lain mengapa seorang pegawai lebih lambat mendapatkan kekayaan dibandingkan pengusaha, karena seorang pegawai harus melalui jenjang karir tinggi untuk mendapatkan gaji besar, sementara untuk mendapatkan karir tinggi perlu perjuangan dan waktu lama. Rata-rata pegawai mencapai jabatan manager sampai direktur membutuhkan waktu lima sampai dua puluh tahun, bahkan lebih bila karir tidak berjalan mulus. Sedangkan jabatan manager belum cukup membuat orang kaya, karena bagaimanapun penghasilan manager terbatas (hanya berupa gaji), sementara pengusaha tidak terbatas dan ia yang mengatur gaji pegawai. Sementara dalam bisnis atau menjadi pengusaha, sukses dapat diraih lebih cepat, dalam waktu lima sampai sepuluh tahun dan penghasilan yang diperoleh pasti lebih besar dibanding dengan hanya sebagai manager sebuah perusahaan. Banyak kisah yang menunjukkan hal itu, dan sebagian kecil telah disebutkan pada bagian lain buku ini.

Data pegawai tahun 2003 pada sebuah perusahaan BUMN dengan jumlah pegawai kurang lebih 17.000 orang menunjukkan bahwa seseorang yang masuk dengan jabatan Assistant Manager (AMGR) pada usia 24 tahun, sebanyak 38 persennya dapat mencapai Manager (MGR) membutuhkan waktu 24 tahun (pada usia 48 tahun). Hanya 14 persen yang dapat meraih dalam waktu 9 tahun dan 2 persen untuk posisi Assistent Vice President (AVP) dalam waktu bekerja 14 tahun. Untuk sampai top posisi (Vice President) sebanyak lima puluh tiga persen membutuhkan waktu 28 tahun. Sementara itu, gaji manajer saat ini rata-rata tujuh juta lima ratus ribu rupiah sedangkan gaji assistant manager lima juta rupiah. Jadi untuk kenaikan gaji sebesar dua juta lima ratus tibu rupiah dari level assistant manager ke manager, seorang pegawai harus rela menunggu sampai puluhan tahun, sementara hal ini jarang terjadi pada pengusaha. Saya berkeyakinan bahwa kenaikan gaji dan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai jenjang manager pada perusahaan lain, tidak jauh berbeda dengan data tersebut.

Apabila ada seorang pegawai yang meraih sukses dalam waktu singkat dan memiliki kekayaan yang besar biasanya peluang itu lebih mudah diraih oleh mereka yang memiliki latar belakang yang sudah ‘mapan’ dari segi pendidikan, keturunan, maupun finansial. Latar belakang pendidikan mereka sangat bagus, misalnya dari universitas ternama di dalam maupun luar negeri dan mereka memiliki kesempatan bekerja pada perusahaan swasta atau asing bonafide dengan gaji tinggi. Orang tua mereka juga merupakan orang kaya atau sukses, sehingga banyak memberikan kemudahan baginya.

Berbeda dengan dunia wirausaha, karena sektor ini bisa dimasuki siapa saja, tidak membutuhkan pendidikan tinggi. Peluang sukses dalam dunia wirausaha juga lebih besar dibandingkan hanya menjadi pegawai. Siapapun bisa menjadi pengusaha sukses dalam waktu relatif singkat, sedangkan pegawai butuh waktu relatif lebih lama dan kebanyakan harus berpendidikan tinggi, karena realitanya sebagian besar pegawai yang tidak kuliah atau drop out hanya menjadi pegawai pabrik, staff administrasi biasa atau staff lainnya dengan penghasilan relatif kecil.

Anehnya, sebagian besar masyarakat masih memiliki persepsi kuat bahwa menjadi pegawai sangat ideal dan diharapkan membuat kaya. Kenyataanya tidaklah demikian, karena hanya pegawai pada level top manajemen perusahaan besar dan ternama yang (mungkin) dapat memperolehnya.Lebih aneh lagi ketika menyaksikan orang di sekeliling kita atau mengetahui dari berita media cetak atau media elektronik, seorang pegawai negeri, BUMN atau swasta lain memiliki kekayaan berlimpah, karena sangat tidak masuk akal jika dibandingkan dengan gaji resminya (dengan asumsi tidak mendapatkan warisan atau memiliki bisnis sampingan yang sukses).

Ternyata tidak sedikit yang memperoleh kekayaan dengan cara tidak benar yaitu korupsi!. Korupsi di masyarakat seolah menjadi budaya. Tidak mengherankan jika survei yang dilakukan lembaga survei internasional menunjukkan pada tahun 2003, Indonesia merupakan negara terkorup pada urutan keenam (dari bawah). Demikian juga survei Transparancy International pada tahun yang sama juga menempatkan Indonesia sebagai negara terkorup pada urutan ke-122 dari 133 negara. Lucunya, meskipun dianggap sebagai negara terkorup, tetapi sangat kecil sekali jumlah pelaku yang ditangkap dan diadili, apalagai diputus bersalah dan masuk penjara.

Sebagian besar masyarakat memang merasa silau melihat kekayaan, meskipun dengan jalan korupsi. Tidak sedikit yang akhirnya juga berusaha untuk mendapatkan dengan jalan sama, menjadi pegawai kemudian melakukan korupsi. Sebagian masyarakat masih memperdebatkan korupsi dengan mencampur – adukkan dengan istilah komisi atau fee, dengan batasan yang hampir tidak jelas. Pada zaman orde baru hingga sekarang, sangat populer istilah “TEMPAT BASAH” di lingkungan pegawai negeri, BUMN atau tempat lainnya, yang menggambarkan tempat kerja tersebut sebagai tempat yang memungkinkan seseorang mendapatkan komisi dari jasa pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Bisa juga berhubungan dengan anggaran belanja yang di mark-up, padahal seharusnya hak itu  tidak ada karena memang sudah menjadi tugasnya.

Bila indikasi kaya atau tidak seseorang dilihat dari seberapa lama kemampuannya bertahan tanpa bekerja secara phisik atau meninggalkan pekerjaan untuk beberapa waktu lamanya, maka seorang pegawai hanya bisa meraihnya saat pensiun dengan asumsi memiliki tabungan cukup dan investasi memadai. Hal ini berbeda sekali dengan seorang pengusaha atau investor yang dapat hidup tanpa harus bekerja secara phisik setiap hari karena usaha dan investasinya sudah ada yang mengelola.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here