Midnight Sale dan Budaya Rakus Konsumerisme

0
838

Akhir-akhir ini saya mendapatkan pemandangan yang aneh terhadap perilaku belanja masyarakat perkotaan. Midnight sale adalah hobi baru bagi para penggemar belanja. Midnight sale adalah penawaran diskon ‘besar-besaran’ hingga 80% yang dilakukan hanya pada malam hari. Biasanya mulai pukul 22.00 hingga 03.00 dini hari.  Program midnight saleini ternyata mampu menyedot ribuan orang untuk berbondong-bondong datang ke pusat perbelanjaan, hingga menyebabkan kemacetan jalan-jalan menuju pusat perbelanjaan dan antrian panjang saat berbelanja. Mereka rela antri berjam-jam dan berdesak-desakan demi untuk mendapatkan harga diskon untuk produk-produk fashion import bermerek.

Tentu saja, bagi kebanyakan orang, kondisi ini tidak masuk akal. Mengapa belanja harus malem dini hari,ngantri dan berdesak-desakan? Midnight sale yang dilakukan di Mall besar biasanya dimulai pukul 22.00 s.d 24.00 alias jam 10 malam sampai jam 12 malam. Secara nalar manusia, saat-saat itu adalah saat-saat terbaik untuk istirahat, berbagi cerita dongeng sebelum tidur kepada anak, atau bercerita perjalanan hidup selama hari ini  dengan pasangan (suami-istri), atau bahkan berkontemplasi. Belanja pada waktu dini hari, mencerminkan seolah tidak ada hari esok. Apalagi yang dibeli hanya pakaian sehari-hari, bukan kebutuhan pokok yang harus dipersiapkan karena adanya darurat perang misalnya.  Tidak hanya itu, pada acara midnight sale juga harus ngantri  dan berdesak-desakan, berjubel-jubel sambil berebut barang sesama calon pembeli. Program midnight sale ini biasanya dilakukan oleh pusat perbelanjaan untuk menyambut ulang tahun kota, liburan sekolah atau saat menjelang LEBARAN. Bahkan, kini program ini juga seringkali dilakukan diluar hari-hari besar itu.

Sementara itu, disaat yang sama kita menyaksikan orang-orang miskin berdesak-desakan ngantri untuk mendapatkan paket sembako seharga Rp50 ribu atau paket nasi bungkus untuk berbuka puasa. Sungguh ini sangat ironis sekali.

Apa yang sebenarnya  yang terjadi dengan fenomena seperti ini? Rupanya masyarakat kita sudah banyak yang terjangkiti penyakit konsumerisme akut. Mereka suka belanja hanya untuk memenuhi keinginan dan demi gengsi semata, atau demi kepuasan sesaat. Tak peduli apakah mereka membutuhkan atau tidak belanjaan itu. Apalagi, saat mata mereka mengetahui dan terbelalak dengan penawaran yang syurdiskon hingga 80 persen.  Mata manusia memang lebih sensitif melihat angka daripada deretan huruf. Orang akan lebih tertarik melihat spanduk/banner promosi: “Discount 80%”. Meski dibelakang tulisan itu ada tulisan misalnya  “selected items”  alias produk tertentu. Akibatnya, begitu mereka sudah datang di mall, barang diskon atau tidak, seringkali diserbu pembeli.

Dengan diskon yang begitu besarnya, siapa yang tidak tertarik? Apalagi barang yang disodorkan merupakan barang yang katanya branded alias bermerek. Selain itu, pemasar juga lebih paham dengan perilaku manusia yang selalu takut akan kelangkaan dan kekurangan. Maka dibuatlah waktu yang terbatas, Midnight sale yang hanya beberapa jam. Dengan cara menakut-nakuti karena keterbatasan barang dan waktu promo inilah yang mendorong pembeli seringkali menjadi kalap. Padahal, acara-acara semacam ini seringkali terjadi, sehingga seharusnya kita tidak terpancing dengan promo ‘menyesatkan’ seperti itu Tapi itulah perilaku manusia rakus abad ini.

Apa Beneran Sale?

Pertanyaannya, apakah barang-barang yang katanya bermerek dari luar negeri itu bener-bener diskon? Mungkin saja benar diskon itu, tapi bisa juga tidak benar. Bisa juga karena sebenarnya barang-barangreject/cacat yang sebenarnya memang harganya murah.  Selain itu, Midnight Sale biasanya menawarkan diskon sampai 80% tersebut hanya untuk barang tertentu (selected items). Biasanya, barang yang ditawarkan adalah barang branded yang kurang up to date, stock lama. Bisa juga penjual membohongi konsumen, karena produk itu bukan produk yang sehari-harinya yang dijual di mall tapi produk ‘baru’ yang hanya didatangkan saat sale saja. Oke, kalau memang itu beneran diskon, tahukah anda bahwa sesungguhnya produk itu masih menguntungkan penjual? Karena harga produk fashion biasanya 10 kali lipat dari modal  produksinya, khususnya fashion branded. Artinya, kalau mereka memproduksi baju biayanya Rp20 ribu maka biasanya mereka menjual 10 kali lipatnya atau menjadi Rp200 ribu. Jadi kalaupun di diskon 80 persen, atau harganya hanya Rp40 ribu, maka penjual toh masih untung.  Nah,cilakanya kalau produk-produk itu adalah produk-produk yang sengaja didatangkan untuk midnight sale, maka konsumen dibohongi!

Karena itu, apakah kita harus lapar mata untuk sesuatu yang berbau SALE? Harus kah kita kalap dengan slogan MIDNIGHT SALE? Kalau diteliti secara cermat, sebenarnya tidak ada bedanya antara midnight saledengan sale-sale regular yang sering dilakukan pengelola mall pusat perbelanjaan. Sebab barang yang disale juga masih yang itu-itu juga. Kenapa jadi kalap dan rakus?

Apalagi, mengingat  waktu belinya rebutan, berdesak-desakan dan dilakukan malam hari, seringkali membuat kita tidak teliti. Karena sibuk berebut dengan orang lain, anda bisa lupa memeriksa barang itu apalagi berbarengan dengan kantuk yang menyerang. Bisa jadi setelah  kita beli, kita menyesal karena saking semangatnya belanja, sampai di rumah kita kecewa dengan barangnya. Pasalnya, tidak sesuai dengan ukuran, tidak cocok warnanya dan sebagainya.

Berpikir Logis

Mari kita berfikir logis. Dalam hal belanja khususnya fashion, kita harus tetap memperhatikan kaidah-kaidah pengelolaan keuangan yang rasional. Salah satunya adalah prioritas kebutuhan, bukan prioritas keinginan hawa nafsu..

Kita harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi, seperti makan, susu anak dan biaya sekolah dan pakaian secukupnya. Sedangkan keinginan tidak harus dipenuhi karena belum tentu merupakan kebutuhan mendesak. Apalagi bila keinginan itu dapat memengaruhi kondisi keuangan kita dan barang yang kita beli tidak memberikan manfaat yang signifikan.

Tapi kalau anda masih pingin sesekali mengetahui bagaimana rasanya belanja pada midnight sale, atausale-sale sejenisnya, tidak ada salahnya anda mempertimbangkan saran berikut ini:

Pertama, bila anda termasuk orang tipe impulsif buyer (cepat tertarik terhadap produk yang dipajang dan selalu ingin membelinya) sebaiknya anda tidak membawa ATM dan kartu kredit, tapi cukup bawa uang secukupnya sesuai rencana anda.

Kedua, beli sesuai kebutuhan. Jangan mentang-mentang diskon, anda menghambur- hamburkan duituntuk sesuatu yang belum tentu diperlukan. Kalau perlu siapkan daftar rencana belanja anda.

Ketiga, sebaiknya anda datang lebih awal untuk melihat/memilih terlebih dahulu barang yang hendak akan anda beli sebelum midnight sale berlangsung, sehingga ketika TENG  waktunya tiba, anda tinggalmenyamber barang yang sudah anda pilih/coba sebelumnya. Dengan cara ini, anda tidak harus datang malam hari dan berebut dengan konsumen lainnya.

Keempat, biasakan membeli barang dengan merk yang biasa anda beli sebelumnya, untuk menghindari perbedaan ukuran dan juga mempersingkat waktu buat mencoba. Tapi bila anda akan membeli barang yang bukan merk langganan anda, sebaiknya anda mencobanya dengan tepat. Bila tidak memungkinkan, sebaiknya batalkan niat anda membeli barang itu karena hanya akan mendatangkan penyesalan sesampai di rumah.

Kelima, barang yang tampak indah di etalase, bukan berarti akan sama indahnya saat anda pakai. Karena itu jangan percaya begitu saja sama SPG yang seringkali bilang ‘bagus’ dan ‘cocok’. Sebaiknya anda tanyakan pada pasangan atau teman anda.

Demikian, semoga bermanfaat

oleh Safak Muhammad

sumber gambar :
http://shopping.indiatimes.com/shopstatic/shopping/images/midnight_main_img.jpg” width=”304″ height=”348″>

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here