Mitos Entrepreneur

0
416

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Entrepreneur (wirausahawan) memiliki banyak definisi. Salah satunya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wirausahawan adalah orang yang pandai atau berbakat mengenai produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya”. Sedangkan menurut Thomas N Zimmerer dkk., wirausahawan adalah seorang yang menciptakan sebuah bisnis baru dengan mengambil risiko dan ketidakpastian demi mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan cara menggabungkan sumber daya yang diperlukan untuk mendirikannya.

Berdasarkan pengertian diatas, untuk menjadi seorang entrepreneur tangguh dibutuhkan komitmen yang tinggi dan etos kerja yang baik. Seorang entrepreneur harus memiliki sifat berani mengambil risiko, tidak mudah putus asa, menyukai tantangan, kreatif inovatif, memiliki mimpi atau visi jauh ke depan, selalu berusaha dan memberikan yang terbaik dalam hidupnya. Persyaratan ‘berat’ itulah yang (mungkin) menyebabkan banyak orang tidak memilih entrepreneur sebagai jalan hidup. Sebagian besar akhirnya memilih hanya menjadi pegawai, meskipun dengan konsekuensi tidak dapat bebas berekspresi dan berpenghasilan terbatas.

Demikian juga,adanya beberapa kasus pelanggaran etika bisnis oleh sebagian pengusaha justru menjadi acuan untuk menilai bahwa pengusaha itu egois, rakus, agresif dan lain sebagainya sehingga terkesan menjadi pengusaha itu banyak negatifnya. Padahal dimanapun posisi seseorang, selalu ada kemungkinan pelanggaran etika, jika tidak memiliki komitmen yang kuat untuk memperhatikan etika dan moral.

Tidak dapat dipungkiri bahwa masih banyak juga orang beranggapan bisnis adalah bisnis, tidak ada kaitannya dengan etika dan moral, bahkan ada yang mengatakan ”mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal”. Dalam berbisnis atau berwirausaha, kita jangan terjebak pada mitos bisnis yang salah seperti itu. Bisnis harus dilakukan dengan memperhatikan rambu -rambu etika dan moral. Sebab jika sekali kita melanggarnya, kita akan ketagihan dan semakin terjerat dalam kubangan lumpur maksiat. Ibarat candu, membuat ketagihan penggunanya. Bila sudah demikian dan kejahatan kita diketahui pelanggan bahkan aparat hukum, maka sangat sulit untuk mendapatkan kembali kepercayaan dan bisnis kita akan hancur selamanya.

Selain itu, motivasi menjadi wirausaha atau pengusaha hendaknya tidak money oriented tetapi inovatif and quality oriented, berusaha memberikan terbaik dan bermanfaat bagi masyarakat luas. Dengan demikian uang dengan sendirinya akan ‘mengejar’ kita. Akan tetapi jika motivasi kita hanya money oriented atau hanya berorientasi pada keuntungan uang maka kita akan menjadi oportunis. Banyak orang takut menjadi pengusaha juga karena takut risiko (gagal) dan penghasilan tidak tetap (berfluktuatif) sehingga merasa tidak aman. Marilah kita memahami alasan ini dengan seksama. Bukankah pegawai yang memiliki satu penghasilan juga menghadapi risiko? Mudah-mudahan kita masih ingat kasus PT. Dirgantara Indonesia (BUMN) yang memecat lebih dari 6000 pegawai dan nampaknya mereka yang dipecat tidak siap menghadapi itu (risiko pemecatan) sehingga harus ‘mati-matian’ atau sampai ‘titik darah penghabisan’ berusaha agar tidak dipecat, minta dipekerjakan kembali.

Demikian juga kita yang saat ini menjadi manager atau direksi pada sebuah perusahaan, bukankah kita tahu risikonya akan digantikan sewaktu-waktu oleh orang lain? Sekarang bandingkan dengan seorang pengusaha yang memiliki usaha dengan jumlah pelanggan ratusan bahkan ribuan pelanggan, yang berarti juga ratusan atau ribuan sumber penghasilan? Tentu pengusaha akan menghadapi lebih kecil risiko dibandingkan dengan pegawai. Tetapi bagaimana jika semua pelanggan itu hilang dan kita mengalami kegagalan total? Baiklah, mari kita mulai hitung secara matematis, katakanlah penghasilan pertahun pengusaha lima kali lipat lebih besar dari pegawai pada tahun yang sama. Dengan asumsi gaya hidup mereka sama dan sisanya ditabung atau diinvestasikan ke usaha lain, maka pasti pengusaha telah menghemat waktu kerja empat tahun dibanding pegawai.

Menjadi pengusaha memang sulit, tetapi bukan berarti kita tidak bisa menjadi wirausaha baik dengan tetap memperhatikan etika dan moral. Oleh karena itu, siapapun yang memiliki komitmen untuk menjadi pengusaha hendaknya tidak ragu lagi dalam melangkah karena kemanapun kita melangkah selalu ada jalan.

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here