Pendidikan Tentang Uang

0
308

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

“Sembilan dari sepuluh mahasiswa di Amerika Serikat berakhir dengan bekerja di bidang yang tidak mereka ambil selama belajar di kampus”.

Sistem pendidikan hanya menghasilkan manusia seragam dan tidak kreatif sehingga alumni yang diciptakan sebagian besar hanya menjadi manusia yang memiliki ‘ketergantungan’ kepada orang lain dan tidak memiliki kemandirian untuk membangun bisnis atau menemukan jati diri dan menggali potensi yang dimiliki. Tanda – tanda ini bisa disimak dari banyaknya lulusan sarjana yang masih kebingungan setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka berbondong – bondong melamar berbagai lowongan pekerjaan dan jarang berpikir untuk berusaha mandiri dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Wajar bila Larry Ellison, orang kedua terkaya di dunia mengkritik pedas dengan mengatakan, “…… jadi akan saya biarkan anda mencari pekerjaan yang mengibakan, dimana gaji anda ditandatangani oleh mantan teman sekolah anda yang droup out dua tahun lalu”. Ironisnya lagi, ada beberapa kasus yang sempat direkam oleh media cetak ataupun elektronik, dimana seorang pemuda nekad melakukan bunuh diri karena frustasi tidak mendapatkan pekerjaan setelah sekian puluh surat lamaran kerja dilayangkan ke berbagai perusahaan.

Selama ini problema mendasar ditengah masyarakat bukanlah kekurangan supply tenaga kerja sehingga harus berusaha keras menyempurnakan sistem pendidikan agar alumninya siap kerja. Problemanya adalah bagaimana masyarakat dapat memiliki kemampuan mendapatkan dan mengelola uang dengan baik, terutama dengan mengelola bisnis sendiri (berwirausaha), tetapi justru sistem pendidikan tidak mengajarkan. Kalaupun ada materi pelajaran ekonomi maupun sistem pembukuan, manajemen atau akuntansi dan lainnya, materinya kurang aplikatif.

Doktrin untuk menjadi pegawai, bekerja keras dan bekerja keras lagi, itulah yang lebih banyak disampaikan di sekolah untuk mendapatkan uang. Bukan bekerja secara smart dan cerdas serta mengetahui rahasia dan kekuatan uang, sehingga jargon yang sering kita dengar adalah “Jadilah pegawai dengan dedikasi tinggi, maka akan mendapatkan gaji tinggi pula”. Atau pepatah ‘Hemat pangkal kaya’, tetapi sekolah kurang memberikan cara bagaimana berhemat yang baik sehingga kita dapat mengelola keuangan yang ada dengan optimal. Pepatah ini memang tidak salah tetapi apakah hanya berhemat kemudian orang otomatis menjadi kaya? Tentu harus ada kemampuan lain untuk mengelola uang tersebut dan tergantung pada penggunaannya. Apakah untuk membeli aset – aset produktif ataukah konsumtif, itulah penentunya. Namun hal inilah yang kurang diajarkan di sekolah.

Berkenaan dengan hal diatas, seorang dosen yang juga pengusaha pernah mengeluhkan kepada saya tentang ketidakmampuan mahasiswanya membuat rencana keuangan, apalagi mengelola keuangan. Sebagai contoh sederhana, saat sang dosen memberikan pertanyaan, “Jika anda memiliki uang seratus juta rupiah, akan anda gunakan untuk apa saja?” Ternyata sebagian besar akan menggunakan untuk berlibur, membeli mobil atau keperluan konsumtif lainnya. Ada juga yang berorientasi bisnis dengan membuka rekening deposito maupun investasi properti (untuk disewakan) tetapi jarang yang berpikiran membuka usaha baru untuk mengembangkan uangnya.

Anehnya, dengan kondisi sistem pendidikan yang demikian itu kita masih berharap banyak dari sekolah atau kuliah untuk mengantarkan kesuksesan atau menjadi kaya. Ada seorang pembicara terkenal pernah mengatakan, keliru besar apabila kita belajar mencari uang atau menjadi kaya kepada guru di sekolah / kampus karena mereka sendiri (guru) juga masih (maaf) miskin, dengan gaji pas-pasan. Belajar menjadi kaya atau apa pun harus dengan ahlinya. Kalau ingin kaya harus belajar dengan orang kaya. Ingin jadi kyai harus belajar ke ulama. Ingin jadi professor harus belajar ke profesor yang terkenal, dan seterusnya.

Pendidikan kecerdasan keuangan penting untuk mengarahkan seseorang agar berpikir bijak dalam membelanjakan uang untuk hal – hal produktif, tidak konsumtif belaka. Pendidikan tentang keuangan juga akan mengarahkan kita untuk tidak menjadi hamba uang, tetapi bagaimana uang dapat menjadi budak kita yang bekerja sepanjang hari, dua puluh  empat jam untuk kita.

Berbagai indikasi sekolah tidak mengajarkan tentang uang dapat dilihat dari berbagai alasan yaitu : Pertama, belum ada kewajiban materi kewirausahaan di sekolah umum. Kalaupun ada materi seperti pelajaran ekonomi, manajemen dan pemasaran, materinya hanya sebatas diajarkan namun kurang aplikatif serta tidak dengan praktek bisnisnya. Guru atau dosen pun belum pernah praktek bisnis sehingga mereka hanya mengajarkan secara text book;

Baca juga :

Kedua, proses pendidikan dari SD – Universitas, selama enam belas tahun tidak memberikan arahan kepada siswanya untuk menentukan cita-cita secara spesifik di masa depan, sehingga siswa melangkah tanpa arah yang jelas. Bersekolah hanya dianggap sebagai kewajiban dan kelaziman dimasyarakat. “Pokoknya sekolah, mau jadi apa terserah nanti! Orang pinter pasti enak hidupnya!” Begitu guru dan orang tua mendoktrin kita. Padahal cita- cita sangat penting untuk mengetahui potensi diri, fokus pikiran dan petunjuk untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan sebagai modal meraih sukses;

Ketiga, terdapat kesenjangan yang tajam antara teori atau pelajaran dengan dunia nyata; keempat, komitmen untuk menumbuhkan kreativitas dan inovatif masih rendah dari sistem pendidikan yang ada, padahal ini sangat diperlukan untuk menumbuhkan mental berani mencoba dan tidak hanya bermental ‘aman’. Kesuksesan dan kekayaan membutuhkan sikap inovatif, kreatif dan inilah ciri utama seorang entrepreneur.

Sebagai salah satu bukti bahwa terdapat kesenjangan antara teori dan praktek dapat kita lihat dari banyaknya lulusan dari universitas yang bekerja tidak sesuai dengan jurusannya ketika ia kuliah. Saya memiliki banyak teman yang memiliki beragam jurusan pendidikan, padahal kami bekerja di sebuah bank BUMN. Bahkan ada yang berpendidikan ilmu pendidikan (Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan / IKIP), Sastra Inggris, Geologi, Pertanian dan lainnya. Lalu apa relevansinya antara jurusan saat dulu kuliah dengan pekerjaannya saat ini? Berapa persen ‘penyimpangan’ seperti ini di Indonesia, saya belum memiliki data secara pasti. Namun menurut Billi PS. Lim yang mengutip sebuah hasil penelitian di Amerika menyebutkan bahwa sembilan dari sepuluh mahasiswa di Amerika Serikat berakhir dengan bekerja di bidang yang tidak mereka ambil selama belajar di kampus.

10+ Model Pos Satpam Besi Portable dan Harganya

Di Indonesia, banyak juga ditemukan orang sukses tanpa harus terikat dengan spesifikasi ‘ilmu’ di sekolah. Salah satunya kita bisa menyimak kisah pengusaha Ning Harmanto – 47 tahun, pemilik perusahaan obat tradisional Mahkota Dewa yang cukup sukses dan saat ini sedikitnya memiliki delapan puluh konter yang tersebar di hampir seluruh propinsi Indonesia termasuk dua diantaranya di Malaysia dan Singapura. Ia tidak berpendidikan formal ilmu kesehatan atau kedokteran, tetapi Bahasa Inggris dan Phd.

Jika memang demikian kondisinya, mengapa kita harus bersusah payah untuk sekolah dengan ilmu yang tidak pernah kita gunakan didalam kehidupan sehari-hari? Mari kita renungkan bersama!

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here