Pengusaha yang Tetap Miskin

0
86

Selamat Pagi Sobat, apakah anda ingin kaya tanpa bekerja ? jika ya, yuk silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Anda mungkin protes, kenapa buku ini hanya menyuguhkan kegetiran menjadi pegawai dan memuji – muji pengusaha. Anda mungkin berdalih bahwa tidak sedikit pengusaha di negeri ini yang taraf hidupnya masih biasa-biasa saja, terutama pengusaha mikro yang tersebar sebagai kaki lima, bahkan kondisinya tidak lebih baik dari pegawai. Saya tidak menyangkal bahwa kenyataan itu memang ada. Hal ini terjadi karena mungkin mereka memiliki pendidikan dibawah rata-rata dan tidak berusaha belajar meningkatkan kemampuannya. Mereka menekuni usaha tidak didasarkan pada kesadaran dan kemauan yang tinggi untuk maju, tetapi lebih karena ‘keterpaksaan’ akibat tidak dapat bekerja di sektor formal yang selalu mensyaratkan pendidikan tinggi. Mereka tidak memiliki kreativitas yang memadai karena masih bermental pegawai.

Namun demikian, bagi yang bekerja disektor informal seperti kaki lima, dapat juga memiliki penghasilan lebih besar dibandingkan dengan bekerja sebagai buruh pabrik, dengan gaji hanya sebesar Upah Regional Minimum (UMR) atau pegawai lainnya. Kesimpulan ini saya peroleh dari hasil obrolan dengan beberapa pedagang kecil dan kaki lima, saat saya bekerja pada bagian pemasaran kredit mikro di sebuah bank. Bandingkan juga dengan data statistik 2002 yang menunjukkan sebanyak lima puluh satu persen pegawai memiliki pendapatan dibawah lima ratus ribu per bulan.

Seorang penjual rujak buah yang mangkal di dekat Pasar Bendungan Hilir Jakarta memperoleh penghasilan bersih rata-rata seratus lima puluh ribu setiap hari atau hampir empat juta rupiah per bulan. Dia juga mengatakan bahwa anaknya juga sebagai pedagang rujak di daerah perkantoran Setiabudi – Jakarta, penghasilannya lebih besar, rata-rata enam juta setiap bulannya. Mungkin anda tidak percaya tantang apa yang saya ceritakan ini, tetapi itulah fakta. Akan tetapi, apakah penghasilan cukup besar, setara dengan gaji manajer di perusahaan dapat merubah nasib mereka menjadi lebih baik? Belum tentu. Mereka tidak berhasil mengembangkan usahanya menjadi lebih besar lagi.

Kenapa ini bisa terjadi? Jawabannya diceritakan penjual ini. Sebagian besar uang yang diperoleh untuk membangun rumah besar di kampung. Mereka juga sudah puas dengan hasil yang dicapai saat ini. Apabila cukup uang, mereka pulang kampung untuk istirahat panjang dan menikmati uangnya. Mereka mulai bekerja kembali apabila uangnya mulai menipis, bahkan habis. Uang tidak diputar kembali dengan membuka cabang atau investasi lainnya. Ia tidak bekerja dengan ilmu, tetapi lebih banyak mengandalkan kekuatan otot. Bekerja hanya sebagai rutinitas saja. Begitu seterusnya, dan akhirnya mereka tetap saja miskin.

Selain itu, kerja mereka tidak diimbangi dengan kreativitas, karena (mungkin) pendidikannya hanya sekolah dasar (dan tidak mau belajar) dan keterpaksaan bekerja di sektor tersebut. Mereka bekerja disana karena sektor formal tidak menerimanya. Tanpa adanya kreativitas tentu tidak akan melahirkan ide-ide baru yang akan melahirkan cara-cara, produk atau jasa baru. Schwart dalam buku The Magic of Thinking Big mengatakan, “Banyak orang yang ambisius melaksanakan hidupnya dengan tekun, namun mereka pada akhirnya hanya mendapatkan kekalahan, karena mereka tidak mengadakan eksperimen dengan cara-cara atau pendekatan-pendekatan yang baru”. Mengapa ini berlanjut terus menerus bagaikan lingkaran setan? Saya menduga karena mereka sudah merasa cukup puas dengan kondisi saat ini dan tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, tetapi hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup sesaat, jangka pendek

Meskipun ada pengusaha mikro, kecil dan menengah yang memiliki sikap seperti itu, tetapi diantara mereka juga masih banyak yang sudah memiliki manajemen keuangan cukup baik, diantaranya mengelola uang dengan cara ikut arisan, investasi lagi dan sebagainya. Mereka juga ada yang cukup kreatif dan cerdik sehingga usahanya dapat berkembang dengan baik.

Masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here