Perencanaan Pengeluaran Part 2 (Menabung dan Investasi)

0
229

Selamat Pagi Sobat, berikut lanjutan dari bagian artikel sebelumnya ya silahkan di baca dengan seksama…… 🙂

Prinsip pengelolaan keuangan sebaiknya tidak hanya fokus bagaimana caranya mendapatkan penghasilan tetapi juga pada pengeluaran yang baik. Mengapa harus memberikan perhatian khusus terhadap pos pengeluaran keuangan? Karena ada beberapa faktor berikut ini :

  1. Pertanggungjawaban di akhirat. Harta adalah amanat sehingga setiap rupiah yang dibelanjakan harus dipertanggung jawabkan kepada Allah .
  2. Agar setiap rupiah yang dibelanjakan memberi manfaat sebesar – besarnya (berkah). Orang Islam harus memperhitungkan setiap rupiah pengeluaran, karena dalam konsep harta – sebagaimana dibahas sebelumnya, adalah pertanggungjawaban di akhirat. Kita tidak boleh semau gue membelanjakan uang, seperti membeli minuman keras, pergi ke tempat pelacuran, berjudi dan lainnya. Sekecil apa pun tetap tidak boleh, No way!.
  3. Godaan konsumerisme. Iklan ada dimana – mana, membujuk kita dan anak – anak untuk mengikuti keinginan penjual atau pemasang iklan. Barang – barang yang seharusnya tidak mendesak untuk dibeli, dengan adanya iklan dan dorongan hidup konsumerisme barang tersebut menjadi penting dihadapan kita. Akibatnya kita merasa harus membeli barang – barang tersebut. Oleh karena itu kita harus mampu menentukan pos-pos prioritas dan pos pelangkap. Pos – pos pengeluaran yang biasanya paling besar menguras kantong adalah elektronik, telepon, handphone, pakaian, makanan, hiburan, mobil. Sebagai contoh pakaian, seringkali merasa harusganti setiap bulan, meski kondisi pakaian masih baik. Membeli pakaian setiap bulan hanya untuk mengkuti trend mode.
  4. Kenaikan harga barang. Dalam perekonomian yang normal saja, kenaikan harga barang bisa terjadi akibat inflasi. Apalagi dalam kondisi ekonomi seperti Indonesia yang masih rentan terhadap perubahan ekonomi dunia. Barang – barang gampang sekali naik karena sebagian besar produk yang dijual di negeri ini adalah barang impor. Melemahnya rupiah akan berdampak signifikan kepada kenaikan harga barang. Kenaikan harga barang – barang bisa disebabkan oleh dua faktor. Pertama karena adanya kenaikan permintaan. Dalam bahasa ekonomi, kenaikan harga barang yang disebabkan oleh kenaikan permintaan disebut demand pull inflation atau inflasi karena kenaikan permintaan. Kedua, kenaikan harga karena adanya tekanan biaya. Kenaikan harga akibat tekanan biaya disebut cost push inflation. Anda tentu ingat ketika pada 1 Oktober 2005 lalu pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) rata-rata hampir 100 persen. Premium yang sebelumnya Rp.2400 per liter menjadi Rp.4500,- per liter. Kenaikan BBM menambah biaya dalam memproduksi barang dan jasa. Akibatnya pasti, pengusaha ramai – ramai menaikkan harga barang produksi dan jasanya. Ongkos yang paling heboh duluan saat kenaikan harga BBM adalah kenaikan ongkos transportasi, kemudian diikuti barang – barang lainnya. Pokoknya pada naik semua! Kalau sudah begini, pengeluaran kita meningkat untuk membeli barang dan jasa yang sama. Bila kita masih mampu membeli, tidak ada masalah. Sebaliknya kita tidak mampu mengimbangi kenaikan harga itu, bisa dipastikan standar hidup menjadi turun. Betul khan? Karena kita harus mengurangi konsumsi atas barang dan jasa yang sama. Misalnya bila sebelum kenaikan harga kita bisa makan daging 3 hari sekali, sekarang mungkin hanya 2 minggu sekali. Pertanyaannya sampai kapan bisa bertahan untuk mengurangi konsumsi atas barang dan jasa itu? Bila kebutuhan atas sesuatu barang tidak mendesak, tidak ada masalah untuk dikurangi. Tetapi kalau mendesak seperti susu anak-anak, gimana? Maka disinilah perlunya menata ulang strategi pengeluaran.

Eits.. masih ada lanjutan artikel nya loh…. Coming Soon 🙂

Mau manage uang dengan baik dan hutang lunas? baca buku Bebas Hutang Cara Taiichii

Sumber gambar : Google

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here