Pos Pengeluaran untuk Berbagi

0
801

Tulisan ini telah dimuat di Majalah Nurul Hayat, Surabaya edisi Oktober 2009. Meski demikian, menurut kami tulisan ini masih relevan dengan kekinian. Jadi tidak ada salahnya kami posting disini.

Suatu hari, seorang teman yang habis shalat Jumat mengatakan kepada saya, “Mas, tadi lihat kan? Beberapa orang masukin uang ke kotak amal dengan uang receh Rp500,-? Orang mau masuk surga koknyumbang ke mesjid hanya Rp500,-. Emangnya surga harganya semurah itu?” Mendengar omongan itu, saya balik bertanya, “Emangnya anda tahu, kalau mereka itu hanya nyumbang ke mesjid Rp500,-? “Mungkin aja, lha yang saya lihat mereka pegang uang koin dan begitu uang masuk, kotak amalnya berbunyi”, jawabnya cepat.  Kemudian teman saya ini menambahkan, “Bayangkan, berapa nilai investasi akhirat kita (sedekah) bila kita hanya memasukkan Rp500,- atau Rp1000,- per hari Jumat? Kalau rata-rata hari Jumat ada 4 kali dalam sebulan atau 48 kali dalam setahun, maka dengan asumsi Rp1000,- per Jumat, maka kita hanya mengumpulkan uang investasi akhirat Rp48.000,- per tahun. Apakah uang ini cukup ‘membeli’ surga? Bukankah uang sebesar ini hanya cukup untuk membeli kaos oblong?”

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar saudara-saudara kita, memberikan uang amal ‘sekedarnya’ saja. Dengan alasan yang penting ikhlas, maka untuk sedekah tidak harus besar. Karena itu, kita juga sering mendengar ungkapan, “daripada sedekah besar tidak ikhlas, lebih baik sedikit tapi ikhlas”. Ungkapan ini tentu saja tidak sepenuhnya benar. Kenapa uangkapan itu tidak kita dibalik sehingga menjadi, “lebih baik sedekah besar ikhlas, daripada sedekah kecil ikhlas?”.

Banyak factor yang menyebabkan kondisi seperti diatas bisa terjadi, diantaranya karena factor pemahaman yang rendah terhadap manfaat sedekah (berbagi), atau karena kita tidak berpikir untuk masa depan ‘akhirat’. Selain itu, dalam pengelolaan keuangan konvensional, seringkali kita lupa untuk membuat pos khusus berbagi (sedekah). Kita seringkali sibuk merencanakan pengeluaran rutin seperti kebutuhan pokok, sandang, biaya pendidikan, biaya kesehatan hingga biaya cadangan. Padahal, sesungguhnya kehidupan ini bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi bagaimana kita bisa berbagi dengan sesamanya. Selain itu, apa yang kita lakukan didunia ini adalah untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat. Persiapan di akhirat, tidak cukup hanya dengan shalat, dan berbuat baik dengan sikap dan perilaku. Akan tetapi kita juga harus ‘membeli’ akhirat dengan harta yang kita miliki.

Ibarat membangun rumah tinggal di dunia yang membutuhkan uang dan tabungan, maka untuk mendapatkan rumah tinggal di surga juga perlu uang dan investasi. Alangkah bodohnya bila kita tidak mampu membangun rumah diakhirat, sementara kita hanya sibuk mengurus keperluan dunia saja. Selain itu, hal ini juga sesuai dengan perintah shalat yang selalu diikuti dengan perintah zakat. (Aqimish-shalat, waatuzzakat). Karena itu, dalam proses pengelolaan keuangan, kita harus membuat perencanaan dengan menyisihkan prosentase tertentu setiap bulannya untuk investasi akhirat. Dengan membuat perencanaan, menyisihkan sebagian uang untuk berbagi setiap bulan, maka kita tidak lagi ‘asal-asalan’ dalam beramal. Karena ada target penyisihan uang untuk berbagi setiap bulan, dan kegiatan ini akan menjadi kebiasaan/rutinitas.

Berapa seharusnya target uang yang harus disisihkan untuk berbagi (sedekah)? Tidak ada patokan yang baku. Besar kecilnya uang untuk sedekah ini tentu sangat tergantung pada tingkat kesadaran masing-masing orang. Semakin seseorang menyadari betapa pentingnya sedekah, maka semakin besar uang yang disisihkan untuk sedekah. Orang yang demikian ini biasanya menyadari bahwa memberi, beramal dengan berbagi  kepada sesamanya, adalah sangat bermanfaat bagi dirinya sendiri. Baik untuk diakhirat nanti, maupun untuk mempermudah urusan-urusan di dunia seperti menolak bala, meningkatkan kekayaan ataupun manfaat lainnya.

Besarnya pos pengeluaran untuk berbagi (sedekah) ini, harus ditetapkan diluar kewajiban zakat. Dengan demikian, kalau misalnya kewajiban zakatnya 2,5% (bagi gaji pegawai), maka pos pengeluaran untuk berbagi harus lebih besar dari itu, misalnya 5%, 10% atau 20% dari penghasilan bulanan. Sebagai contoh, bila penghasilan anda sebulan Rp5 juta, dan anda menetapkan pos untuk berbagi sebesar 5%, maka anda harus menyisihkan sebesar Rp250 ribu, ditambah untuk zakat Rp125 ribu (total Rp375 ribu) . Uang ini harus anda sisihkan saat anda menerima gaji bulanan. Kemudian, uang Rp250 ribu ini bisa anda gunakan untuk berbagi, misalnya nyumbang bencana alam, seperti gempa, sumbangan kotak amal mesjid, panti asuhan, atau tempat amal lain yang anda suka. Dengan cara ini, maka kita tidak lagi memasukkan uang koin Rp500,- ke kotak amal, karena sumbangan kita sudah lebih besar jumlahnya.

Bila dengan cara ini masih membuat kita lupa untuk menyisihkan uang untuk berbagi, kita bisa bekerja sama dengan lembaga/yayasan amal tertentu, untuk kontrak sumbangan rutin kepada lembaga/yayasan tersebut, dan minta yayasan amal ini untuk menagih setiap bulan. Banyak yayasan yang bersedia melakukan hal ini. Beberapa yayasan juga menyediakan paket berbagi seperti paket orang tua asuh dengan setoran rutin tiap bulan, atau paket berbagi lainnya.

Dengan cara ini, maka kita tidak lagi ‘asal-asalan’ dalam beramal. Uang berbagi tidak lagi berdasarkan pada perasaan enak atau tidak enak, tetapi kegiatan ini sudah menjadi bagian terencana dari pengelolaan keuangan kita. Sehingga amalan kita menjadi terarah dan lebih bermanfaat. Dengan cara ini pula, berarti kita juga lebih menyiapkan masa depan akhirat dengan lebih baik.

oleh safak muhammad

image : http://advantageconceptsmd.com/advantage-concepts-inc-believes-in-the-power-of-philanthropy/

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY